Katanya Generasi Milenial Itu Pada Pengin Nikah Muda, Apa Benar tuh?

Kamu tim nikah muda atau nikah tua nih? Atau golput?

:

Semenjak kemunculannya di awal September 2015, Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) udah berhasil menggaet sekitar 900 ribu pengikut. Kata keterangan di situs resminya sih, La Ode Munafar menggagas ITP sebagai bentuk gerakan perjuangan menghapus budaya pacaran dari Indonesia. Konten Instagram ITP pun kebanyakan berisi peringatan akan bahaya pacaran, yaitu zina dan hamil di luar nikah.

Daripada pacaran, ITP memberikan solusi alternatif: menikah langsung aja.

Dan jangan salah, hal ini sedikit banyak ikut memengaruhi pola pikir generasi milenial lho. Nggak sedikit dari mereka yang melangsungkan pernikahan di usia yang masih sangat muda, sekitar 20-an awal. Bahkan beberapa teman saya menikah di usia 18-an.

Jadi penasaran nggak sih, kira-kira apa alasan mereka begitu mantap masuk ke jenjang selanjutnya di usia muda? Buat menjawabnya, saya pun melakukan survey kecil-kecilan terhadap teman-teman saya yang memutuskan untuk nikah muda. Dari situ, saya menemukan beberapa alasan yang mengejutkan, Saudara-saudara! Kalau di judul konten yang pakai clickbait sih, istilahnya itu, “Nggak nyangka, bikin kaget! Bikin terperangah!”

“Monyet aja dibikin melongo”/via unsplash.com/Jamie Haughton

Kenapa ada orang yang ingin menikah di umur (yang terlalu) muda?

Seorang teman saya, sebut saja namanya Sutirah Ningrum, mengatakan bahwa ia menikah di usia muda karena capek.

“Hah??? Capek kok malah menikah, bukannya istirahat?

Lebih tepatnya sih, katanya dia capek dengan kehidupannya sendiri.

Dia capek bekerja dan pengin segera diayomi oleh lelaki idamannya. Dia pun capek ditanya, “Kapan nikah?” oleh keluarganya. Ditambah lagi dia udah menjalin hubungan dengan lelaki yang sama selama dua tahun lamanya. Selain itu, yang paling membuat capek adalah teman-temannya banyak yang udah pada menikah! Capek hati datang ke undangan, tapi dirinya tak kunjung mengundang.

Tapi di usia pernikahannya yang ke-6, dia telah belajar banyak. Terutamanya dia belajar kalau orang lagi capek, dia harusnya istirahat, bukannya menikah. Jujur aja, katanya, setelah menikah, dia malah makin capek. Meskipun rasa capeknya itu bisa sedikit terobati karena kehadiran si buah hati yang pipinya seperti bapau. Uwu~

Siapa yang capeknya nggak hilang kalau sepulang kerja disambut sama anak selucu ini/via pexels

Itu ceritanya Sutirah Ningrum. Sedangkan kalau kata Elizabeth (ini nama samaran teman saya ya, bukan nama cendol), dia menikah muda karena merasa udah waktunya buat menikah.

Jadi, apa itu artinya ada aplikasi buat ngecek udah waktunya nikah atau belum? Apa sih yang dimaksud dengan udah waktunya untuk menikah itu?

Entahlah, dia sendiri kelabakan ketika saya tanya lebih detail. Pokoknya, udah waktunya dia nikah dan hidup bareng pasangan secara legal. Udah waktunya mesra-mesraan hangat dengan halal. Dia udah kebelet, dan itu udah nggak bisa ditunda-tunda lagi. Titik!

Tapi seiring berjalannya waktu, Elizabeth pun mulai mengakui kalau kehidupan rumah tangga itu nggak semudah membeli cireng. Di awal masa pernikahan, dia begitu sumringah dengan kehidupan barunya. Tapi lama-lama dia mulai sering menangis dan merasa tersingkir dari pergaulan.

Ya gimana dong, ketika geng teman perempuannya membahas rencana traveling, dia cuma bisa sambat dalam hati. Statusnya sebagai istri orang bikin dia nggak bisa lagi pergi jauh-jauh, apalagi meninggalkan anaknya yang masih butuh ASI.

