:

Di zaman modern ini, rasanya bukan lagi hal aneh kalau kita melihat anak muda berumur 20-30 tahun yang memulai usaha jualan online. Tapi entah karena bingung mau memulai dari mana, banyak dari mereka yang kurang melakukan persiapan saat memulai bisnis. Dan itu pun termasuk persiapan yang sifatnya mendasar.

Jadi kalau kamu merasa bingung saat memulai bisnis, tenang saja. Banyak anak muda seumuran kamu yang juga masih dilanda kebingungan.

Jenderal yang hebat nggak akan terjun ke peperangan tanpa menyiapkan strategi; pengusaha yang cakap nggak akan memulai bisnisnya tanpa membuat persiapan. Untuk itulah artikel ini bakal menyajikan tips khusus buat kamu yang tertarik memulai bisnis online.

1. Pikirkan masak-masak produk atau jasa yang akan dijual

via pexels.com

Menentukan produk atau jasa yang akan dijual nyatanya memang nggak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk memulai, kamu bisa memilih jenis produk yang dibutuhkan orang banyak dan perputarannya cepat. Atau bisa juga mulai dari apa yang kamu suka. Misalnya, jika kamu penggemar kucing, kenapa nggak buka toko hewan dan perlengkapannya?

Pikirkan dengan matang jika kamu mau berbisnis barang yang lagi ngetren. Karena masalahnya, kamu nggak bisa menjamin apa komoditas macam itu bisa bertahan selamanya di pasaran. Kamu pasti masih ingat gimana popularitas batu akik melejit begitu cepat, hanya untuk kemudian merosot tajam selang beberapa waktu setelahnya. Bila pengin aman, produk atau jasa yang bersifat kebutuhan primer selalu jadi pilihan yang baik.

Setelah selesai menentukan produk gacoan, bakal jauh lebih baik kalau kamu fokus dulu pada produk tersebut. Jangan langsung tergiur dengan prospek keuntungan dari produk lain, jika itu hanya akan bikin kamu keteteran nantinya.

2. Pilih tempat terbaik untuk berjualan

via pexels.com

Dalam menentukan tempat jualan di internet, ada beberapa media yang bisa jadi pilihan: marketplace, situs/blog pribadi, media sosial, dan personal chat. Mereka pun punya karakteristik masing-masing yang bisa berguna banget buat kamu.

Keuntungan menggunakan marketplace adalah kamu nggak perlu memusingkan sistem penjualan yang akan disusun. Untuk mendaftarnya pun gratis, meskipun fiturnya bakal terbatas. Kalau kamu mau pakai fitur yang lebih banyak, beberapa marketplace menawarkan paket-paket khusus yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kamu. Satu kelemahannya, kamu nggak bisa bikin aturan sendiri untuk toko online kamu.

Alternatifnya, kamu bisa buat situs/blog sendiri. Tapi perlu diingat, membuat situs itu nggak sesederhana membuat gorengan. Biaya yang dibutuhkan cukup besar. Apalagi kalau kamu nggak bisa membuatnya sendiri, kamu perlu bantuan pihak ketiga. Dan itu bakal makan biaya yang lebih besar lagi.

Marketplace atau blog sendiri terasa terlalu ribet? Bagaimana kalau media sosial seperti Facebook dan Instagram? Tapi perlu diingat, media sosial nggak mencakup proses penjualan yang utuh. Transaksi jual-beli di media sosial butuh komunikasi tambahan lagi antara penjual dan pembeli, bahkan bisa merambah ke personal chat. Walhasil, untuk satu siklus proses penjualan bisa makan waktu lebih lama. Pertanyaannya, apa kamu punya banyak waktu buat mengurus segala tetek bengeknya?

Sebagai pemula, disarankan sih kamu coba pakai marketplace terlebih dahulu. Sementara media sosial dan personal chat bisa digunakan sebagai bagian dari strategi promosi.

3. Tentukan sasaran dan strategi promosi

via pexels.com

Ada yang bilang ketika seseorang berharap produknya disukai semua kalangan, di situlah ia meletakkan fondasi awal kegagalan bisnis. Sederhananya, produk yang akan dijual harus pula ditentukan sasarannya. Minimal ada tiga hal yang harus diperhatikan saat menentukan sasaran: usia, jenis kelamin, dan profesi.

Untuk menentukan target pasar, cobalah buat target yang spesifik tapi jumlahnya banyak. Contoh jika kamu mau menjual jaket, tentukan pula sasarannya: jaket kamu itu akan dijual untuk kalangan apa? Jaket parasut anti air tentu lebih cocok untuk pengendara motor. Ia bakal kurang cocok ditujukan untuk CEO perusahaan multinasional.

