5 Cerita Fiksi yang Menginspirasi Pelaku Pembunuhan di Dunia Nyata

Yang salah pelaku pembunuhannya, atau cerita fiksinya?

Sebagai penggemar cerita fiksi, saya sering dapat pesan-pesan inspiratif dari novel atau film yang saya simak. Beberapa cerita mengajarkan saya tentang kepahlawanan, cinta, keluarga, atau pertemanan. Dan mungkin itulah tujuan penulis mengarang cerita fiksi; untuk menginspirasi pembaca melalui sudut pandang tokoh fiktif dan pengalaman hidupnya.

Tapi apa jadinya kalau cerita fiksi malah menginspirasi penikmatnya buat melakukan pembunuhan? Faktanya, beberapa kasus pembunuhan pernah terjadi akibat obsesi manusia yang berlebihan terhadap cerita fiksi. Hmm… kira-kira kisah fiktif seperti apa yang menginspirasi pelaku pembunuhan? Dan seperti apa kasusnya?

1. Novel Catcher in the Rye (1951) dan kasus pembunuhan John Lennon

via whistlestopper.com

Novel kontroversial karya J.D. Salinger ini mengisahkan perjalanan hidup seorang remaja putus sekolah, Holden Caulfield. Sejak pertama kali diterbitkan, Catcher in the Rye langsung menuai kesuksesan dan melejitkan nama penulisnya. Tapi sayangnya, selain populer, novel ini juga jadi inspirasi beberapa pembacanya buat melakukan tindak kriminal. Obesesi berlebihan akan isu pencarian jati diri dan kepalsuan manusia (yang sangat berpengaruh) dalam cerita adalah penyebabnya.

Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, David Chapman mencoba menemukan jati dirinya lagi. Kebetulan saat membaca Catcher in the Rye, dia merasa ada kesamaan antara dirinya dengan tokoh fiktif Holden Caulfield. Dan sebagai penggemar The Beatles, Chapman juga menemukan ada kepalsuan pada diri John Lennon, terlebih setelah pentolan The Beatles itu mengeluarkan pernyataan yang terkesan menghina agama.

8 Desember 1980 David Chapman pun menembak John Lennon empat kali di bagian punggung. Saat ditangkap polisi, kabarnya Chapman sedang membaca Catcher in the Rye di pinggir jalan, tak jauh dari TKP.

Di tahun 1989, pria asal Amerika, John Bardo membunuh aktris Rebecca Schaeffer yang sudah diterornya selama tiga tahun. Bardo membawa novel Catcher in the Rye saat melakukan aksinya. Tapi dia berdalih kalau itu hanya kebetulan dan menolak perbuatannya disamakan dengan kasus David Chapman.

2. Foundation trilogy menginspirasi serangan gas beracun di Jepang

via sciencefiction.com

Singkatnya, trilogi fiksi ilmiah karya Isaac Asimov ini bercerita tentang keruntuhan kerajaan galaksi karena populasi planet yang semakin tinggi. Salah satu tokoh utama dalam cerita menganggap agama adalah jalan yang tepat untuk mengendalikan masyarakat dan keutuhan dunia yang mereka huni.

Shoko Asahara, pemimpin sekte agama Aum Shinrinkyo di Jepang, percaya kalau karya Asimov bisa diterapkan di era modern. Asahara kerap berceramah tentang dunia yang akan segera berakhir dan hanya orang-orang beriman yang bakal selamat. Tapi saat hari kiamat yang diramalkan tak kunjung datang, Asahara beserta pengikutnya melancarkan serangan gas beracun pada 20 Maret 1995. Saat itu pengikut Aum Shinrinkyo melepaskan gas sarin di stasiun bawah tanah Tokyo. Tragedi itu menewaskan 12 orang dan melukai sekitar 5000 penduduk Jepang.

Sekadar informasi, Aum Shinrinkyo didirikan pada tahun 1984. Seiring perkembangannya sekte tersebut berhasil merangkul 10.000 pengikut di Jepang dan 30.000 di Rusia.

3. Grand Theft Auto gangster

via egameboss.com

Di antara semua seri Grand Theft Auto, GTA III jadi sekuel yang paling sukses memengaruhi pola pikir sekelompok berandalan di Oakland, California. Yup, mereka mencoba mengangkat cerita GTA ke kehidupan nyata.

