5 Eksperimen Psikologis yang Menunjukkan Kita tentang Sisi Lain Manusia

Sayang, eksperimen android dari Dr. Gero di Dragon Ball nggak ada di sini

:

Dalam bidang sains, otak adalah salah satu organ tubuh manusia yang paling sering diteliti oleh para ilmuwan dan psikolog. Otak memproses pikiran, emosi, alam bawah sadar, dan semua tindakan yang kita lakukan. Cabang ilmu yang mempelajari hal ini adalah psikologi.

Nah, dalam ilmu Psikologi, ada yang namanya experimental psychology atau psikologi eksperimen, yang mulai dilakukan sekitar awal abad ke-20. Eksperimen yang pernah dilakukan meliputi berbagai bidang: studi perilaku hingga dinamika sosial, dan proses biologis kompleks yang terjadi di otak. Psikologi eksperimen telah mengajarkan kita begitu banyak tentang kondisi manusia, dan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang mengapa kita bertindak seperti yang kita lakukan.

Di artikel ini kita bakal bahas 5 eksperimen psikologi yang sempat terkenal. Mulai dari eksperimen sosial yang sederhana, hingga pola perilaku yang kompleks yang mengekspos alam bawah sadar dan mendorong batas-batas etika. Dilansir dari Bored Panda, ini dia daftarnya.

1. Eksperimen pembagian “kelas”

pbs.org
via pbs.org

Pada tahun 1968, setelah tragedi pembunuhan tokoh pembela HAM Amerika, Martin Luther King, seorang guru bernama Jane Elliot mencoba berdiskusi mengenai masalah diskriminasi, rasisme, dan prasangka dengan murid-muridnya di Riceville, Iowa.

Namun, diskusi tersebut nampaknya nggak terlalu digubris oleh murid-murid Jane yang pada dasarnya jarang sekali melakukan interaksi dengan orang kulit hitam di desa mereka. Jane kemudian menerapkan eksperimen pembagian kelas yang dia sebut Blue eyes/Brown eyes” selama dua hari untuk memberikan pelajaran langsung tentang ketidakadilan diskriminasi dan rasisme.

Eksperimennya seperti ini: untuk satu hari, murid yang punya mata berwarna biru diberikan perlakuan istimewa dan dibuat supaya merasa lebih unggul dibandingkan murid yang bermata coklat. Prosedur ini kemudian dibalik di hari berikutnya, di mana murid bermata coklat mendapat perlakuan spesial dari Jane. Mereka juga  dibuat lebih dominan dari murid bermata biru.

Hasilnya, grup mana pun yang disukai Jane tampil dengan antusias di depan kelas, menjawab pertanyaan dengan cepat dan akurat, dan mengerjakan soal dengan lebih baik. Sebaliknya, murid yang didiskriminasi merasa lebih tertekan, merasa tidak yakin dan ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan, dan tidak mengerjakan soal dengan baik.


2. Eksperimen tangga piano

boredpanda 1
via boredpanda.com

“The Fun Theory” yang diprakarsai oleh Volkswagen ingin membuktikan kalau perilaku manusia bakal berubah jadi lebih baik dengan cara membuat pekerjaan sehari-hari yang membosankan menjadi lebih menyenangkan

Dalam eksperimen yang dilaksanakan di Stockholm, Swedia, ini mereka memasang anak tangga piano yang mengeluarkan nada ketika dipijak di stasiun kereta bawah tanah. Mereka ingin melihat apakah dengan demikian orang-orang bakal memilih menggunakan tangga yang notabenenya lebih sehat dibanding eskalator.

Hasilnya saat itu menunjukkan 66% orang lebih memilih menggunakan tangga dibanding eskalator.

3. Eksperimen ruangan berasap

boredpanda 2 smoke filled room experiment
via boredpanda.com

Coba bayangkan di saat kamu tengah mengisi kuesioner di sebuah ruangan sendirian, tiba-tiba ada asap menyembul dari bawah pintu. Apa yang bakal kamu lakukan? Tentunya kamu bakal pergi dan kasih tahu orang yang berwenang tanpa ragu-ragu ‘kan?

Tapi apa yang akan terjadi kalau sekiranya kamu nggak sendirian di dalam ruangan? Apa yang terjadi jika ada beberapa orang yang kayaknya nggak peduli sama asap tersebut?

Ketika sendiri, 75% orang langsung melaporkan asap itu. Rata-rata waktu antara pertama kali melihat asap dan melapor adalah dua menit.

