10 Hal yang Umum Dilakukan di Zaman Kuno, tapi Bakal Aneh Banget di Zaman Sekarang

Kayaknya saya nggak akan betah hidup di zaman Romawi

:

Zaman sekarang, teknologi dan ilmu pengetahuan sudah berkembang pesat jika dibandingkan dengan ratusan tahun yang lalu. Berkembangnya teknologi juga memudahkan para peneliti sejarah untuk mengungkap peradaban zaman dulu. Uniknya, semakin jauh peradaban lama ditelusuri, semakin banyak hal menarik yang bisa kita temukan.

Contohnya kayak daftar di bawah ini, yang bakal menjelaskan beberapa praktik dan aturan zaman dulu yang terkesan aneh kalau diterapkan di zaman sekarang. Dilansir dari Bright Side, yuk langsung aja kita telusuri daftarnya.

1. Zaman dulu, wanita menggunakan belerang untuk mewarnai rambut

17779010-sss-1512978840-650-5caa4c2801-1513105341
via brightside.me

Sejak zaman kuno, orang-orang sudah mulai mewarnai rambut mereka. Tapi kurangnya pengetahuan tentang bahan kimia dan efeknya membuat mereka salah kaprah. Contohnya penggunaan belerang.

Wanita Yunani dan Romawi kuno biasa menggunakan belerang yang dicampur bahan kimia lain untuk mewarnai rambut mereka secara permanen. Padahal, penggunaan belerang dalam jangka panjang bisa berakibat buruk terhadap kesehatan.

Larutan basa yang bisa menyebabkan karat juga sempat populer di tahun 1700-an di kalangan kaum perempuan Italia. Larutan tersebut digunakan supaya bagian rambut yang ikal berwarna keemasan.

Duh, pengin kelihatan cantik kok sampai mengorbankan kesehatan gitu ya. Wajar sih, mereka kan belum tau, hehe.

2. Masyarakat Mesir kuno mencukur habis alis mereka untuk menghormati kucing yang meninggal

17779060-BeFunkyCollage-1512978050-650-4ae496a5b7-1513105341
via brightside.me

Jangan heran, guys. Masyarakat Mesir kuno sangat memuja kucing dan menjadikannya sebagai hewan favorit. Kucing juga dipercaya bisa membawa keberuntungan bagi keluarga yang memeliharanya. Bahkan salah satu Dewi Mesir kuno, Bastet, yang merupakan Dewi Penjaga Rumah dan Dewi Kesuburan, digambarkan sebagai wanita berkepala kucing.


Kucing dianggap hewan sakral, dan siapa pun orang yang melukai atau membunuh kucing bakal langsung dijatuhi hukuman mati. Oleh karena itu, keluarga Mesir kuno rela mencukur alis sebagai tanda penghormatan terakhir bagi kucing mereka yang meninggal. Setiap makam keluarga biasanya memiliki mumi kucing di dalamnya.

Hmm… tapi kenapa mesti alis ya? Entahlah.

3. Dokter menggunakan bawang putih untuk memeriksa kehamilan

17779110-SUHAD-TELLS-TUT-SHE-IS-PREGNANT_-DAY-49_0035-1512974610-650-8b1e1dd3ed-1513105341
via brightside.me

Pada zaman dulu, kurangnya pengetahuan yang detail tentang anatomi tubuh juga bikin dokter kebingungan saat menjelaskan kenapa ada wanita yang bisa hamil dan ada yang tidak. Tapi, mereka sempat menggunakan beberapa metode alami untuk mengetes kehamilan.

Pada tahun 1350 SM, para wanita dianjurkan untuk melembabkan biji gandum dengan urin mereka. Kalau biji itu tumbuh, tandanya wanita tersebut telah hamil. Metode kuno lain yaitu dengan cara memasukkan bawang merah atau bawang putih ke dalam kemaluan. Setelah dimasukkan, keesokan harinya dokter akan mencium napas si wanita. Jika napasnya beraroma bawang, berarti tandanya wanita itu sedang hamil.

Kebayang ribetnya kalau praktik ini masih diterapin di zaman sekarang.

4. Seorang ayah “diperbolehkan” membunuh kekasih anak perempuannya

17779210-1-ancient-rome-wedding-1512889907-650-b8caa908cb-1513105341
via brightside.me

Seorang ayah punya pengaruh yang sangat kuat terhadap seluruh anggota keluarga, termasuk dalam menentukan pasangan bagi anak perempuannya. Apalagi di Romawi, aturan di sana ketat banget. Anak perempuan nggak boleh punya hubungan intim dengan pria mana pun sebelum menikah.

Kalau misalnya anak perempuan ketahuan melakukan hubungan intim, sang ayah berhak membunuh kekasih, dan bahkan anak perempuannya sendiri.

5. Pada zaman Romawi, seorang ayah boleh menjual anaknya sebagai budak, tapi hanya tiga kali

youtubecom
via youtube.com

Nah, ini dia nih contoh lain dari pengaruh ayah sebagai kepala keluarga di zaman Romawi. Karena punya kekuasaan penuh atas rumah beserta isinya (istri dan anak-anak), seorang ayah berhak memutuskan apakah akan merawat atau membuang bayi yang baru lahir.

Para ayah juga diberikan kuasa untuk menjual anak mereka sebagai budak. Kalau yang membeli budak tak lagi membutuhkan jasanya, dia akan dikembalikan ke ayahnya.

Tapi setiap ayah hanya diperbolehkan menjual anaknya sebanyak tiga kali. Jika lebih dari itu, dia bakal dicap sebagai orang tua jahat dan dijatuhi hukuman.

