Di zaman ini, rasanya nggak salah kalau kita menyebut smartphone sebagai kebutuhan primer. Iya, smartphone kini nggak lagi jadi kebutuhan sekunder, tapi sudah bisa disamakan dengan nasi dan pakaian.

Itu bukan pernyataan yang berlebihan, lho. Jumlah pengguna smartphone di Indonesia semakin lama semakin meningkat. Berdasarkan data dari Statista, tahun 2018 jumlahnya mencapai 45,4 persen. Prediksi tahun 2019 jumlah itu bakal meningkat 2,2 persen. Itu hampir separuh dari total penduduk Indonesia!

Jumlah pengguna smartphone di Indonesia/via statista.com

Tapi, dengan jumlah sebanyak itu, apa pengetahuan mengenai penggunaan smartphone yang baik dan benar sudah memadai? Karena kenyataannya, masih ada sebagian pengguna melakukan hal-hal yang dapat berpotensi merusak smartphone, terutama baterainya.

Nih, coba lihat daftarnya.

1. Tak pernah dikalibrasi

via androidcentral.com

FYI, sistem operasi smartphone mempunyai aplikasi yang digunakan untuk melacak kapasitas baterai, seperti aplikasi Battery Stats di Android.

Masalahnya, ada kalanya Battery Stats ini menjadi kurang peka dan nggak menampilkan kapasitas baterai yang sesungguhnya. Misalnya indikator baterai masih ada di angka 25%, tapi tiba-tiba smartphone mati kehabisan baterai.

Nah, di momen seperti inilah kalibrasi baterai bakal menjadi pahlawan bagi kita semua. Pasalnya kalibrasi dapat membuat kapasitas yang ditampilkan bakal sesuai dengan kapasitas asli. Kalau baterai tinggal 15%, ya berarti memang sisa 15%. Nggak lebih dan nggak kurang.

Cara melakukannya cukup mudah, yaitu:

  1. Gunakan smartphone sampai mati dengan sendirinya. Pastikan gawai benar-benar mati dengan cara hidupkan lagi sampai mati.
  2. Dalam keadaan mati, isi ulang daya baterai smartphone sampai indikator menunjukkan angka 100 persen.
  3. Setelah itu cabut charger dan nyalakan smartphone.
  4. Biasanya sih kalau memang bermasalah, indikatornya nggak bakal menunjukkan angka 100 persen. Charge lagi smartphone sampai 100 persen dan cabut setelah penuh.
  5. Restart smartphone dan periksa indikator. Kalau belum 100 persen, ulangi terus sampai indikator menunjukkan angka 100 persen.

Ada satu hal yang perlu kamu ingat: jangan terlalu sering melakukan kalibrasi. Setidaknya lakukan sekali di awal setelah membeli smartphone, dan lakukan lagi hanya pada saat baterainya bermasalah.

Sangat nggak disarankan untuk membiarkan smartphone mati kehabisan baterai. Dalam jangka panjang, kebiasaan seperti itu bisa merusak smartphone.

2. Diletakkan di tempat yang terlalu panas

via techradar.com

Kebiasaan lain yang dapat merusak baterai adalah meletakkan smartphone di tempat yang berpotensi membuatnya kegerahan. Sebut saja di dalam mobil yang panas, saku celana yang ketat, atau di tempat yang terkena matahari langsung. Suhu panas tersebut bisa bikin baterai smartphone ikutan panas, sekaligus berpotensi memperpendek umur dari smartphone kamu.

Normalnya, baterai sudah dirancang untuk tahan di rentang suhu tertentu. Jika melebihi suhu yang sudah ditetapkan, komponen baterai akan terpengaruh. Komponen lain pun akan bekerja keras untuk menurunkan suhu tersebut.

Otomatis komponen smartphone kamu bakal kerja romusha secara terus-menerus tanpa henti.

3. Nggak memakai charger bawaan saat mengisi ulang daya baterai

via psafe.com

Pabrikan smartphone sudah merancang perangkat mereka sedemikian rupa, termasuk kompabilitas antara baterai dengan charger. Itulah kenapa mereka nggak mungkin mengkomersialisasi charger dan menyuruh pembeli membelinya secara terpisah. Charger itu nggak sama dengan earphone.

Bila kamu nggak malas membaca buku panduan yang biasanya ada di dalam dus smartphone, di situ pasti tertulis kalau kita wajib banget memakai charger bawaan. Orang yang menulis buku panduan pun menulis info tersebut bukan karena iseng nggak ada kerjaan. Itu dilakukannya untuk meminimalisir kemungkinan baterai smartphone kamu menjadi bapuk dan cepat rusak.

