Tak semua orang di dunia ini bakalan rela jika mereka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Toh, kamu pun pasti menyimpan sedikit rasa kesal kalau orangtua membandingkan kamu dengan anak tetangga yang sukses jadi juragan beras, misalnya.

Tapi mau bagaimana lagi, terkadang dunia ini berlaku keras terhadap penghuninya. Sadar tak sadar kita juga selalu membandingkan suatu hal dengan hal lainnya. Tak perlu jauh-jauh membicarakan kehidupan sosial deh, saat nonton film saja kita suka mendapat dorongan untuk membandingkan dengan film lain. Iya, ‘kan?

Maka dari itulah, dalam artikel ini Selipan mengajak kamu untuk membandingkan film horor populer dari Asia dengan versi remake yang diproduksi Hollywood. Mana menurut kamu yang lebih seram?

1. Ringu (1998) vs The Ring (2002)

Anak generasi millennial dan generasi Z mungkin bakal dibuat kebingungan saat nonton dua film ini. Alasannya apalagi kalau bukan karena dua film ini menampilkan satu benda asing yang berbentuk kotak: kaset VHS. Jadi, baik dalam Ringu maupun versi remake-nya, siapa pun orang yang nonton video di kaset VHS tersebut bakalan mati dalam tujuh hari.

Lupakan sejenak tentang VHS, Ringu dan The Ring umumnya sama-sama dapat respons positif dari penonton maupun kritikus. Dari sisi ceritanya pun hampir tak ada perbedaan besar. Hal mencolok yang membedakan kedua film tersebut terletak pada penampakan karakter antagonisnya dan konten dari video terkutuk.

Di Ringu, karakter antagonisnya dinamai Sadako Yamamura; di The Ring, namanya adalah Samara Morgan. Di Ringu, mukanya Sadako tak pernah diperlihatkan karena tertutupi rambut; di The Ring, Samara sempat memperlihatkan mukanya yang kurang sedap dipandang.

Ya iyalah, namanya juga hantu, masa masih kelihatan cantik.

Samara Morgan vs Sadako Yamamura, lebih seram mana?/via youtube.com

Sutradara tentu punya alasan sendiri kenapa ia memperlihatkan wajah Samara Morgan. Dan kamu pun pasti punya selera sendiri: apakah hantu yang mukanya tertutupi dan dengan perlahan berjalan mendekati kamu lebih menyeramkan? Atau malah hantu yang masang muka garang?

2. Chakushin Ari (2003) vs One Missed Call (2008)

Jika kutukan di Ringu/The Ring tersebar lewat kaset VHS, One Missed Call mengandalkan ponsel untuk menyebar kutukan.

via horrorjapan.com

Mungkin inti cerita yang hampir mirip ini (sama-sama kutukan, hanya beda media penyebarnya) yang jadi penyebab kenapa One Missed Call tak setenar Ringu. Dan mungkin kamu yang sering nonton film horor Asia, terutama horor Jepang arahan sutradara Takashi Miike, tak akan terlalu terkejut melihat adegan brutal yang ada dalam One Missed Call.

Jadi, apa One Missed Call versi remake lebih bagus daripada versi originalnya?

Tak bisa dibilang begitu juga. Meskipun dari segi kebrutalan terhitung tak sedahsyat dibanding karya Miike lainnya, semisal Audition, One Missed Call versi original masih mampu menampilkan atmosfer horor yang mencekam. Adegan kematian karakter benar-benar diolah untuk membuat kita tak nyaman melihatnya. Itu mungkin berkat pengalaman Miike dalam menyutradarai genre horor-thriller.

Sementara versi remake-nya cenderung kurang memberikan sesuatu yang baru dibanding apa yang disajikan versi originalnya. Perbedaan paling kentara mungkin ada pada nada dering yang diterima setiap calon korban sebelum mereka kehilangan nyawa. Dalam One Missed Call versi original, nada deringnya seperti ini…

Dan ini ringtone yang hadir dalam versi remake

3. Shutter (2004) vs Shutter (2008)

Pernah melihat foto penampakan? Premis itulah yang kurang lebih diangkat oleh Shutter. Film dari Thailand ini mengisahkan sepasang kekasih yang sering diganggu hantu wanita. Kebetulan karakter utama film ini merupakan seorang fotografer.

Dari premis tersebut, kamu pasti bisa menebak di mana hantu tersebut muncul. Ya, di foto hasil jepretan dari sang karakter utama.

Adegan paling ikonik dari film Shutter/via tagalogmovies.club

Sama seperti One Missed Call, versi Hollywood dari Shutter tak terlalu mengalami perombakan signifikan dari sisi ceritanya. Perbedaan mencolok hanya terletak pada akting aktor-aktornya. Jika kamu kurang mengerti apa maksud dari pernyataan tersebut, coba saja kamu bandingkan sendiri Shutter versi remake dan originalnya.

