Darwin Awards 2018: 5 Kisah Orang yang Meninggal karena Kebodohan Sendiri

Bukan untuk ditiru!

:
Evolusi manusia menurut teori Charles Darwin/via ageofshitlords.com

Kami di Selipan pernah membahas tentang Darwin Awards di artikel ini, ini, dan ini. Dan di tahun 2018, Darwin Awards masih tetap ada. Selama Darwin Awards masih ada, itu membuktikan masih ada juga orang di dunia ini yang membuang nyawa mereka dengan cara konyol. Ya, Darwin Award adalah pengingat yang bagus bahwa nyawa manusia itu terlalu berharga untuk dibuang begitu saja.

Biar nggak makin penasaran, langsung kita simak aja yuk kisah-kisah para pemenang Darwin Awards seperti dirangkum dari situsnya ini. Kita jadikan saja kasus-kasus ini sebagai pelajaran, dan bukan untuk ditiru.

1. Ketika aturan dibuat untuk dilanggar

via northjersey.com

Pemberani dan nekat adalah dua hal yang sangat tipis perbedaannya. Tapi apa yang dilakukan oleh Anthony Gonzales mungkin kombinasi dari sifat pemberani dan nekat.

Saat itu tanggal 8 Maret 2018, ketika Anthony yang berasal dari Wanaque, New Jersey, sedang dalam perjalanan untuk membersihkan salju yang menutupi jalanan di sekitar rumah ayahnya. Sayangnya ia nggak pernah sampai ke rumah sang ayah. Itu gara-gara ia nekat menerobos traffic cone/kerucut pembatas jalan.

Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat itu, ia memilih untuk menerobos barikade ketimbang harus memutar lewat jalan lain. Padahal, barikade tersebut dipasang tentu dengan tujuan: karena saat itu ada kabel listrik yang tergeletak di jalanan.

Tapi nampaknya Anthony merasa waktunya akan terbuang percuma bila harus memutar jalan. Ia lebih memilih untuk mengira-ngira posisi kabel listrik yang tergeletak di jalanan.

Akibat aksi menerobosnya itu, mobil Anthony menghantam kabel listrik. Tak ayal, mobilnya pun terbakar habis, sekaligus juga Anthony yang sedang ada di dalamnya. Ironisnya Anthony sendiri adalah seorang teknisi listrik.

2. Misi Misionaris yang berakhir tragis

via bbc.com

John Allen Chau, seorang pria asal Amerika Serikat yang mengaku diri sebagai penjelajah sekaligus misionaris harus menemui ajalnya pada 14 Desember 2018 di Pulau Sentinel Utara. Sekadar informasi, dari ribuan tahun yang lalu Pulau Sentinel Utara didiami oleh Suku Sentinel.

Suku Sentinel sendiri adalah salah satu suku di muka bumi ini yang paling tak tersentuh oleh dunia luar. Selain mengisolasi diri dari orang asing, mereka juga terkenal sangat nggak ramah pada orang-orang di luar suku mereka. Itu wajar, karena saat Inggris menduduki wilayah mereka di tahun 1800-an, populasi mereka nyaris lenyap.

Tapi itu nggak lantas bikin John Chau gentar. Dengan berbekal berbagai buah tangan dari “dunia modern” seperti bola sepak dan gunting, ia pun berlayar ditemani enam orang nelayan. Sepintas, apa yang dilakukan John Chau terdengar sangat mulia. Hanya saja mungkin saat itu ia lupa bahwa niat baik nggak selalu diterima dengan baik pula, terlebih jika ia dianggap sebagai orang asing yang berbahaya. Dan sebenarnya John sendiri bukanlah seorang misionaris tulen.

Apa yang terjadi selanjutnya bisa ditebak memakai logika. John Chau mendapat sambutan yang kurang ramah dari Suku Sentinel. Hmm, saya perbaiki kalimatnya deh: John mendapat sambutan yang sangat tidak ramah dari Suku Sentinel.

Berdasarkan kesaksian nelayan yang menemani John pada AFP, setibanya di sana ia langsung disambut oleh guyuran panah. Namun hujan panah tersebut nggak membuat John mundur. Mungkin karena merasa terancam, penduduk pulau lantas mengikat leher John dengan tali dan menyeretnya sepanjang pantai.

Apakah Suku Sentinel sempat mengecek “hadiah-hadiah modern” yang dibawa John, itu masih jadi tanda tanya.

3. Geocaching kurang tepat waktu

via 150sec.com

Bermain bersama teman-teman di luar ruangan itu selalu menyenangkan. Kamu pasti masih ingat gimana asyiknya bermain petak umpet bareng teman ‘kan? Tapi jangan sampai permainan yang kamu lakukan itu membahayakan nyawa sendiri, apalagi jika kamu ngotot pengin terus bermain meski badai besar tengah menerjang.

