5 Film Adaptasi yang Bikin Penggemar Games dan Komik Kesel Menontonnya


:

Saya suka bermain video games, terutama games sepak bola, horor, dan action. Dan meskipun saat udah dewasa saya jarang banget baca komik, tapi ada segelintir manga yang memberikan kesan kuat ketika saya masih kecil. Kesukaan inilah yang membuat harapan melambung ketika mendengar games atau manga favorit masa kecil akan diadaptasi menjadi film. Bayangin aja, cerita yang tadinya cuma bisa dinikmati lewat games dan komik jadi bisa ditonton di layar perak.

Tapi ternyata harapan hanya tinggal harapan, sepertinya “lebih mudah” jika video games meniru film (Uncharted 4 & Metal Gear Solid 3, 4, & 5, misalnya) ketimbang film mengadaptasi games. Yup, kebanyakan film adaptasi games & komik (terutama games) nggak memenuhi ekspektasi. Contohnya kaya 5 film ini nih.

 1. Seluruh Film Resident Evil

ResidentEvil-Film
via bloody-disgusting.com

Semua gamers tahu kalau Resident Evil itu permainan survival horror yang memberikan rasa takut lewat suasananya. Tapi ketika sutradara Paul W Anderson membuatnya jadi film, Resident Evil lantas berubah jadi semacam film action kebanyakan: peluru berhamburan tanpa batas, adegan slow motion di mana-mana, karakter berkekuatan super. Itu bukan RE yang dikenali dan dicintai para penggemarnya (walaupun RE seri keenam meniru habis adegan dramatis ala Holywood, dan itu kenapa RE 6 banyak dihujat).

Dan siapa itu Alice? Alih-alih membuat karakter asli yang ada dalam game jadi tokoh utama, film adaptasi ini menaruh karakter nggak dikenal jadi protagonis. Atas dasar apa dia jadi karakter utama?

Well, tapi itu bukan berarti penulis naskah harus menjiplak seutuhnya apa yang ada dalam game, karena plot game RE sendiri bisa dibilang nggak memungkinkan diadaptasi ke film. Tapi, ayolah… kalau bisa mempertahankan elemen penting dari versi aslinya, kenapa nggak!? Dengan Resident Evil: The Final Chapter dikabarkan menjadi film terakhir dari franchise RE, semoga ke depannya ada pihak yang mau merombak ulang film yang berantakan ini.

2. Silent Hill: Revelation 3D

3
via wickedhorror.com

Semuanya serba kacau di film ini. Sebenarnya saya nggak terlalu suka film pertamanya karena beberapa perubahan yang dilakukan sang sutradara atas dasar interpretasi pribadi. Lalu sekuelnya yang berjudul Silent Hill: Revelation 3D (percuma 3D kalau kualitasnya parah) pun muncul, dan malah membuat film pertamanya jadi sedikit kelihatan lebih bagus.

Mau tahu seberapa buruk eksekusi filmnya? Dari sisi cerita, film ini ngaku sebagai kelanjutan film pertama tapi nggak konsisten dalam penceritaannya. Misalnya, film pertama bilang A, film ini malah bilang B. Logika ceritanya nggak ada. Dari desain monster, sama sekali nggak menginspirasi. Dan yang paling penting, kamu nggak akan ngerasa takut menonton film ini. Boro-boro takut, yang ada malah kesel. Film horor yang bagus itu harusnya menyeramkan!


3. Mortal Kombat: Annihilation

maxresdefault
via youtube.com

Pernah nonton film Mortal Kombat yang pertama? Untuk sebuah adaptasi game figting yang isinya cuma berantem, film itu lumayan menghibur, kan? Tapi kalau kamu nonton sekuelnya, Mortal Kombat: Annihilation, kemungkinan besar kamu bakal kecewa.

Masalah paling krusialnya terletak di jajaran pemainnya; kualitas akting mereka kalah jauh dibanding aktor-aktor di film pertama. Pada akhirnya, film ini terlihat nggak lebih dari film berbujet pas-pasan, lengkap dengan efek visual yang buruk.

4. Street Fighter

street-fighter
via india.com

Waktu masih kecil dulu, saat pertama kali nonton Street Fighter, saya pikir film ini lumayan bagus. Tapi pas udah gede gini (yah, sekarang udah lumayan ngerti lah mana film yang bagus dan mana yang nggak), saya malah ketawa-tawa lihat film ini. Setelah mencoba mengingat-ingat apa yang membuat film ini dulu terasa menarik, akhirnya saya nyerah. Film ini kelihatan digarap “secara asal”. Nggak ada yang spesial dari ceritanya. Terlebih lagi kalau kamu lihat kostum yang dipakai karakternya, bayangan betapa kerennya Ryu dalam game aslinya bisa buyar seketika.

Dan kenapa Guile mesti diperankan Jean-Claude van Damme? Oh ya, mungkin karena waktu itu dia salah satu aktor laga paling laris yah, hehehe.

5. Dragonball: Evolution

DRAGONBALL-EVOLUTION_1024
via mbc.net

Gimana perasaan kamu kalau salah satu kenangan manis masa kecilmu diobrak-abrik begitu rupa sampai kamu nggak bisa mengenalinya lagi? Kecewa berat? Pasti. Dan itulah yang dirasakan para penggemar manga legendaris, Dragon Ball.

Seingat saya, dan semoga ingatan saya nggak salah, di awal cerita Son Goku itu tinggal di gunung dan nggak pernah sekolah. Saking terisolasinya dari kehidupan luar, ia bahkan nggak bisa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Nah, di film Dragonball: Evolution, yang merupakan maha karya agung ini, Goku itu anak sekolahan yang sering dibully sama teman-temannya. Selain itu, ia juga naksir sama cewek tapi perasaannya sulit tersampaikan karena ia malu-malu mendekatinya. Ini Dragon Ball atau film drama remaja, sih?

Nggak terlihat juga kamehameha yang dahsyat itu. Yang ada cuma semacam jurus asap lemah berwarna biru, atau kuning, merah, atau apalah itu warnanya, saya lupa. Intinya, film adaptasi ini udah melenceng jauh dari sumber yang diadaptasinya.

5 film ini cuma secuil dari sekian banyak karya adaptasi yang kurang berhasil di pasaran maupun di mata penggemar karya aslinya. Menurut pendapat kamu, apa sih faktor terpenting yang harus ada dalam film adaptasi?

Komentar:

Komentar