Namun ketika dua aktor (yang disuruh akting seakan tidak terjadi apa-apa) didatangkan, cuma 10% orang yang langsung keluar dan melaporkan asap tersebut. Yup, dalam eksperimen ini, 9 dari 10 orang dengan cueknya mengisi kuesioner sambil ngucek-ngucek mata dan mengibas-ngibas asap tersebut dengan tangan mereka.

Eksperimen ini adalah contoh bagus orang-orang yang merespons lebih lambat (atau tidak sama sekali) terhadap keadaan darurat di sekitar orang-orang pasif. Eksperimen ini juga menunjukkan kalau kita sering bergantung sama respons orang lain, bahkan sampai melawan insting sendiri.

Jangan biarkan kepasifan orang lain mempengaruhi tindakan kamu, dan jangan selalu menganggap orang lain bakal/harus membantu untuk kepentingan bersama. Kalau merasa ada yang nggak beres, harusnya kitalah yang pertama kali mengambil tindakan.

4. Eksperimen sosial Carlsberg

boredpanda 3 carlsberg
via boredpanda.com

Eksperimen sosial ini diprakarsai oleh merek minuman asal Denmark, Carlsberg. Subjeknya, sepasang kekasih yang lagi kencan, sama sekali nggak tahu menahu tentang eksperimen ini. Mereka masuk ke dalam bioskop yang udah dipenuhi penonton (semuanya terlihat seperti anggota geng motor) dan cuma tersisa dua tempat duduk aja. Dua tempat duduk itu letaknya ada di tengah dan masing-masing sandaran lengannya udah diambil alih sama pria biker bertato.

Eksperimen yang aslinya untuk keperluan iklan ini menunjukkan bahwa nggak semua pasangan akhirnya duduk manis gitu aja. Setelah melihat para biker yang seram dan bertato, malah ada yang langsung pergi. Beberapa pasangan ada yang memberanikan diri untuk duduk, lalu mereka disoraki oleh para biker yang serem ini sebelum akhirnya dihadiahi minuman Carlsberg gratis.

Eksperimen ini adalah contoh yang bagus kenapa kita nggak boleh selalu memandang orang dari tampilannya aja.

5. Eksperimen penjara Stanford

boredpanda 4 stanford prison
via boredpanda.com

Eksperimen penjara Stanford adalah percobaan untuk meneliti efek psikologis dari kekuasaan. Eksperimen yang dilaksanakan pada 1971 ini berfokus pada pergulatan antara tahanan dan sipir penjara Pemrakarsanya yaitu Philip Zimbardo dari Universitas Stanford.

Eksperimen ini bertujuan untuk menguji hipotesa bahwa sifat atau kepribadian yang melekat pada individu, baik itu tahanan maupun sipir, adalah penyebab utama tindak kekerasan di penjara. Partisipan yang merupakan para mahasiswa Stanford, secara acak dipilih perannya antara tahanan dan sipir. Kemudian mereka mensimulasikan keadaan penjara yang sesungguhnya.

Para tahanan diperlakukan seperti kriminal sungguhan. Ketika tiba di penjara, mereka disuruh telanjang, disita barang-barang pribadinya, dikurung di dalam sel, dan diberi pakaian narapidana dan kasur ala penjara. Mereka dipakaikan seragam dan dipanggil dengan nomor masing-masing, bukan dengan nama mereka. Cara ini bertujuan supaya tahanan merasa dirinya anonim (tak memiliki nama).

Beberapa jam setelah eksperimen dimulai, mereka yang berperan sebagai sipir mulai melecehkan para tahanan. Tahanan diejek dengan berbagai macam hinaan, juga diberikan tugas yang nggak berarti dan membosankan. Intinya, para tahanan diperlakukan kurang manusiawi.

Kurang dari seminggu, para sipir mulai menjadi lebih sadis dan beringas, meningkatkan tingkat kekerasan mereka seiring berjalannya waktu. Di sisi lain, para tahanan sudah merasa tersiksa baik secara fisik maupun mental. Karena itu juga eksperimen ini langsung dihentikan meskipun belum selesai.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa orang-orang menyesuaikan diri dengan peran sosial yang mereka ingin mainkan, terutama jika perannya memiliki kekuasaan lebih, seperti sipir penjara misalnya. Dan ternyata situasilah yang menyebabkan sipir berprilaku sadis dan brutal terhadap para tahanan, bukan sifat atau kepribadian mereka. Sebab, nggak satu pun partisipan yang menjadi sipir punya sifat sadis sebelum eksperimen tersebut dimulai.

Nah, itu dia 5 psikologi eksperimen yang membuka mata kita tentang sisi lain manusia. Kalau mau, kamu juga bisa kok bikin eksperimen sosial sederhana sama temen-temen. Asalkan jelas tujuannya, dan sebisa mungkin nggak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Komentar:

Komentar