Kritikan dan Hinaan: Apa Perbedaan dari Dua Hal Itu dan Bagaimana Cara Tepat Menanggapinya?

Apa kamu suka diam saja bila ada orang lain yang mengkritik kamu dengan pedas?

:

Pernahkah kamu menerima kata-kata pedas yang kurang enak didengar dan cenderung menyakiti perasaan dari teman/keluarga/atasan kamu? Hmm… kamu pasti pernah menerimanya. Bukan hanya kamu malah, hampir semua orang kemungkinan besar pernah menerimanya. Perbedaannya hanya terletak pada bagaimana seseorang menanggapi perkataan pedas tersebut, dan bagaimana ia menamainya: apakah itu sebuah kritikan atau hinaan.

Itu pula yang menjadi dasar ditulisnya artikel ini, untuk mengantisipasi pencampuradukan antara kritikan pedas dan hinaan. Selain menjelaskan perbedaan antara kritikan pedas dan hinaan, artikel ini juga akan mencoba menjelaskan bagaimana menanggapi sebuah kritikan dengan baik, dan efek berbahaya dari menghina seseorang.

Perbedaan Kritik Konstruktif dan Kritik Non-Konstruktif dengan Hinaan

via pexels.com

Kritikan adalah opini yang didasarkan pada penilaian seseorang akan sesuatu. Sebuah kritik diucapkan atau ditulis oleh seseorang dengan tujuan agar sesuatu yang dinilainya bisa menjadi lebih baik. Terkadang, sebuah kritikan itu mengandung kenyataan pahit yang tak enak didengar dan bahkan bisa menyakiti hati. Tapi, tak peduli seberapa pedasnya sebuah kritikan terdengar di telinga, kritikan tetaplah kritikan. Hanya karena sebuah kritik mengandung kata-kata yang menyayat hati, bukan berarti kita bisa menyebutnya sebagai hinaan.

Satu hal lain yang patut dicermati berdasarkan pendapat pribadi, perkataan seseorang layak disebut sebagai kritikan jika perkataannya tersebut memiliki argumentasi. Apakah itu argumentasi? Mengutip dari KBBI daring, argumentasi adalah “Alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat.” Itulah yang membedakan sebuah kritikan dari sekadar igauan, meskipun tak berarti sebuah kritik dengan serta-merta harus menyebutkan alasan dari penilaiannya.

Kritik sendiri mempunyai dua jenis yang sifatnya berbeda satu sama lainnya.

Melansir dari laman Sweetdelicatething, kritik jenis pertama adalah kritik konstruktif, yakni kritik yang menyertakan solusi untuk memperbaiki suatu masalah. Misalnya, jika seseorang mengatakan hasil kerja kamu salah total, maka ia juga akan menyertakan penjelasan kenapa hasil kerja kamu itu salah dan bagaimana cara membuatnya jadi benar.

Sedangkan pada kritik non-konstruktif, kamu tak akan menemukan ide atau solusi yang ditawarkan. Dan kritik jenis inilah yang acapkali disalahpahami sebagai hinaan.


Namun terlepas dari perbedaan yang ada, kritik konstruktif dan non-konstruktif bertujuan untuk memperbaiki apa yang dirasa masih kurang. Jadi bisa disimpulkan, kritikan adalah bantuan yang diberikan lewat kata-kata.

via flickr.com

Berbeda halnya dengan hinaan. Tak ada setitik pun unsur bantuan yang bisa kamu temukan di dalamnya. Karena jika seseorang sudah melontarkan hinaan, maka sudah dipastikan niat utama dari orang tersebut adalah melecehkan; mempermalukan; merendahkan; atau apa pun itu asalkan si target hinaan merasa kecil hati, rendah diri, tidak dihormati, dan bahkan tidak berguna.

Bagaimana Baiknya Menanggapi Kritik yang Disertai Kata-Kata Kurang Mengenakkan?

“Kalau kamu mendengar atau menerima perkataan yang menyakiti hati, lebih baik kamu diamkan saja. Tak usah kamu pedulikan/anggap saja sebagai angin lalu.”

