Distopia dalam Film: Apa sih yang Bikin Cerita tentang Masa Depan Suram Menarik buat Ditonton?

Apa kamu pernah memikirkan itu?

Sepertinya dalam beberapa tahun belakangan, hampir setiap tahun kita selalu bisa menemukan film bertema distopia. Coba saja kamu ingat-ingat. Dari mulai film dengan tokoh remaja kaya The Hunger Games; Divergent; dan The Maze Runner, sampai film yang diisi tokoh (sebut saja) orang-orang tua, seperti Snowpiercer; The Purge; dan Blade Runner 2049, semuanya termasuk film bertema distopia.

via minttwist.com

Dan jika kita berbicara tentang film distopia, maka otomatis kita akan membayangkan gambaran suatu masyarakat di masa depan yang kondisinya suram.

Yup, semuanya memang berjalan serba salah dalam film distopia: pemerintah yang korup dan otoriter, bencana alam, lingkungan yang sudah rusak dan tercemar, populasi bumi menurun drastis, keberingasan dan keegoisan manusia, kemiskinan, kelaparan, gedung-gedung hancur, robot yang lebih pintar dari Einstein berkeliaran, dan teknologi serta peralatan yang katanya canggih tapi desainnya kelihatan jadul.

Oh ya, dan entah kenapa di sebagian film distopia selalu ada karakter yang gaya berbusananya kelihatan aneh, seolah-olah mereka gemar pakai kostum buat cosplay setiap harinya, lengkap dengan rambut yang dicat warna-warni. Nih, contohnya…

via threedonia.com

Yah, meskipun sembako sudah jarang jumlahnya, rupanya stok bahan buat mengecat dan merawat rambut masih tersedia banyak di masa depan versi film distopia.

Tapi, lupakan soal style dan fashion. Intinya sih, film distopia itu ngasih kita gambaran masa depan yang menimbulkan rasa pesimis dan rasa takut.

Lantas, dengan segala kesuraman akan masa depan yang ada di film distopia, kenapa selalu saja ada orang yang tertarik untuk menontonnya? Padahal penonton harus ngeluarin duit lho buat tiket nonton di bioskop. Bahkan nonton lewat cara download atau streaming juga orang harus rela kuota internetnya, yang dibeli pakai uang, jadi berkurang. Di sisi lain, para sineas pun nggak akan membuat film distopia jika nggak ada orang yang minat menontonnya.

“Jawabannya gampang, itu karena film distopia seru,” mungkin ada yang menjawab begitu. Oke, saya juga bisa bilang suatu pertandingan sepak bola itu seru. Tapi, saya pasti punya alasan yang lebih jelas kenapa saya rela menyisihkan waktu dan uang untuk nonton pertandingan sepak bola; misalnya karena pertandingan yang saya tonton itu derby satu kota, dan derby biasanya berlangsung panas. Hal yang sama juga berlaku buat film distopia.

Distopia sebagai cermin kehidupan nyata

Alasannya, meskipun film distopia mengambil latar di masa depan (ada juga sih film distopia yang berlatar sejarah alternatif), tapi film itu juga dapat pengaruh dari kondisi saat film itu dibuat. Kalau filmnya dibuat tahun 2017, maka filmnya dapat pengaruh dari kondisi tahun 2017; jika film dibuat tahun 1977, kondisi yang memengaruhinya adalah kondisi tahun 1977. Dan apakah kondisi yang dimaksud itu kondisi sosial, lingkungan, atau efek samping dari perkembangan teknologi; semua itu tergantung isu yang diangkat sama filmnya.

via ranker.com

Jadi, film distopia nggak cuma menggambarkan bayangan masa depan secara asal. Masa depan yang suram itu bisa dibilang merupakan bayangan tentang kekacauan yang disebabkan oleh kondisi saat film itu dibuat. Singkatnya, film distopia memiliki kekuatan untuk membuat kita memikirkan kondisi di sekitar kita saat ini, di masa lalu, dan di masa yang akan datang.

Hmm, sebegitu hebatkah pengaruh dari film? Tanpa ragu, saya mengatakan iya. Seperti itulah kekuatan yang dipunyai karya sastra, di mana film termasuk ke dalamnya.