Aktor yang meresapi perannya dibutuhkan banget untuk membuat kita terhanyut menikmati tontonan, terlebih lagi film horor. Dan inilah yang kurang mampu ditunjukkan Shutter versi remake. Shutter ala Hollywood terasa seperti film yang menampilkan jalan cerita yang nyaris serupa dengan film aslinya, hanya saja aktor-aktornya dari barat, settingnya di Jepang, dan kadar horornya lebih inferior.

4. Ju-On (2000 & 2003) vs The Grudge (2004)

Film horor dari Jepang kayaknya memang tak bisa lepas dari yang namanya kutukan ya. Ju-On pun tak ketinggalan dengan memasukkan unsur kutukan dalam wujud sebuah rumah. Video bisa dikutuk, ponsel dikutuk, rumah juga dikutuk. Bisa-bisa tak ada tempat yang aman lagi di Jepang.

Tapi sedikit berbeda dengan tiga judul film di atas, Ju-On memiliki plot yang tak linear. Dari awalnya menceritakan tentang satu karakter, cerita bisa langsung berpindah ke karakter lain. Tempo dan suasana horornya pun dibangun dengan agak lambat. Kamu yang suka dibikin kaget oleh jumpscare mungkin harus sedikit bersabar untuk dipuaskan saat nonton Ju-On. Tapi begitu sampai ke adegan puncak, kamu mungkin bakal dibuat meringkuk ketakutan di atas kursi.

via bloodygoodhorror.com

Dan untungnya keunikan dari Ju-On itu bisa “diterjemahkan” dengan baik dalam The Grudge. Apa yang membuat Ju-On terasa begitu menyeramkan, bisa kita lihat juga di The Grudge. Meskipun ada beberapa detail kecil yang agak berbeda, seperti adegan ikonik ketika Kayako tiba-tiba muncul dari  dalam selimut, tapi itu tak berpengaruh besar pada keseluruhan film.

Jadi, apa kamu sudah dapat kesimpulan sekarang? Mungkin juga kamu bisa dapat jawaban kenapa banyak film horor Asia yang dibuat ulang Hollywood seringkali gagal. Kalau mau, kamu bisa nonton film-film di atas, lalu coba bandingkan langsung.

Tapi biar kegiatan menonton film horor kamu makin seru, terutama buat kamu yang sehari-harinya banyak menghabiskan waktu di jalan, coba deh nonton pakai Nokia 6.1 Plus. Ukuran layarnya yang mencapai 5,8 inch membuat Nokia 6.1 Plus jadi pilihan yang sesuai dalam menunjang aktivitas hiburan kamu dengan lebih maksimal. Layarnya pun sudah beresolusi Full HD, dilapisi dengan Corning Gorilla Glass untuk melindungi dari goresan pula. Saking jernih dan tajamnya layar Nokia 6.1 Plus ini, jerawatnya Valak juga bisa-bisa bakal kelihatan jelas tuh.

Untuk kinerja prima, Nokia 6.1 Plus berjalan dengan sistem operasi Android One yang bisa mendapat update dengan lebih cepat. Sementara di sisi dapur pacunya, Nokia 6.1 Plus dipersenjatai dengan chipset Qualcomm Snapdragon 636, dengan RAM 4 GB dan memori internal 64 GB yang masih bisa ditambah microSD hingga 400 GB. Jadi tak perlu khawatir untuk menyimpan beragam film atau lagu ke dalam ponsel ini!

Selain itu, dengan didukung port charging USB Type-C, Nokia 6.1 Plus juga menyematkan baterai berkapasitas 3060 mAh, yang bikin kamu tak perlu takut kehabisan daya dengan cepat saat beraktivitas sepanjang hari.

Senang selfie? Kamera depannya punya resolusi 16 MP dan udah mendukung teknologi AI. Nokia 6.1 Plus juga dibekali dual kamera beresolusi 16 MP + 5 MP dengan fitur HDR, dual tone flash, serta mampu merekam video berkualitas 1080p. Yang lebih seru lagi nih, Nokia 6.1 Plus punya fitur Bothie Mode yang membuat kamu bisa mengabadikan momen dari kamera depan dan belakang secara bersamaan.

Hmm, sebentar, sebentar. Saya masih belum ngerti nih. Maksudnya Bothie mode itu apa ya?” Daripada bingung, coba cek video di bawah:

Banyak ya fiturnya. Memang sih, walaupun zaman sekarang juga banyak smartphone dengan harga miring dan spesifikasi yang lumayan canggih, tapi belum tentu awet. Beda dengan Nokia 6.1 Plus, mau terus dipakai untuk nonton atau update status di medsos tentang film-film yang kamu tonton pun bakalan lancar jaya. Awet, dah!

Hobi nonton, masa pakai smartphone yang kurang mendukung hobi kamu itu. Makanya buruan ganti smartphone kamu dengan Nokia 6.1 Plus, kamu pun bisa nonton kapan pun dan di mana pun dengan puas deh.

Shares 10K