8 Fakta Unik Kehidupan Orang-Orang di Zaman Mesir Kuno yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Mesir kuno nggak cuma soal The Mummy

:

Mesir kuno, sebuah peradaban di mana para Firaun berkuasa. Berbagai situs dan artefak peninggalan peradaban ini sudah dari dulu bikin arkeolog tertarik buat menelitinya secara mendalam. Hasilnya, mumi dan Piramida Agung Giza mungkin jadi yang paling kita kenal dari semua warisan Mesir kuno. Tapi seberapa jauh kamu mengenal peradaban yang dulu pernah berjaya di tanah Mesir ini?

Para ilmuwan sebenarnya masih banyak berpekulasi mengenai sejarah kehidupan zaman Mesir kuno. Tapi melalui berbagai bukti-bukti arkeologis dan catatan sejarah yang ada, setidaknya kita bisa mengetahui garis besar peradaban Mesir kuno. Dan ternyata, ada fakta-fakta menarik yang bisa menambah pemahaman kita tentang kehidupan masyarakat Mesir tempo dulu. Coba simak daftar di bawah ini kalau kamu penasaran.

1. Tak semua penduduk Mesir kuno dimumikan

via wonderopolis.org

Selama ini kita tahu kalau peradaban Mesir kuno itu sangat identik dengan mumi. Tapi nggak semua penduduk Mesir kuno diawetkan setelah mereka meninggal. Mumifikasi di zaman Mesir kuno tergolong praktik yang membutuhkan proses lama dan biaya yang mahal. Hanya kalangan masyarakat elite yang mampu menjalani praktik mumifikasi.

Lantas kenapa masyarakat kalangan atas ingin jenazah mereka dimumifikasi setelah meninggal?

Penduduk Mesir kuno percaya mereka bisa menjalani kehidupan lagi setelah mati, dengan syarat tubuh mereka harus tetap utuh, tak hanya menyisakan tulang belulang saja. Sementara itu, masyarakat Mesir kuno yang status sosialnya lebih rendah hanya dikubur di lubang-lubang kecil di padang pasir.

Fakta menariknya, panjang perban yang membungkus tubuh mumi bisa mencapai 1,6 kilometer jika direntangkan.

2. Firaun Mesir seringkali berbadan gemuk

via ancient-origins.net

Dalam lukisan-lukisan Mesir kuno, para Firaun sering digambarkan mirip artis K-pop bertubuh kurus dan nampak seperti patung. Tapi ternyata itu bukanlah cerminan realitas yang sebenarnya.


Para ilmuwan pernah memeriksa mumi-mumi firaun dan menyimpulkan bahwa sebelum meninggal, para raja punya kondisi tubuh yang tak sehat. Maksudnya, kebanyakan firaun mengalami obesitas. Bahkan beberapa ada yang terindikasi menderita diabetes. Contohnya Ratu Hapshetsut yang hidup sekitar abad 15 Sebelum Masehi.

Sarchophagus (peti mati) Hapshetsut menggambarkan sosoknya yang ramping dan atletik. Sedangkan para sejarawan percaya kalau dia sebenarnya gemuk dan botak.

3. Orang Mesir kuno suka bermain papan permainan

via egyptabout.com

Para penduduk Mesir suka mengisi waktu luang mereka dengan papan permainan. Faktanya, ada beberapa jenis papan permainan yang bisa mereka mainkan bersama: mehen, mancala, dan senet.

Senet jadi permainan yang paling populer di antara ketiga jenis permainan tersebut. Masyarakat Mesir kuno sudah mengenalnya sejak 3500 tahun SM. Hampir mirip seperti catur, papan senet memiliki 30 kotak dan berbentuk persegi panjang. Dua orang pemain menggerakkan bidak dengan cara melempar dadu atau tongkat kecil. Konon, hieroglif yang terukir di papan merupakan simbol keberuntungan dan kesialan yang menentukan jalannya permainan.

Ratu Nefertari dan Raja Tutankhamun tercatat pernah memainkan Senet. Bahkan Raja Tut punya beberapa papan senet di yang disimpan di dalam makamnya.