Nasihat seperti di atas bisa punya bentuk yang berbeda, dengan kata-kata yang tentu berbeda pula. Tapi intinya, nasihat macam itu menyuruh pendengarnya untuk tidak menghiraukan setiap perkataan yang menyakiti perasaan; termasuk kritik yang bersifat pedas dan non-konstruktif.

via pixabay.com

Satu hal yang perlu diperhatikan: nasihat seperti itu mempunyai efek negatifnya sendiri, karena nasihat itu telah mencampuradukkan kritik dan hinaan tanpa pandang bulu. Lalu, apa saja efek negatifnya?

Pertama, dengan tidak mengacuhkan kritik, maka si target kritikan kehilangan kesempatan untuk menjelaskan apa yang perlu dijelaskan kepada si pengkritik. Misalnya, teman kamu mengatakan bahwa hobi kamu tak lebih dari kegiatan yang membuang-buang waktu. Kalau kamu diam saja, maka kamu tak bisa menjelaskan manfaat dari hobi yang kamu lakukan itu.

Kedua, jika si pengkritik mengutarakan kritik non-konstruktif, maka si target kritikan juga kehilangan kesempatan untuk menelusuri alasan di balik kritikan tersebut dan solusi yang ada. Daripada diam, bukankah lebih baik bila kamu bertanya kepada si pengkritik apa yang salah dari hobi kamu itu, dan apa alternatif hobi yang sebaiknya kamu tekuni?

Terakhir (ini merupakan tambahan dari saya sendiri), membiasakan diri untuk tidak menghiraukan kritik sama artinya dengan membunuh budaya berdebat dan berdiskusi secara perlahan. Tak ada lagi aktivitas tukar-menukar ide, karena si target kritikan sudah terbiasa menjadi pribadi yang abai akan kritik. Ia lebih memilih untuk melindungi kenyamanan perasaannya ketimbang mendengarkan opini orang lain yang berpotensi menyakiti hati. Pada akhirnya, ia pun kehilangan kesempatan untuk bisa mengembangkan kualitas diri.

Penting untuk membedakan mana perkataan yang merupakan kritikan, dan mana yang merupakan hinaan. Karena seringkali, kita memang harus mendengar, memperdebatkan, dan mengaplikasikan kritik yang kita dapat dari orang lain; sekalipun kritik itu menyakiti perasaan kita.

Jangan Remehkan Efek di Balik Kata-Kata

Mulutmu harimaumu. Ya, setiap kata-kata kasar dan menghina bisa terasa tajam laksana sabetan pedang. Seperti pedang juga, kata-kata bisa mencabut nyawa seseorang. Bukti nyatanya bisa kamu temukan pada kasus bunuh diri seorang remaja asal Amerika Serikat bernama Conrad Roy.

Seperti dilansir dari Metro, tahun 2014 lalu Conrad mengakhiri hidupnya setelah terus-menerus menerima pesan singkat dari kekasihnya, Michelle Carter, yang menyuruhnya bunuh diri. Meskipun Conrad diketahui mengalami depresi, tapi ia sebenarnya dilanda keraguan untuk melaksanakan rencananya. Di tengah keraguannya itulah Michelle mendorong (atau memaksa lebih tepatnya) Conrad. Bahkan ketika Conrad berubah pikiran, Michelle terus membombardirnya lewat pesan bernada negatif.

Conrad Roy (kiri) dan Michelle Carter via pinterest.com

Disarikan dari Psychologytoday, psikoterapis Lisa Ferentz mengatakan pelajaran yang bisa dipetik dari kasus tersebut adalah kata-kata kasar yang bernada perisakan atau bully nyatanya dapat memberikan dampak fatal bagi pendengarnya. Ia juga membagikan pengalamannya tatkala mendengar kisah para orang tua berumur sekitar 60-70 tahun yang pernah menerima kata-kata hinaan saat mereka masih kecil. Beberapa dari mereka, tambah Lisa, masih mengingat betul kata-kata yang pernah mereka terima jauh di masa lalu itu. Dan yang lebih mengerikannya lagi, kata-kata hinaan itu masih bisa memengaruhi kondisi psikologis mereka sekarang.

Oleh karena itu, akan jauh lebih baik bagi kita sendiri dan orang-orang di sekitar bila kita lebih bijak dalam memilih kata yang akan kita ucapkan. Jangankan berbicara langsung, menulis status dan berkomentar di media sosial pun tidak bisa sembarangan.

Jadi, sudah lebih mudah membedakan mana perkataan yang bisa disebut kritik dan mana yang disebut hinaan?

Komentar:

Komentar