4. Terlalu sering charge dan cabut

via mnn.com

Kalau ingin baterai smartphone nggak cepat rusak, sebisa mungkin hindari kebiasaan ini. Setiap smartphone itu pasti punya batas battery cycle count masing-masing. Setiap kita menancapkan kabel charger dan mencabutnya, battery cycle count akan bertambah satu. Entah itu dari 5 persen ke 100 persen atau dari 60 persen ke 65 persen, hitungannya tetap bertambah satu.

Nah, setelah melebihi batas battery cycle count, baterai smartphone bakal rentan rusak.

Biasanya kasus yang sering terjadi tuh yang seperti ini: pagi hari charge smartphone seperlunya, kemudian dipakai sampai kritis. Sore hari charge lagi sebutuhnya, kemudian pakai lagi. Lalu pada malam hari sebelum tidur, kamu charge lagi smartphone sampai pagi.

Sampai di sini, kamu sudah menggunakan tiga jatah cycle count hanya dalam satu hari. Kalau misal batasnya 100 kali, bisa-bisa cuma awet berapa hari tuh smartphone?

Lalu, solusinya bagaimana?

Pertama, usahakan charge smartphone sampai penuh tanpa intervensi. Kedua, jangan charge smartphone jika baterainya masih di atas 50 persen.

Solusi yang lain, gunakan smartphone yang punya kapasitas baterai super besar, seperti Samsung Galaxy M20. Dengan kapasitas baterai sebesar 5000 mAh, kamu bisa meminimalisir jumlah colok-cabut dalam sehari. Dari yang biasanya siang hari baterai sudah habis, baterai Samsung Galaxy M20 bisa awet sampai seharian, tapi itu tergantung penggunaannya juga ya.

Ditambah lagi Samsung Galaxy M20 punya fitur fast charging yang bisa membuat durasi menunggu baterai penuh menjadi lebih singkat.

5. Memakai smartphone sambil mengisi ulang baterai

Selain poin sebelumnya, mungkin ini kebiasaan yang paling sering dilakukan pengguna smartphone. Sebenarnya ini nggak begitu bermasalah selama baterai nggak sampai panas, karena teknologi smartphone sekarang sudah cukup canggih.

Tapi, karena terkadang kita keasyikan memakai smartphone, kita jadi nggak sadar suhunya sudah terlalu panas. Terlalu sering seperti itu, baterai smartphone pun lama-lama bisa jadi “bunting”. Dan karena kebanyakan smartphone zaman sekarang baterainya nggak bisa dicopot alias baterai tanam, maka kebuntingan ini bisa sampai merusak komponen yang lain. Kayak ini nih contohnya.

via naldotech.com

Kalau nggak ingin kasus semacam itu terjadi pada hp kamu, ada dua solusi yang bisa kamu pilih. Pertama, bersabar dan menghentikan penggunaan smartphone saat sedang proses charging. Kedua, pilih hp fast charging seperti Samsung Galaxy M20.

Logikanya semakin besar kapasitas baterai, maka waktu pengisiannya juga bakal makan waktu. Tapi beda dengan Samsung Galaxy M20. Dengan baterainya yang berkapasitas 5000 mAh, dipakai untuk nonton atau main game selama berjam-jam lamanya pun nggak masalah. Kamu nggak perlu khawatir baterainya bakal cepat habis.

Oh ya, Samsung Galaxy M20 sudah launching di bulan Februari ini. Hebatnya lagi, saat flash sale perdananya tanggal 14 Februari 2019 di Lazada, JD.id, dan Blibli, Samsung Galaxy M20 langsung ludes cuma dalam waktu 15 menit!

Tapi, tenang. Sekarang stoknya masih ada, kok. Kamu masih bisa mendapatkan Samsung Galaxy M20 dengan dua cara. Pertama, kamu bisa beli di tiga e-commerce tersebut. Cara kedua, kamu bisa memenangkan Samsung M20 secara cuma-cuma dengan ikutan #SobatAntiLowbat Lyp Sync Challenge. Coba kamu cari tahu syarat dan ketentuannya di laman ini. Buruan, periode pemilihan pemenangnya dimulai dari tanggal 19 Februari 2019 sampai dengan 12 Maret 2019.

Kapan lagi coba kamu bisa dapat smartphone murah yang bisa dipakai untuk menelepon sampai 28 jam, 17 jam untuk nonton video, dan 100 jam untuk memutar musik? Jangan lupa juga untuk follow akun Instagram dan Twitter resmi Samsung Indonesia, biar kamu bisa terus update info soal hp terbaru dari Samsung.

Advertisement

3K Shares