Intinya sih, dia terlambat menyadari kalau dia masih pengin bermain-main dengan teman segengnya. Tapi itu udah susah buat dilakukan, sekarang dia udah punya keluarga yang harus diurusnya.

Lalu masih adakah anak muda yang rela menunda pernikahan dan merasakan ajibnya surga dunia?

Kalau tadi saya bercerita tentang teman-teman saya yang nikah muda, ternyata ada beberapa teman saya yang malah nggak mau nikah cepat-cepat loh. Di survey kecil-kecilan yang sama, mereka pun curhat ke saya tentang alasan kenapa nggak buru-buru menikah.

Suroto, mantan budak korporat yang baru mundur dari pekerjaannya, menjelaskan alasan-alasannya dengan rinci. Pertama, dia masih menabung untuk beli PS 4 bisa menikah. Kedua, dia masih mempersiapkan mental agar bisa menjadi suami sekaligus bapak yang menginspirasi. Ketiga, dia belum benar-benar menemukan tujuan spesifik dari menikah.

Alasannya banyak ya. Tapi saya bisa nangkap intinya kok: dia masih butuh duit buat menikah dan masih belum mau terikat sama tanggung jawab.

“Nikah itu enak teenaan, tapi tetep butuh duit yang nggak dikit!”/via pexels.com

Pengalaman Suroto dialami juga oleh Charles. Dia udah punya pasangan, tapi tetap nggak mau buru-buru nikah. Alasannya, ternyata eh ternyata, dia nggak punya duit!

Memang sih rezeki itu udah diatur oleh Tuhan. Tapi yaah, kita juga harus berpikir realistis, kata Charles. Kondisinya aja masih luntang-lantung sebagai daily worker dari satu hotel ke hotel lain, dengan gaji UMR Jogjakarta yang hanya cukup untuk hidup setengah bulan di Bandung. Dia merasa hanya akan membawa pacarnya yang terbiasa hidup sebagai upper middle class ke jurang kesengsaraan.

Pesimis banget ya si Charles orangnya? Tapi… kalau kita pikir-pikir, pemikirannya memang masuk akal juga. Sangat bijaksana untuk nggak memaksakan kehendak, terutama kalau kita masih belum mampu.

Di artikel ini saya nggak punya niatan buat menyamaratakan semua orang. Lagian ini cuma hasil survey kecil-kecilan di lingkungan pertemanan saya. Justru pandangan yang menyamaratakan itu adalah pandangan yang bilang kalau semua generasi milenial ingin menikah muda.

Pendapat yang pengin saya tekankan di sini adalah, menikah itu bukan perkara yang sepele. Menikah itu bukan cuma soal kenikmatan di ranjang, melainkan juga soal tanggung jawab dan komitmen. Tanggung jawabnya pun bukan cuma terhadap istri, suami, dan anak, tapi juga terhadap diri sendiri. Jadi dalam hal ini, saya setuju sama keputusan Charles dan Suroto.

Menikahlah kalau kamu memang udah siap. Kalau belum siap? Nggak usah memaksakan diri. Kamu nggak perlu terpengaruh sama pendapat mereka yang memaksa kamu untuk cepat-cepat nikah. Ini kehidupan kamu, bukan mereka.

Contohnya, apa kamu pernah dengar pepatah yang bilang, “Perempuan harus cepat-cepat nikah, maksimal umur 24 lah.”

Sekarang ayo kita berpikir, apa orang yang bikin nasihat itu tahu betul kondisi kehidupan kamu sekarang? Nggak, mereka nggak tahu. Yang tahu betul gimana kondisi kamu sekarang ya cuma kamu sendiri.

Sedangkan soal pacaran? Ya itu balik lagi sama masing-masing orang. Ada orang yang pacaran karena pengin mengenal calonnya lebih jauh, ada juga mereka yang pacaran dengan membawa-bawa nafsu bejat. Toh, orang yang udah menikah aja masih bisa selingkuh. Betul, nggak?

Nah, pertanyaannya, hubungan pacaran kamu dan pacar termasuk tipe yang mana?

5 Shares

Komentar:

Komentar