Single Shaming yang Menyebalkan dan 4 Cara Simpel buat Membalasnya

"Kamu kapan nikah? Nikahnya kapan? Kaaaapaaaaaan?"

:

Entah siapa yang memulainya, lelucon soal jomblo a.k.a lajang udah jadi hal lumrah dewasa ini. Misalnya nih, orang pertama yang dituduh berdoa biar hujan deras di malam Minggu pasti para jomblowan.

Jujur saja, kadang saya juga dibuat ngakak sama lawakan yang mengangkat jomblo jadi topik utamanya. Bercandaan kayak gitu memang bukan hal yang tabu buat dilakukan. Toh, namanya juga candaan. Tujuannya pasti buat bikin orang lain ketawa.

Yang salah itu kalau candaannya kelewat batas. Kadang ada saja orang yang keasyikan ngata-ngatain jomblo, sampai candaannya kebablasan. Akhirnya munculah istilah single shaming atau pelecehan terhadap orang berstatus lajang.

Masih mending orang yang terkena single shaming itu merasa bodo amat. Lah, gimana kalau mereka merasa hidupnya terusik? Nggak jarang komentar-komentar bernada single shaming itu terasa pedas di telinga lho.

Buat kamu yang juga pernah mengalami hal di atas, nggak usah terlalu diambil pusing. Semoga poin-poin di bawah ini bisa membantu kamu. Biar kamu nggak pusing lagi gara-gara komentator nggak bertanggung jawab…

1. Beri penjelasan kenapa sekarang kamu memilih melajang

“Alasan saya sangat saintifik, Bung!”/via pixabay.com

Alasan setiap orang memilih hidup melajang itu beda-beda, nggak bisa dipukul rata. Jika ada yang nanya kenapa kamu masih melajang, jawab saja sesuai kondisi dan rencana hidup kamu sendiri.

Kamu bisa jawab dengan “Aku masih… (isi dengan alasan kamu). Mungkin 2-3 tahun lagi aku bakal nikah.Misalnya, kamu kasih mereka alasan: “Sekarang aku masih mau mengembangkan karier.” Kedengarannya memang klise, tapi alasan kamu itu memang benar adanya ‘kan!?


Kalau setelah diberi jawaban mereka malah menceramahi balik kamu, pura-pura dengarkan saja ceramahnya. Mungkin mereka merasa opini mereka itu paling benar. Tapi, orang yang paling tahu kondisi diri adalah kamu sendiri, bukan orang lain. Anggap saja mereka itu orang yang sok tahu.

2. Ingatlah kalau budaya kita saat ini masih terpengaruh tradisi lama

“Nak, kamu harus kawin sebelum umur 25 tahun. Pokoknya, harus!”/via pixabay.com

Budaya yang menyelimuti masyarakat kita saat ini tentu nggak datang begitu saja dari langit. Apa yang jadi pola pikir masyarakat saat ini, itu dipengaruhi juga oleh tradisi lama dan interaksi manusia sehari-hari.

Masih ingat dengan pola pikir yang bilang perempuan harus menikah di usia muda? Kayaknya pola pikir kayak gitu masih belum lenyap di zaman sekarang. Tapi coba pikir-pikir, lebih baik mana, cepat-cepat menikah atau menunggu dulu sampai kamu siap jadi suami/istri dengan pola pikir yang dewasa? Lebih baik mana, cepat-cepat menikah atau menunggu dulu sampai kamu siap jadi orangtua?

Intinya, nggak perlulah cepat-cepat mengikat komitmen dengan lawan jenis, jika yang ada dalam pikiran kita hanya tentang alat kelamin dan nikmatnya malam pertama. Mengikat komitmen itu butuh tanggung jawab yang besar.

Dan lagipula, menilai seseorang dari status pernikahannya itu rasanya seperti kita balik lagi ke zaman feodal. Itu pemikiran yang kuno!

3. Ingatlah kalau budaya kita saat ini juga banyak terpengaruh film

“Kita romantis banget ya, Say. Kayak di pilem-pilem”/via pixabay.com

Coba kamu lihat sinetron dan film-film romantis. Tugas utama karakter di dalamnya pasti nggak jauh dari yang namanya pencarian cinta sejati dan usaha menggaet jodoh. Hidup mereka itu seperti belum lengkap jika nggak punya pasangan.

Ya, dalam kadar tertentu, itu memang ada benarnya juga sih.

Tapi, terkadang pemikiran tentang pasangan itu terlalu diperbuas. Kalau kita tengok apa yang dilakukan karakter di sinetron atau film romantis, hidup mereka itu hanya berpusat pada hubungan asmara, seolah hanya itulah satu-satunya hal maha penting di dunia ini. Padahal hidup kita kan nggak cuma soal masalah percintaan; masih banyak hal lain yang mampu menyita perhatian kita.

Hidup kita ini nggak sama dengan film, di mana dalam waktu dua jam, orang yang tadinya jomblo bisa langsung dapat cowok/cewek cakep. Sayangnya, pemikiran bahwa mencari soulmate adalah hal paling penting sepertinya sudah terpatri dalam benak banyak orang…

Terutama orang yang suka melakukan single shaming. Hmm, kalau dipikir-pikir, pemikiran mereka mirip sama cara berpikir karakter di film-film drama romantis ya.

4. “Saya lagi fokus memikirkan diri sendiri dulu”

Kayak kamera ponsel ini, fokus ke sendiri aja/via pixabay.com

Memikirkan diri sendiri bukan berarti jadi egois lho. Di sini konteksnya kamu harus lebih fokus buat mencari cara untuk mengembangkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang berfaedah.

Klise banget ya caranya?

Tapi jika kamu memang mengalokasikan banyak waktu buat pengembangan diri, kamu pasti bisa dapat banyak manfaat. Setelah kamu puas memikirkan diri sendiri, baru deh kamu bisa fokus memikirkan orang lain.

Stop single shaming! Kalau kamu masih berstatus lajang dan ada yang mencoba mempermalukan kamu, permalukan balik mereka!

Heheheh, bercanda kok. Nantinya kalian jadi berantem atau musuhan lagi. Cukup balas saja dengan cara-cara di atas, kalau kamu mau.

Komentar:

Komentar