Saat Kamu Pengin Putus tapi si Pacar Maunya Tetap Lanjut, Apa yang Harus Dilakukan?

Artikel ini bukan buat jomblo ya, mblo...

:

Yang namanya putus dengan pacar memang nggak pernah menyenangkan… bagi pihak yang diputusin. Pihak yang mutusin sih pasti punya alasan kenapa mereka lebih memilih putus. Mau itu karena alasan sepele atau alasan yang menyangkut hidup dan mati, toh mereka sudah memutuskan.

Tapi itu bukan berarti mutusin pacar semudah membalikkan telapak kaki.

via byrslf.co

Ya, buat sebagian orang, mutusin pacar itu nggak gampang lho. Mereka nggak bisa begitu saja bilang putus, terus pergi kayak playboy atau buaya-buaya yang haus akan perhatian. Entah karena nggak enakan, nggak tega ngomongnya, si pasangan menolak buat diputusin, atau malah kombinasi ketiganya.

Daripada kamu terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, mending kamu nggak usah memaksakan diri, meski itu pahit bagi kalian berdua.

1. Utarakan dengan mantap apa yang kamu inginkan

via Love Letter Box

Mungkin sebelumnya kamu sudah pernah minta putus. Tapi berapa kali pun kamu minta putus, dia tetap menolaknya. Dan karena kamu nggak tega lihat dia nangis sesenggukan sembari memohon-mohon, akhirnya kalian masih tetap bersama.

Kalau kamu punya pengalaman kayak gitu, itu artinya kamu kurang tegas.

Kali ini kamu cari waktu dan momen yang tepat untuk memutuskan hubungan dengan pasangan. Katakan dengan nada tegas dan lugas, sambil bertatap muka, tanpa tapi-tapian, dan tanpa baper-baperan. Memang terdengar cukup kejam. Tapi percayalah, itu demi kebaikan kalian juga.


Yang harus kamu hindari: Jangan terkesan ragu-ragu atau terpaksa. Karena kalau dia melihat keraguan dari diri kamu, si doi pasti akan berusaha merubah pikiran kamu. Cukup utarakan dengan tegas bahwa ini adalah keinginanmu sendiri.

Yang harus lebih kamu hindari: Jangan pernah mengutus orang lain untuk mengirimkan permintaan putur ke pacar kamu. Kamu bukan Raja Kamandaka yang perlu juru bicara. Kamu bisa mengutus orang lain untuk meminta putus apabila dia sering berlaku kasar dan suka menganiaya. Kalau gitu masalahnya sih wajib banget ngutus orang lain.

Yang harus lebih sangat kamu hindari: Jangan membagikan masalah kalian ke medsos. Kamu bukan artis yang butuh sensasi untuk tetap eksis ‘kan? Hargailah privasi pasanganmu, simpan masalah kalian, dan jangan biarkan itu jadi konsumsi publik.

Nggak masalah kalau kamu pengin curhat ke teman dekat atau keluarga. Tapi nggak perlu ‘kan sampai adik temannya sepupunya tantemu tahu tentang masalah kalian? Buat apa coba mereka yang nggak kenal kamu dan pasanganmu tahu? Deklarasi kalau kamu jomblo lagi sehingga berharap ada yang modus menghibur? Basi banget sih, kayak orang yang pedekate pakai kata-kata “Kalo kita chat gini ada yang marah, nggak?”.

2. Beri alasan yang jelas

via youtube.com/watch?v=ejkaBA_CVec

Utarakan dengan jujur apa yang membuat hubungan kalian harus diakhiri. Apakah karena sifat dan perilakunya, karena orangtuanya, karena kamu menyukai orang lain, atau karena kebiasaannya menelan upil yang masih basah? Apabila alasanmu jelas dan bisa dipahami, dia pasti akan bisa menerima. Meskipun ada kemungkinan nantinya dia bakal membencimu.

Jangan terbuai dengan alasan bahwa dia akan mengubah sifat dan perilakunya. Nggak semudah itu bagi manusia untuk mengubah sifat aslinya. Terlebih kalau kamu sudah cukup lama menjalin hubungan. Menutupi atau menyembunyikan bisa, tapi tidak dengan mengubah. Pasti akan ada titik di mana sifat aslinya kembali muncul.

Yang harus kamu hindari: Jangan mengada-ada dan mengarang alasan, apalagi pakai alasan “mau fokus sekolah” atau “kamu terlalu baik buat aku”. Kita semua tahu alasan kayak gitu cuma pemanis bibir dan bualan belaka. Terlebih kalau kamu cowok, mending jujur aja deh. Ingat, intuisi wanita itu menyeramkan.

3. Segera pergi dari hidupnya

via Illumin.co

Setelah kamu meminta putus tapi dia tetap bersikukuh tidak mau berpisah, baiknya kamu segera pergi dari kehidupannya. Nggak perlu sampai blok nomer hape dan semua akun sosmednya. Nggak, nggak perlu sejauh itu. Cukup abaikan dan putuskan hubungan yang ada dengannya. Kembalikan semua hadiah darinya, jawab seperlunya saat dia menelepon, atau abaikan update status dan story di akun medsosnya.

Yang harus kamu hindari: Jangan baper dan bersimpati saat dia tiba-tiba menelepon sambil nangis. Kuatkan tekad, satukan tujuan, dan raih cita-cita demi masa depan gemilang tetaplah bersikap normal layaknya teman. Bukan bersikap seperti teman dekat tapinya, nantinya ada kemungkinan dia kegeeran.

Yang harus lebih kamu hindari: Jangan menghilang secara tiba-tiba, apa pun alasannya. Hal itu malah akan menambah runyam dan bikin pasanganmu lebih tersakiti daripada jika kamu memilih untuk mengutarakan niat putus secara langsung.

Setelah membaca tiga tips di atas, dan sebelum kamu mempraktikkannya, coba pikir-pikir dulu apakah keinginanmu untuk putus sudah mantap (disertai latar belakang dan rumusan masalah)? Atau itu hanya karena emosi sesaat? Saya cuma pengin bilang, jangan sampai menyesal setelah ‘berhasil’ memutuskan dia.

Apa kamu punya tips yang lebih ampuh berdasarkan pengalaman pribadi? Coba kamu tulis di kolom komentar.

Komentar:

Komentar