4 Alasan Utama Kenapa Masih Saja Ada Orang yang Percaya Berita Hoax

Jangan terlalu baik dan percaya begitu saja apa kata orang

:

“Sebelum kamu bertanya mengapa jutaan orang Amerika bisa terjebak dengan berita palsu, berkacalah!” – Psikolog asal Amerika Serikat, Jason Dias.

Kutipan di atas nggak hanya berlaku untuk orang Amerika doang, tapi seluruh orang di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi di zaman serba internet ini, hoax bisa menyebar dengan mudah. Meskipun imbauan untuk nggak langsung memercayai berita meragukan sudah banyak beredar, tapi masih ada saja orang yang percaya dengan hoax.

Sebenarnya apa yang bikin orang masih saja percaya sama berita-berita palsu? Mengapa mereka membagikan, menyukai, dan mengomentari postingan mengenai berita-berita itu? Mungkin ini penyebabnya.

1. Kurangnya pengetahuan

via pisabay.com/DariuszSankowski

Saya pernah dengar kutipan yang bilang, “Ketidaktahuan tidak akan menolong siapa pun.” Dan itu ada benarnya. Salah satu penyebab orang bisa dengan mudah menerima berita palsu adalah kurang punya pengetahuan tentang hal yang ia baca atau dengar.

Jadi jika ia membaca tentang suatu hal berbau saintifik yang kurang dipahaminya, ia langsung percaya tanpa mau repot-repot mengecek kebenarannya.

Contohnya bisa kamu lihat pada berita hoax soal makanan palsu seperti bubuk kopi instan yang mudah terbakar, biskuit plastik, beras plastik, sampai telur palsu. Bahkan pelaku penyebaran video telur palsu juga mengakui, alasannya memercayai dan membagikan video karena ia kurang punya pengetahuan tentang isu yang dibahas.

Editor’s Pick


2. Kurangnya kemampuan berpikir kritis

via pisabay.com/pexels

Pada saat membaca postingan, baik di media massa, media sosial, atau instant messenger, pernah nggak mencoba untuk berpikir kritis?

Berpikir kritis itu yang seperti apa?

Jadi ketika kamu melihat suatu artikel atau postingan, kamu nggak langsung mentah-mentah menelan isinya. Kamu bakal menganalisa berita tersebut terlebih dahulu, mencari informasi yang relevan, membandingkan informasi dari sumber lainnya, lalu membuat kesimpulan berdasarkan semua informasi yang kamu dapat.

Dengan melakukan hal tersebut, kamu bisa terhindar dari berita hoax.

3. Realisme naif

via pisabay.com/stocksnap

Ketika kita mendengar atau melihat sesuatu yang sejalan dengan keyakinan kita, bakal ada kecenderungan bagi kita untuk langsung memercayainya. Hal inilah yang dinamakan dengan realisme naif.

Contoh sederhananya seperti ini:

Misalnya kamu ngefans berat sama Lionel Messi. Ketika kamu membaca berita rekor positif Messi selama menjadi pemain bola, secara otomatis kamu pasti bakal langsung percaya, terlepas berita itu benar atau nggak.

Tapi saat kamu membaca berita soal penggelapan pajak yang dilakukan Messi, pasti ada keraguan dan penyangkalan soal hal itu. Bahkan bisa jadi kamu menganggap itu adalah berita hoax.

Nah, hal inilah yang sering terjadi di kehidupan kita. Fenomena ini juga sudah pernah dibahas pada penelitian yang dilakukan oleh Emily Pronin, Daniel Y. Lin, dan Lee Ross. Well, nggak kaget juga sih, sebagian manusia memang hanya mau mendengar apa yang ingin mereka dengar.

4. Peran media abal-abal

Rentannya masyarakat dalam menerima berita hoax bukan hanya salah pembaca saja, tapi media juga turut andil. Terutamanya sih, media abal-abal yang nggak menerapkan Kode Etik Jurnalistik. Cuma karena suatu berita meragukan ditulis oleh sekolompok orang yang mengaku tergabung dalam satu media, nggak lantas menjadikan beritu itu bisa kamu percaya.

Nggak ada salahnya jika kita menelusuri latar belakang media yang menulis berita meragukan, terutama kalau nama media itu nggak pernah kamu dengar sebelumnya.

Pengin tahu lebih lanjut gimana caranya mendeteksi berita hoax? Kamu bisa baca artikel ini.

Komentar:

Komentar