The Nut Cases, itulah nama kelompok gangster yang meneror Oakland antara akhir tahun 2002 sampai awal 2003. Di rentang waktu tersebut, The Nut Cases membunuh 5 warga sipil, termasuk remaja 14 tahun dan temannya yang mencoba melindungi bocah itu dari hunjaman peluru. The Nut Cases tak menampik adanya pengaruh game GTA di semua kekacauan yang mereka perbuat. Bahkan salah satu anggota gangster dengan bangga bilang, “Kami bermain GTA di siang hari dan menjalani kehidupan GTA di malam hari.”

Enam anggota The Nut Cases akhirnya dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Tapi gangster tetaplah gangster. Salah satu terdakwa, Lon Wailey, berteriak pada hakim, “Gue nggak pedul!” setelah menerima putusan hakim tersebut.

4. The Collector (1963) menginspirasi para psikopat

via readonlinefree.com

Secara garis besar, novel The Collector karangan John Fowles menceritakan Frederick Clegg, pria pengidap asperger syndrome (gangguan komunikasi) yang hobi mengoleksi kupu-kupu. Kurangnya kemampuan bersosialisasi membuat sang protagonis tinggal di kabin di tengah hutan. Tapi lama kelamaan perasaan kesepian melanda Clegg, dan dia memutuskan untuk menambah koleksi ‘kupu-kupunya’, seorang gadis bernama Miranda.

Di kenyataan, kisah The Collector bisa kita temukan di beberapa kasus penculikan yang disertai pembunuhan. Christopher Wilder, pembunuh berantai yang menghabisi nyawa delapan gadis di tahun 80an, tercatat memiliki novel The Collector saat dia bunuh diri. Robert Bardella, jagal asal Kansas, Amerika Serikat, menyiksa serta membunuh enam laki-laki di tahun 1980. Dia mengklaim pembunuhannya terinspirasi dari film The Collector.

Duo pembunuh berantai Leonard Lake dan Charles Ng juga melancarkan aksi yang sama antara tahun 1983-1985. Mereka tercatat menyiksa dan membunuh 11 orang. Perbuatan keji itu dilakukan di dalam bunker dekat peternakan milik Leonard Lake. Sama dengan dua kasus sebelumnya, Lake dan Ng terinspirasi dari kisah The Collector. Bahkan mereka dengan sengaja menamai salah satu skema penculikan gadis dengan sebutan ‘Operation Miranda’.

5. Film Queen of the Damned (2002) menginspirasi seseorang menjadi vampir

via bloody-disgusting.com

Queen of the Damned (1988) adalah judul novel terakhir dari trilogi The Vampire Chronicles karangan Anne Rice. Di tahun 2002, novel vampir itu diangkat jadi film dengan judul yang sama. Awalnya mungkin tak ada yang menyangka kalau Queen of the Damned bisa mendorong penontonnya bertindak layaknya vampir sungguhan. Tapi kenyataan berkata lain.

Tak lama setelah film itu dirilis, Allan Menzies membunuh Thomas, temannya sendiri. Pada pihak berwenang Menzies menyatakan kalau perbuatannya itu dia lakukan atas perintah Akasha (karakter utama di film Queen of the Damned). Mezies berdalih kalau dirinya akan berubah jadi vampir di kehidupan selanjutnya jika dia menuruti perintah Akasha.

Alasan Menzies memang terkesan tak masuk akal. Tapi kalau dilihat dari bagaimana dia menghabisi nyawa Thomas, Menzies sepertinya serius dengan perkataanya itu. Setelah menusuk Thomas hingga tewas, Allan Menzies meminum darah dan memakan sebagian kepala Thomas, sebelum dia mengubur jasadnya. Benar-benar perbuatan yang gila!

Aneh tapi nyata, itu reaksi saya setelah menyimak lima kasus kriminal di atas. Sebab bagi saya, menyimak cerita fiksi itu ibaratnya sama dengan makan permen karet; kunyah, ambil manisnya, buang ampasnya. Toh, itu ‘kan cuma hasil imajinasi penulis saja. Iya ‘kan?

Apa kamu tau cerita fiksi lain yang sempat memicu kasus kriminal? Kalau tahu boleh dong share.

 

- Advertisement -
Shares 15

Komentar:

Komentar