Biar lebih gampang membahasnya, kita ambil saja contoh dari film Snowpiercer yang dirilis tahun 2013. Dalam film itu, diceritakan bumi kembali mengalami kondisi seperti di zaman es. Hal itu bisa terjadi karena usaha untuk mendinginkan suhu bumi yang semakin memanas lewat cara manipulasi iklim justru malah membuat bumi membeku. Akibatnya, suhu udara pun jadi sangat dingin sehingga banyak orang yang tewas karenanya.

via giantfreakinrobot.com

Nah, meski begitu, ada sekelompok orang yang masih bertahan hidup. Tapi, mereka nggak tinggal di dalam rumah, melainkan di sebuah kereta cepat yang terus melaju tanpa henti mengelilingi bumi. Mereka nggak bisa keluar dan terperangkap di dalam kereta itu selamanya. Karena kalau kereta itu berhenti, kereta itu bisa membeku.

Secara sekilas, kita bisa melihat film itu membicarakan tentang bencana. Tapi jika dilihat sedikit lebih jauh, film itu juga seperti memberikan kritik atas masalah perubahan iklim. Yup, bukankah isu tentang perubahan iklim dan pemanasan global sudah jadi pembicaraan yang hangat selama beberapa tahun belakangan?

Di sinilah Snowpiercer memberikan gambaran perubahan iklim di masa depan sebagai efek dari perubahan iklim yang ada pada masa sekarang. Tetapi gambaran masa depan di film itu, seperti umumnya terdapat di film distopia, tentu jauh lebih buruk dan seram ketimbang kondisi hari ini. Dijamin deh, nggak akan ada orang normal yang mau hidup dalam kondisi seperti yang ada di film Snowpiercer.

Mau contoh yang lain? Oke, kita ambil contohnya dari film Blade Runner 2049.

via geektyrant.com

Film yang merupakan sekuel dari Blade Runner (rilis tahun 1982) ini mengisahkan tentang manusia di masa depan yang sudah bisa membuat semacam manusia buatan atau replicant. Dari sekian banyak replicant yang ada, terdapat satu replicant bernama K yang oleh penciptanya diberi tugas untuk mematikan replicant yang sudah kedaluwarsa.

Sekarang, kita lihat ide dasar dari film ini, yaitu manusia menciptakan sesuatu yang mirip dengan manusia.

Di masa sekarang, dengan teknologi yang semakin berkembang manusia sudah mampu menciptakan robot dengan kecerdasan buatan. Dan siapa yang tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya di masa depan. Mungkin kita bisa menciptakan replicant seperti di film Blade Runner, meskipun tentu saja itu terdengar mustahil. Yah seenggaknya, mungkin kita bisa membuat robot dengan sifat dan emosi yang mirip betul sama manusia.

Tapi terlepas dari itu, pertanyaan realistis yang bisa dipetik dari film ini adalah apa fungsi yang bisa diberikan manusia pada sesuatu yang diciptakannya, mau itu robot atau replicant?

Kalau merujuk ke film Blade Runner 2049, di mana replicant diperintah buat membunuh sesamanya, bisa dibilang manusia itu sudah bertindak seolah mereka adalah Tuhan yang berhak mencabut nyawa (replicant juga punya nyawa, ‘kan!?). Jadi, dengan memberikan fungsi semacam itu pada replicant, manusia memosisikan diri mereka layaknya Tuhan. Apakah itu pantas?

Nggak hanya itu, di film Blade Runner 2049 maupun prekuelnya, manusia juga digambarkan seperti makhluk yang kejam dengan memperbudak para replicant. Terus, apakah manusia masih pantas disebut manusia jika mereka terlihat seperti makhluk yang nggak punya hati? Lebih jauh lagi, apa yang membuat seseorang atau sesuatu itu pantas disebut sebagai manusia?

Duh, saya jadi pusing mikirinnya…

Begini saja deh, sekarang menurut kamu sendiri gimana, kalau kamu suka nonton film distopia, kira-kira apa sih yang bikin film bergenre itu menarik buat ditonton? Nggak usah sungkan ya buat kasih komentar.

Komentar:

Komentar