Kenekatan itulah yang dilakukan oleh empat sekawan asal Republik Ceska. Meskipun badan metereologi setempat udah mengingatkan tanggal 9 Juni 2018 akan ada badai dan hujan besar, mereka tetap bermain geocaching.

Buat kamu yang belum tahu, singkatnya geocaching adalah permainan mencari “harta karun” dengan memakai bantuan GPS. Geocaching jelas bukan permainan berbahaya, jika saja empat sekawan itu nggak mencari harta tersebut di kanal bawah tanah saat hujan badai.

Kalau kamu mau tahu saluran air bawah tanah yang jadi lokasi permainan, lihat foto di bawah.

via commons.wikimedia.org

Saat hujan badai, saluran tersebut dipenuhi oleh air yang menenggelamkan satu orang peserta geocaching, hingga akhirnya ia kehilangan nyawa. Sementara itu, satu orang temannya masih belum ditemukan. Di bawah tanah, tim SAR kesulitan menangkap sinyal dari alat pemancar seluler.

Pada akhirnya, dari empat orang peserta, hanya dua orang yang beruntung bisa selamat.

4. Pria misterius di eskalator

via wjla.com

Tanggal 18 Desember 2018 pukul 02.00 dini hari, para petugas di Stasiun Amtrak, New Carollton, Amerika Serikat, dibuat geger dengan penemuan mayat pria di bagian bawah eskalator. Merasa kebingungan kenapa tiba-tiba ada mayat di eskalator, mereka pun mengecek rekaman CCTV.

Jika ini adalah cerita di novel detektif, mungkin para petugas akan melihat pria tersebut dibunuh oleh penjahat misterius. Tapi karena ini adalah peristiwa nyata, kenyataannya jauh lebih sederhana ketimbang kasus di novel detektif.

Rekaman CCTV menunjukkan bahwa sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ternyata pria itu mencoba berlari menaiki eskalator yang berjalan ke bawah. Untuk lebih jelasnya, pria itu sebenarnya pengin naik ke lantai atas. Tapi alih-alih menaiki eskalator yang berjalan ke atas layaknya orang normal, ia malah melawan arus dengan menaiki eskalator yang berjalan turun. Melawan arusnya dengan berlari pula.

Praktis setelah ia sampai di lantai tujuannya, napasnya sudah keburu habis. Badannya terhuyung-huyung dan keseimbangannya hilang, sebelum akhirnya ia jatuh menggelinding ke bawah. Apesnya lagi, kepalanya terbentur saat ia mencapai tangga paling dasar.

Peristiwa tersebut terjadi pada tengah malam, saat stasiun tengah sepi dan nggak ada kereta yang jalan. Dan pada pukul dua dini hari, petugas pun menemukan pria itu tak lagi bernyawa. Saat itulah misteri mayat di stasiun dimulai.

Dulu, ayah saya sempat memarahi saya ketika iseng melawan arah eskalator. Sekarang saya paham kenapa waktu itu ayah saya marah. Kehidupan nyata memang nggak seperti di film aksi.

5.  Bergaya ala sirkus

via springfieldnewssun.com

Namanya jiwa muda, kadang butuh banget pengakuan dari orang lain. Makanya nggak jarang kita lihat anak muda yang suka pamer. Hayo, kamu begitu juga nggak?

Mungkin pada awalnya Aaron Dibella pun hanya ingin pamer ketika merayakan Booze Cruise di atas kapal. Kala itu hari sudah menjelang malam di Pelabuhan Boston, Amerika Serikat, saat Aaron tiba-tiba menunjukkan kebolehannya melakukan handstand atau berdiri memakai tangan. Handstand itu kayak gini nih:

via publicdomainpictures.net

Tapi Aaron membawa teknik tersebut lebih jauh lagi dengan melakukannya di atas pagar kapal.

Nggak mau ada penumpang yang celaka, anak buah kapal pun menegur Aaron untuk turun. Awalnya Aaron memang nurut. Tapi saat kru kapal itu pergi, Aaron malah semakin menggila. Kali ini ia melakukan teknik push up vertikal, masih di atas pagar kapal.

Dan saat melakukan aksi push up vertikal itulah, tangan Aaron si ahli akrobat terpeleset. Tubuhnya pun tercebur ke laut yang dingin.

Kru kapal sudah melakukan upaya terbaik mereka untuk menyelamatkan Aaron, dan pemuda berumur 21 tahun itu juga berusaha berenang mencapai kapal. Tapi nasib sial masih belum lepas darinya. Tatkala ia hampir mendekati kapal, pelampung penyelamat Aaron keburu tenggelam. Jasadnya baru ditemukan oleh regu penyelam tiga jam kemudian.

Hikmah dari 5 kisah di atas, kita perlu memikirkan segala sesuatu dengan baik sebelum bertindak. Kan nggak lucu kalau sampai kehilangan nyawa gara-gara tingkah laku konyol. Bisa-bisa nanti dapat Darwin Awards juga nih.

Amit-amit, jangan sampai deh!

13 Shares

Komentar:

Komentar