4. Wanita dan pria memakai makeup

via history.com

Yup, nggak cuma masyarakat modern saja yang gemar mengenakan makeup. Tapi tujuan masyarakat Mesir kuno menggunakan riasan wajah sedikit berbeda dengan zaman sekarang. Bagian mata dari orang-orang Mesir kuno biasanya dilukis dengan warna hitam atau hijau. Para ilmuwan berpendapat kalau makeup tersebut berfungsi untuk menyaring cahaya matahari yang masuk ke mata. Sementara itu, riasan wajah yang lebih dramatis lagi menandakan kemiripan seseorang dengan Dewa Matahari, Horus.

Peralatan kosmetik juga bisa jadi penanda status sosial masyarakat Mesir kuno. Misalnya, wanita yang membawa kotak kosmetik pribadi dianggap punya derajat sosial yang tinggi di masyarakat.

5. Cleopatra bukan berasal dari Mesir

via bio.com

Selain Ramses III dan Tutankhamun, tokoh yang paling terkenal di era Mesir kuno yaitu Cleopatra VII. Tapi apa kamu tahu kalau Cleopatra sebenarnya bukan keturunan bangsa Mesir?

Cleopatra memiliki garis keturunan Yunani dan Masedonia yang diwariskan dari Ptolemy XII Auletes. Leluhurnya, Ptolemy I, merupakan salah satu letnan perang kepercayaan Alexander yang Agung. Dinasti Ptolemy sempat menguasai Mesir dari tahun 323 sampai 30 Sebelum Masehi. Selama itu pula sebagian besar pemimpin Mesir berasal dari keturunan bangsa Yunani. Cleopatra dikenal karena menjadi anggota Dinasti Ptolemy pertama yang fasih berbicara dalam bahasa Mesir.

6. Yang membangun piramida bukanlah para budak

via phys.org

Yup, tak ada perbudakan apalagi penindasan dalam proses pembangunan piramida. Faktanya, bukti-bukti arkeologis mengungkap bahwa piramida agung Giza dibangun oleh 5.000 pekerja tetap dan 20.000 pekerja sementara (yang mendapat upah). Pekerja-pekerja ini bukanlah budak; mereka dipanggil oleh pemerintah Mesir untuk bekerja secara bergiliran.

Saat proses pembangunan, para pekerja tinggal di kemah yang sudah disediakan di sekitar piramida. Mereka bekerja 3-4 bulan sebelum berganti giliran dan pulang ke rumah masing-masing. Bayaran yang diterima berupa makanan, minuman, dan perawatan kesehatan.

7. Pelayan pribadi Firaun dibunuh supaya bisa mendampingi majikannya di alam baka

via toptenz.net

Di daftar nomor 1 sudah dijelaskan kalau masyarakat Mesir kuno percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Nah, oleh karena itu, sebelum mereka wafat, para firaun kerap “berwasiat” supaya para pelayan dikorbankan untuk melayani sang raja di alam kubur. Ritual pengorbanan ini pernah dijalani di masa peradaban Mesir kuno yang lebih awal, lalu mulai ditinggalkan oleh generasi-generasi selanjutnya.

Biasanya, para pelayan setia tak akan merasa takut tatkala dikorbankan. Sebab bagi mereka, melayani Yang Mulia di kehidupan selanjutnya merupakan sebuah bentuk penghormatan.

8. Peradaban Mesir kuno dan pasta gigi

via holisticdentalistitute.com

Yup, masyarakat Mesir kuno cenderung memerhatikan kebersihan gigi. Kontribusi mereka dalam catatan sejarah kesehatan salah satunya adalah pasta gigi.

Walaupun komposisinya cenderung nyeleneh (kuku banteng, abu, kulit telur hangus, dan batu apung), pasta gigi pada masa itu cukup ampuh untuk mencegah bau mulut.

Mau coba pakai pasta gigi yang terbuat dari kuku banteng dan batu apung?

Komentar:

Komentar