Pernah Lihat Status di Facebook yang Minta Like dan Amin? Ini Alasan Kenapa Kamu Nggak Perlu Mempedulikannya

Biasanya, status itu dilengkapi dengan foto yang menimbulkan rasa iba. Kalau sering buka medsos, kamu pasti pernah melihatnya.

Ketika kamu sedang membuka dan berselancar di media sosial, terutama Facebook, apa kamu pernah menemukan unggahan berupa foto orang, mau itu orang dewasa maupun anak kecil, yang menderita penyakit atau mengalami kecelakaan? Pokoknya, foto itu mengandung unsur musibah dan bisa mengundang rasa iba pada diri kamu.

Tapi nggak hanya itu, foto tersebut juga biasanya dilengkapi sama caption yang menyuruh kamu melakukan sesuatu; kasih like serta komentar “amin”, dan “Share ke teman-teman kamu”. Oh ya, kadang-kadang di akhir caption juga ada kata-kata bernada ancaman yang halus. Misalnya:

“1 kali share = seribu kebaikan dan pahala”; “Semoga yang kasih like nanti bisa masuk surga.”

Atau yang lebih blak-blakan:

Like dan share jika kamu mendukung anti bullying”; “Kasih like dan share jika Anda punya hati/rasa kasihan.”

Itu berarti, kalau kamu nggak kasih like dan membagikan unggahannya, kamu nggak punya hati atau mendukung bullying. Gila… apa kamu sekejam itu? Hehe.

Mau lihat contoh konkret dari unggahan semacam itu? Nih:

via kisahkisahsudah.blogspot.com

Aah, pasti pernah lah ya, lihat unggahan seperti itu. Dan apa yang kamu lakukan kalau kamu menemukannya? Katakanlah, apa kamu menurut sama permintaan si empunya akun karena kamu merasa iba dan ingin menolong, atau malah karena nggak mau dibilang nggak punya hati? Well, apa pun motif yang kamu punya, mulai sekarang bakal jauh lebih baik bila kamu berpikir ulang untuk menuruti permohonannya yang memelas itu.

Alasannya?

Pertama, dengan memberi like dan semacamnya, sebenarnya kamu nggak memberikan pertolongan apa pun untuk si korban kecelakaan atau penderita penyakit yang ada dalam foto. Pun kamu nggak akan mendapat tambahan pahala atau jadi lebih dekat ke surga, terlepas dari niat baik yang kamu punya.

Coba kamu ingat-ingat, apa guru agama kamu dulu pernah bilang kalau ngasih like, komentar “amin”, atau membagikan unggahan di media sosial termasuk ke dalam salah satu bentuk ibadah? Kemungkinan besar sih nggak, ‘kan? Hehehe.

Kedua, kamu telah membiarkan diri dimanfaatkan secara emosional. Maksudnya, unggahan semacam itu pasti bertujuan untuk memanfaatkan rasa simpati kamu dengan cara mengumbar nasib orang lain yang kurang beruntung. Padahal, kamu belum tahu apakah foto orang bernasib sial itu sudah dibuktikan kebenarannya atau belum. Kamu terlanjur menekan tombol like dan share karena sisi emosional kamu sudah keburu terjerat oleh bujuk rayu si empunya akun.

Dan kalaupun kamu nggak kasih like dan menekan tombol share, apa si empunya akun punya hak untuk bilang kamu nggak punya hati? Apa dia punya hak buat ngasih kamu pahala? Hmm… kamu pasti udah tahu jawabannya.

via pixabay.com

Ketiga, si empunya akun nggak hanya memanfaatkan sisi emosional dari pengguna media sosial, tapi dia juga memanfaatkan penderitaan orang yang ada di dalam foto. Masih mending kalau si empunya akun sudah mengantongi izin untuk mengunggah foto si korban. Nah, gimana kalau dia nggak punya izin?

Biasanya, si empunya akun mengambil foto dari internet, lalu menambahkan konteks pada foto tersebut. Contoh kasarnya, dia mengambil foto seseorang yang sedang meregang nyawa. Lalu, dia mengatakan dalam caption, “Orang ini adalah korban penembakan di Suriah. Semoga yang kasih like dan komentar amin bisa masuk surga.” Padahal sesungguhnya, orang yang ada dalam foto bukan korban penembakan di Suriah.

Contoh selanjutnya (saya pernah melihat ini di suatu situs luar negeri), si empunya akun mengunggah foto seorang wanita yang nggak punya rambut sehelai pun di kepalanya. Ia menuliskan caption yang bunyinya kira-kira seperti ini: “Orang ini menderita kanker dan baru menjalani kemoterapi. Kasih like dan bagikan jika Anda peduli padanya.”

Unggahannya tersebut mendapat banyak reaksi positif dari pengguna Facebook. Hingga tiba-tiba si pemilik asli dari foto tersebut muncul dan berkomentar kira-kira seperti ini: “Orang yang ada di foto itu adalah saya, dan saya tidak menderita kanker, apalagi menjalani kemoterapi…”

Dan kebohongan si pemilik akun terbongkarlah sudah. Duh…

Apa Tujuan dari Akun/Halaman Facebook yang Meminta Like, Share, dan Komentar “Amin” Itu?

via pixabay.com

Satu hal yang pasti, si pemilik akun nggak benar-benar peduli pada orang bernasib kurang beruntung yang ada di foto. Tujuan utama mereka bisa dibilang adalah untuk mendapatkan like sebanyak-banyaknya, sehingga popularitas akun yang mereka kelola mengalami kenaikan. Lalu, jika popularitas akun mereka sudah tinggi, mereka bisa saja menjual akun mereka. Mereka juga bisa mengganti apa yang ada di dalamnya dengan iklan, atau yang lebih berbahaya lagi, malware. Terlepas dari apa pun yang dilakukan, hasil akhirnya adalah mereka bisa mendapat keuntungan finansial.

Jadi, jika nanti kamu menemukan suatu unggahan yang katakanlah, menampilkan foto anak penderita penyakit berat, lalu kamu diminta untuk ngasih like atau semacamnya, tolong pikirkan beribu kali sebelum kamu menuruti keinginan si pengunggah. Karena alih-alih menolong anak yang ada dalam foto, like dan “amin” yang kamu berikan justru malah menyebarkan eksploitasi yang dilakukan pada si bocah, sekaligus juga mengalirkan uang pada pundi-pundi si pemilik akun yang notabene pelaku sebenarnya dari pengeksploitasian tersebut.

Nggak akan terjebak lagi ‘kan sama unggahan-unggahan mencurigakan yang meminta like, share, dan komentar “amin”?

 

Sumber: Brightside, Courtneywestlake, Thatsnonsense.

Komentar:

Komentar