Sebelum Kamu Memutuskan untuk Serius dengan Pacar, Tanyakan dulu 5 Pertanyaan Ini ke Diri Sendiri

Meski sudah kadung suka, jangan sampai terburu-buru

Budaya masyarakat Indonesia itu beda sama masyarakat negara-negara Barat. Nggak sedikit lho orang-orang di sana yang hidup bersama pasangan mereka tanpa harus menikah (baca: kumpul kebo). Kalau hubungan mereka dirasa udah nggak cocok, tinggal putus. Mereka nggak perlu melalui sidang perceraian segala.

Sementara di Indonesia, besar kemungkinannya kamu bakal digerebek massa jika nekat kumpul kebo. Makanya, jika kamu punya keinginan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius dengan pacar, kalian harus menikah. Titik!

“Tapi, tapi kan, menikah itu artinya mengikat komitmen seumur hidup. Apakah pacar saya itu memang benar-benar orang yang tepat untuk saya?”

Kalau kamu punya pemikiran seperti itu, ya wajar-wajar aja. Itu tandanya kamu memang serius dengan masa depan kalian berdua. Lagipula siapa sih yang nggak mau menghabiskan masa tua dengan orang yang bisa membuat kita bahagia?

Tapi daripada kamu terus dilanda kegalauan berkepanjangan, mending tanyakan 5 pertanyaan ini pada diri sendiri. Hitung-hitung buat menentukan tingkat kecocokan kalian berdua juga.

1. Apakah aku bisa menerima dia apa adanya?

“Hey, Babe. Aku nggak pernah cuci tangan setelah buang air kecil. Kamu bisa nerima aku apa adanya kan? Heheh.”/via Pixabay

Satu hal yang harus kamu ketahui, mengubah sifat dan kebiasaan buruk seseorang itu nggak semudah nasihatnya Mario Lawalata. Euhm, maksudnya bukan Mario Lawalata deng. Mario siapa sih itu namanya?

Aaah… sudahlah, lupakan saja.

Intinya, apa kamu bisa menjamin ia bakal merubah sifat jeleknya, meskipun ia sendiri berjanji akan melakukannya? Ia bahkan bisa mengubah sifat jeleknya untuk beberapa saat, tapi itu nggak menjamin nantinya bakal balik lagi.

Memang nggak semua orang seperti itu sih. Makanya pertanyaan pertama yang harus kamu jawab adalah, apakah kamu bisa menerima calon pasangan hidup kamu itu apa adanya? Jika ia punya kebiasaan nggak pernah ganti kaus kaki selama sebulan penuh, apa kamu bisa menerima kenyataan kalau kakinya itu sering bau?

2. Apakah aku nggak harus menjadi orang lain di depan dia?

“Pose kamu kok sok keren banget ya? Beda sama pose di foto reunian sekolah kamu.”/via Pixabay

Sebelum merasa nyaman dengan pasangan, kamu harus nyaman dengan diri sendiri terlebih dahulu. Nyaman di sini maksudnya kamu hanya perlu jadi diri sendiri. Kamu nggak perlu sibuk memikirkan bagaimana cara bersikap, berbicara, atau bertindak jika ada di depan pacar.

Soalnya nggak sedikit lho orang yang memaksakan diri jadi orang lain demi pacarnya. Sifat dan kelakuan mereka berbanding terbalik ketika sedang bersama pasangan dan ketika sedang sendirian. Apa kamu seperti itu juga? Kalau iya, apa yang bikin kamu merasa nggak nyaman untuk menjadi diri sendiri saat sedang bersama si dia?

3. Seberapa sering teman dan keluarga khawatir denganku?

“Ibuku nggak merestui hubungan kita. Katanya kamu cuma mengincar harta kekayaanku doang, kayak di sinetron”/via Pixabay

Coba deh ingat-ingat lagi ketika kamu lagi tersangkut masalah sama dia. Seberapa sering kamu jadi nggak nafsu makan, sering mengurung diri di kamar, atau nangis di kasur sampai bikin teman dan keluarga khawatir?

Memang sih, prahara itu merupakan salah satu bumbu yang bikin suatu hubungan makin menggelora. Rumah tangganya Vicky Prasetyo aja nggak lepas dari drama dan prahara, apalagi kita-kita ini.

Tapi kalau terlalu sering? Mungkin ada yang salah dengan hubungan kalian.

4. Bagaimana biasanya cara kami menyelesaikan konflik?

Apakah dengan cara seperti gambar di atas?/via Pixabay

Kepribadian orang akan sedikit terlihat ketika mereka marah. Oleh karena itu, coba perhatikan bagaimana reaksinya ketika kalian lagi bertengkar. Kata-kata macam apa yang sering terlontar dari mulutnya, bagaimana gerak-gerik tubuhnya, dan bagaimana cara dia menyelesaikan pertengkaran.

Kalau kamu sering merasa nggak nyaman dengan apa yang ditunjukkannya, ada baiknya kalian berpisah aja. Karena jika saat masa pacaran saja pasangan kamu itu suka melakukan kekerasan, kemungkinan besar ia akan membawa kebiasaannya itu dalam hubungan pernikahan.

5. Apakah ada chemistry yang terjalin di antara kami?

“Aku nggak tahu kenapa kita baca buku di tengah rumput kosong kayak gini. Tapi hatiku tetap deg-deg-seer”/via Pixabay

Ambil contoh yang paling sederhana deh. Kalau kamu nggak merasa “deg-deg-seer” saat berada di dekatnya, ada kemungkinan kalian nggak punya chemistry satu sama lain.

Yang namanya chemistry pasti terjalin secara natural, nggak bisa dibuat-buat. Meskipun, kalau kamu tetap maksa untuk terus menjalin hubungan sama dia, ya silakan saja. Mungkin Dewa 19 ada benarnya saat berkata “Beri sedikit waktuu… uuu… Biar cinta datang karena telah terbiasa,” di lagu Risalah Hati.

Tapi jangan sampai nanti kamu mendua atau berpaling ke lain hati ya. Atau yang lebih parahnya, jangan sampai si dia yang menduakan kamu.

Momen pacaran itu baiknya dibawa nyantai, nggak perlu terburu-buru. Manfaatkan masa pacaran untuk mengenal betul calon pasangan seumur hidup kamu. Nggak perlu buru-buru nikah, apalagi jika alasannya karena “selangkangan kamu sudah gatal”.

Jadi, jangan sampai salah pilih pasangan ya.

- Advertisement -
Shares 2

Komentar:

Komentar