Hati-hati, Sekarang Kecanduan Game Resmi Dianggap sebagai Gangguan Mental!

Bukan kata saya, tapi kata WHO

Ilustrasi dua bocah yang habis mandi langsung main game tanpa peduli untuk nyisir rambut dan pakai bedak/via leapfrog.com

Apa kamu salah satu orang yang kecanduan game sampai berjam-jam dalam sehari? Kalau iya, mulai sekarang kamu mesti lebih berhati-hati mengatur proporsi waktu antara bermain game dan aktivitas lain yang lebih penting. Sebab saat ini kecanduan bermain video game sudah bukan lagi masalah yang bisa dianggap remeh.

Seperti yang sudah kamu tahu, berbagai masalah bisa muncul akibat kecanduan game. Misalnya seperti menurunnya produktivitas dalam pekerjaan maupun hubungan sosial. Lebih dari itu, kecanduan game dalam jangka panjang pun bisa mengganggu kesehatan fisik dan mental. Dan sudah nggak aneh lagi kalau pecandu game kadang lebih memilih untuk tetap bermain ketimbang memenuhi kebutuhan dasar mereka; seperti makan, minum, atau berkomunikasi dengan orang terdekat.

Nah, berkaitan dengan fenomena kecanduan game ini, dalam jurnal Classification of Diseases untuk pertama kalinya World Health Organization mengkategorikan kecanduan game sebagai jenis penyakit mental terbaru yang disebut ‘gaming disorder’. Melansir dari laman CNN, keputusan WHO ini dibuat berdasarkan penelitian ilmuwan mengenai tren dan perkembangan seputar video game yang terjadi di masyarakat dan di bidang pekerjaan.

via scmp.com

Wah, saya jadi ikut khawatir. Apakah saya termasuk orang yang mengidap gaming disorder ya? Soalnya saya lumayan sering main game di smartphone dan PC. Kalau iya, apakah saya harus mendapatkan penanganan medis? Jawabannya: belum tentu.

WHO menjelaskan kalau orang yang mengalami gaming disorder adalah mereka yang sering memprioritaskan game ketimbang aktivitas sehari-hari.

“… (gaming disorder yaitu) pola perilaku yang ditandai oleh lemahnya pengendalian diri terhadap game. Gejalanya meliputi peningkatan prioritas game di atas kegiatan lain sampai mengesampingkan minat, aktivitas, dan kebutuhan harian lainnya. Di sisi lain penderitanya terus bermain meskipun konsekuensi negatif sudah terjadi berkali-kali

Jadi tenang saja. Meskipun kamu sering bermain game, belum tentu kamu mengidap gaming disorder. Asalkan kamu nggak punya kebiasaan gaming seperti yang dijelaskan di atas. Kalau untuk pelepas penat atau sekadar pengisi waktu luang, kebiasaan bermain game nggak butuh penanganan psikolog kok.

Alasan lain di balik masuknya gaming disorder ke dalam jenis penyakit mental

Keputusan WHO menambahkan gaming disorder ke Klasifikasi Penyakit Internasional juga dikarenakan meningkatnya kasus anak-anak yang mengalami tekanan psikologis dan gangguan hubungan keluarga. Yup, kemudahan mengakses dan memainkan game di smartphone terkadang memang bikin para orang tua khawatir tentang perkembangan anak mereka. Dr. Poznyak dari departemen Mental Health and Substance Abuse, WHO, memperkirakan antara 1-6% persen anak-anak dan remaja dunia saat ini mengalami kecanduan game. Tapi jumlah tersebut belum dipastikan memiliki gaming disorder. Di sisi lain, WHO memperkirakan sekitar 2-3% gamer di dunia masuk dalam kriteria gaming disorder.

Menanggapi keputusan WHO tadi, beberapa psikolog mengemukakan pendapat mereka. Sebagian menganggap kalau pengumuman penyakit ‘gaming disorder’ terlalu dini. Artinya, itu belum terbukti diderita oleh sekian persen penduduk dunia (ada kriteria presentase tertentu untuk mengumumkan suatu penyakit) dan belum ada petunjuk khusus bagi para psikolog untuk menangani pasien gaming disorder.

Tapi di sisi lain, WHO berharap keputusan tersebut bisa meningkatkan kesadaran masyarakat dunia, khususnya praktisi medis, tentang jenis gangguan mental yang semakin merebak ini.

Jujur, saya juga termasuk orang yang bisa memainkan game favorit berjam-jam sampai lupa makan. Tapi itu hanya di waktu-waktu tertentu saja. Saya pun nggak rela kalau dibilang pengidap gaming disorder. 

Hmm… mungkin mesti ada kriteria yang lebih detail tentang penyakit baru ini ya. Kalau menurut kamu gimana? Share di kolom komentar ya.

Komentar:

Komentar