Tapi sebagus apa pun produk yang kamu jual, tanpa promosi semuanya akan jadi omong kosong. Maka dari itulah promosi penting untuk kamu lakukan.

Untuk memulainya, kamu nggak perlu bikin sistem promosi yang ribet ala-ala perusahaan besar. Yang terpenting dari promosi adalah bagaimana produk kamu dikenal seluas-luasnya. Di sinilah media sosial punya peran yang penting. Minimalnya, kamu harus tahu cara kerja dari Facebook Ads dan Instagram Ads.

Lalu, apa yang kamu promosikan? Cobalah berpikir dari sudut pandang konsumen. Daripada kamu berusaha menjual produk secara langsung, nggak ada salahnya untuk sedikit berputar dan mencoba menjual solusi yang ditawarkan produk kamu.

Semua produk dan jasa itu dibuat untuk menjadi solusi bagi permasalahan sehari-hari konsumen. Nah, tugas kamu adalah menemukan solusi tersebut.

4. Buat gambar produk yang menarik

via pexels.com

Ini proses yang nggak kalah penting dari poin yang dipaparkan sebelumnya. Karena bagaimanapun juga, menyediakan gambar produk adalah tanggung jawab kamu sebagai penjual. Gambarnya pun harus jelas, sesuai dengan produk aslinya, dan menarik atensi konsumen.

Jika kamu merasa nggak punya keahlian memotret, jangan asal pilih kameranya. Pilih kamera yang memang menunjang untuk kebutuhan kamu itu.

Mau rekomendasi? Nih, salah satu kamera yang bisa andalkan di situasi seperti ini adalah kamera dari smartphone Xiaomi Mi A2.

Xiaomi Mi A2 sudah dibekali dengan dual kamera belakang, masing-masing 20 MP dan 12 MP. Dengan resolusinya, Mi A2 bisa menghasilkan gambar produk yang ciamik. Itu nggak terlepas dari fitur kamera gandanya yang bisa berfungsi otomatis.

Jadi ketika kondisi cahaya mencukupi, Mi A2 akan menggunakan lensa normal. Tapi ketika smartphone mendeteksi kondisi cahaya yang minim, maka lensa lain yang disebut Super Pixel akan bekerja dengan sendirinya. Fitur Super Pixel memang efektif untuk menangkap lebih banyak cahaya tanpa membuat noise yang berlebihan.

Nggak hanya kameranya yang canggih, Mi A2 juga pas banget buat dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas penjualan kamu. Mi A2 ini termasuk smartphone yang menggunakan Android One lho.

Keunggulan dari Android One sendiri adalah sifatnya yang close source. Artinya segala jenis software hanya akan dipasok oleh Google. Dan itu berdampak pada performa smartphone yang  lebih lancar bila dibandingkan dengan Android biasa.

5. Persiapkan catatan atau laporan sederhana

via pexels.com

Pencatatan. Hal penting ini sering banget dilupakan mereka yang baru terjun memulai bisnis.

“Pentingnya apa memang? Memori saya ini kuat lho! Saya nggak butuh yang namanya pencatatan.” Seberapa pun kuatnya daya ingat kamu, tetap ada batasannya. Dan lagi,  catatan bisa jadi dasar untuk menganalisa perkembangan bisnis kamu ke depannya.

Catatan yang harus kamu buat meliputi, tapi nggak terbatas pada: laporan penjualan, data konsumen, jumlah barang, dan analisa tren. Meskipun kurang lengkap, di marketplace berbayar fitur ini sudah ada.

Untuk mendapat catatan yang akurat dan lengkap, pilihan palin bagus ya memang dengan membuat situs sendiri. Biasanya, situs e-commerce dilengkapi dengan fitur untuk menampilkan laporan-laporan yang dibutuhkan, agar kamu lebih mudah mengambil keputusan ke depannya.

Namun untuk pemula, kamu bisa membuat laporan secara sederhana di Excel.

Berani memulai itu penting. Tapi tanpa perencanaan yang matang, usaha kamu nggak akan bisa berkembang. Oleh karena itu, sebelum memulai bisnis, persiapkan dulu semua yang kamu butuhkan, termasuk smartphone yang bisa menyokong usaha.

Masih mau asal pilih smartphone meskipun kamu tahu Xiaomi Mi A2 punya segala fitur yang kamu butuhkan?