“Ayah yang baik cuma ngejual anaknya 3 kali lho,” mungkin gitu kata iklan yang disebar di Romawi dulu.

6. Perempuan tak dibolehkan menangis di pemakaman

17779260-Death-Meleager-1512977070-650-27b8a339f3-1513105341
via brightside.me

Upacara pemakaman Romawi kuno biasanya dimulai dengan membawa jenazah menuruni jalan. Semakin banyak orang yang datang ke upacara pemakaman, semakin tinggi juga status sosial orang yang meninggal itu. Nah, maka dari itu, demi status sosial, keluarga Romawi sengaja menyewa beberapa wanita khusus untuk menangis dipemakaman.

Nggak cuma nangis aja, wanita-wanita itu juga kadang meronta-ronta, menjambak rambut, bahkan mencakar pipi hingga berdarah supaya kesedihannya terlihat meyakinkan. Duh, ini sedih apa gila ya?

Tradisi tersebut kemudian dilarang karena dianggap negatif dan sama sekali tak mencerminkan kehidupan masyarakat Romawi yang tenang.

7. Para dokter biasa melubangi kepala pasien untuk melepaskan roh jahat

17779310-000imagem-1512897392-650-cb3009e49d-1513105341
via brightside.me

Percaya atau enggak, trepanasi atau melubangi tengkorak merupakan metode pengobatan yang paling populer di zaman kuno. Dengan melubangi tengkorak, dokter percaya pasien bisa sembuh dari sakit kepala, kejang-kejang, dan infeksi.

Tapi pasien yang terkena demam atau pilek juga bisa ditrepanasi kalau dokter menyarankannya. Soalnya, orang kuno dulu percaya penyebab utama berbagai macam jenis penyakit adalah roh jahat yang terjebak di dalam kepala pasien.

Yup, melubangi tengkorak berarti memberi jalan bagi roh jahat untuk keluar dari tubuh si pasien, sekaligus meredakan penyakit yang diderita pasien.

Untungnya, praktik berbahaya ini sudah ditinggalkan di akhir Zaman Pertengahan.

8. Bola kaca dan karet tanah digunakan sebagai implan payudara

17779410-molly-malone-2539611_1280-1512900634-650-dcc34646fa-1513105341
via brightside.me

Sejak zaman dulu, penampilan sudah menjadi hal yang penting bagi kaum wanita. Berbagai cara diterapkan untuk merawat penampilan, termasuk memijat payudara supaya terlihat lebih besar.

Kalau sekarang sih ngggak perlu pijat berulang-ulang kali ya, soalnya udah ada operasi implan payudara. Tapi kamu perlu tahu, operasi payudara pertama kali dilakukan pada tahun 1895 oleh Vincenz Czerny. Waktu itu dokter memotong tumor di salah satu payudara pasien, dan kemudian mencari cara bagaimana supaya ukuran payudaranya kembali lagi seperti semula.

Dari situ operasi implan payudara mulai dilakukan oleh para dokter, meskipun operasinya masih memanfaatkan bahan-bahan seperti gading, bola kaca, karet tanah untuk mengisi payudara pasien.

9. Kotoran hewan dimanfaatkan menjadi obat berbagai macam penyakit

junior.tigtagcarolinecom
via junior.tigtagcaroline.com

Kalau yang ini mungkin sebagian dari kalian udah pada tahu. Pada zaman kuno, kotoran hewan digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit.

Kotoran buaya misalnya, dipercaya oleh wanita Yunani kuno sebagai alat kontrasepsi yang ampuh. Untuk cara kerjanya sendiri, kotoran buaya itu biasanya dimasukkan ke dalam kemaluan mereka. Hmm… sudahlah, nggak usah kamu bayangkan.

Pasukan Mesir kuno juga nggak mau ketinggalan. Mereka suka melumuri kotoran hewan pada luka-luka di tubuh mereka. Ada pula orang Skotlandia yang dulu suka menggunakan kotoran kambing untuk menyembuhkan cacar dan kotoran babi untuk menghilangkan mimisan.

10. Di zaman Romawi sudah ada WC umum, tapi…

17778960-25298s3-1512879979-650-3446edadbf-1513105341
via brightside.me

Orang-orang Romawi terkenal pandai memelihara kebersihan tubuh. Ngak heran kalau waktu itu sudah ada tempat pemandian dan toilet umum bagi masyarakatnya.

Tapi sudah tentu toilet umum yang kita bicarakan nggak seperti toilet-toilet zaman sekarang. Toilet zaman Romawi dibuat dari kayu atau batu panjang yang dilubangi setiap (kira-kira) satu meter. Dan di bawah lubang tersebut terdapat aliran air.

Nggak ada sekat yang membatasi satu toilet dengan yang lainnya. Jangan tanya mengenai privasi pada orang-orang Romawi kuno deh. Karena bagi mereka privasi bukan hal yang begitu penting. Walaupun saya nggak bisa membayangkan gimana jadinya kalau ada yang lagi diare. Orang yang duduk di sebelahnya mungkin harus rela mencium aroma menyengat dan melihat ekspresi muka si penderita diare.

Nah, itu dia hal-hal aneh yang dilakukan masyarakat zaman dulu. Peradaban mereka mungkin jauh berbeda dengan peradaban kita yang lebih modern, dan apa yang dijelaskan di artikel ini mungkin terasa ganjil jika diterapkan di masa sekarang. Tapi di sisi lain, peradaban zaman dulu punya peranan penting dalam mewariskan ilmu dan teknologi yang terus dikembangkan oleh generasi selanjutnya.

Semoga informasi ini bermanfaat, guys!

Komentar:

Komentar