Ini 4 Efek Negatif yang Bisa Menimpa Orang yang Kecanduan Selfie, Apa Kamu Salah Satunya?

Sudahkah kamu selfie hari ini?

:

Siapa sih orang di zaman sekarang yang nggak tahu arti kata selfie. Yup, kemungkinan besar orang yang memiliki smartphone pasti pernah melakukan selfie. Bukan “pernah” lagi malahan, tapi dalam sehari orang bisa berswafoto ria sampai beberapa kali. Coba kamu hitung-hitung, selama seminggu ini berapa kali kamu ngambil foto selfie? Puluhan, ratusan?

“Lah, memangnya apa yang salah dengan selfie? Memangnya ada yang salah jika orang keseringan selfie?” Mungkin kamu bertanya seperti itu.

Gini deh, sekarang kalau kita bandingkan sama orang yang kecanduan rokok, jumlah batang rokok yang dihisap orang itu aja mungkin masih kalah sama jumlah foto yang diambil sama orang yang keseringan selfie. Bayangkan itu, zaman sekarang orang bisa lebih kecanduan sama swafoto daripada kecanduan menghisap asap rokok! Kita tinggal menunggu waktu sampai akhirnya orang-orang bakal menggigil nggak karuan karena belum swafoto dalam sehari!

Oke, pengandaian di atas emang berlebihan. Tapi, jika terlalu sering dilakukan, efek dari selfie ternyata bisa disamakan dengan efek yang ditimbulkan oleh asap rokok, lho; sama-sama berefek negatif.

Kenapa? Ini alasan-alasannya.

1. Keseringan selfie bisa mengarah jadi candu, kecanduan selfie mengarah pada obsesi

via pixabay.com

Apa kamu pernah dengar kalau selfie yang terlalu sering itu berkaitan sama perilaku narsistik? Apa kamu percaya sama pernyataan itu? Kalau saya sih, percaya nggak percaya.

Narsisme atau narsistik sendiri nggak bisa dijelaskan sesederhana itu. Zaman sekarang, makna dari kata narsis udah mengalami pergeseran. Orang yang bercanda bilang dirinya ganteng aja bisa disebut narsis. Padahal, narsisme itu sebenarnya berkaitan sama trauma masa lalu dan tindakan pengisolasian diri yang dilakukan “pengidapnya”, baik secara emosional maupun sosial.

Tapi, satu hal yang pasti, kecanduan terhadap swafoto lambat laun bisa bertransformasi jadi obsesi. Misalnya aja, saking ngebetnya kamu untuk dapat foto selfie yang sempurna, kamu bisa terus berulang-ulang memotret diri kamu sendiri. Dan ketika kamu nggak kunjung dapat hasil selfie yang kamu harapkan, kamu akhirnya jadi depresi.

Kasus seperti itu pernah dialami sama remaja bernama Danny Bowman. Ia depresi dan akhirnya mencoba bunuh diri karena nggak bisa dapat swafoto yang menurutnya sempurna. Dan coba tebak berapa lama ia berswafoto? 10 jam dalam sehari. Selama itu pula ia udah menghasilkan sekitar 200 foto selfie.

2. Keseringan selfie = membuang waktu

via flickr.com

Hampir berkaitan sama poin sebelumnya, biar dapat foto selfie yang bagus, seseorang rela menyisihkan waktu untuk terus memotret ulang dirinya sampai ia menemukan hasil yang dianggap sempurna. Setelah itu, ia pun harus mengedit foto tersebut sebelum diunggahnya ke medsos.

Nah, pertanyaannya: berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan itu semua? Jawabannya bisa bervariasi, tapi yang pasti berbagai aktivitas itu memakan waktu yang nggak sedikit. Masih mending jika swafotonya itu bisa menghasilkan uang; kalau, nggak?

Memang sih, foto yang bagus pada akhirnya akan mendapat like yang banyak di dunia maya, dan itu berujung pada kepuasan diri. Tapi, di sisi lain, membuang banyak waktu untuk mendapat foto selfie yang sempurna juga bisa saja menandakan kalau si “tukang selfie” itu kurang punya rasa percaya diri.

3. Selfie cenderung berfokus pada tampilan fisik

via pixabay.com

Logisnya, orang yang mengambil foto selfie dan mengunggahnya di medsos pasti punya tujuan untuk mendapat perhatian dari orang lain; perhatian yang termanifestasikan lewat like, komentar, dan semacamnya. Kalau kita mau jujur sama diri sendiri, itu ‘kan alasan utamanya? Soalnya, saya belum menemukan alasan lain yang lebih kuat.

Nah, sekarang coba kamu perhatikan foto-foto selfie orang lain. Apa yang bisa kamu lihat dari tumpukan foto itu? Yup, mayoritasnya pasti penampilan fisik. Nggak mungkin kamu bisa menilai sifat adil, lapang dada, atau tenggang rasa dari seseorang kalau cuma lihat swafotonya; semuanya hanya tentang fisik.

Bukan berarti mendapat pujian atas dasar penampilan fisik itu sesuatu hal yang jelek; itu manusiawi. Hanya saja, jika terlalu sering mengunggah foto selfie, itu bisa berarti orang tersebut juga seringkali meminta perhatian dan pengakuan orang lain atas penampilan fisiknya (atau gaya hidupnya). Terserah gimana penilaian kamu, apa itu sesuatu yang biasa atau justru usaha untuk cari perhatian yang berlebihan?

4. Kecanduan selfie bisa “merusak” liburan

via pixabay.com

Berfoto saat liburan itu seolah udah menjadi hal yang nggak terpisahkan satu sama lain. Tapi, apa sih esensi dari pergi berlibur ke suatu tempat itu sendiri?

Menurut saya sih, orang-orang berlibur ke suatu tempat karena mereka pengen menyegarkan pikiran, menambah pengalaman baru, dan mencari hiburan. Untuk benar-benar meresapi momen liburan, fokus juga diperlukan.

Nah, sekarang bayangkan jika kamu lebih sibuk memikirkan angle dan pose yang sempurna untuk foto selfie alih-alih sepenuhnya menikmati suasana tempat liburan.

Bagi kebanyakan orang, foto memang diperlukan buat dijadikan kenangan akan momen liburan dan bukti bahwa kamu pernah berkunjung ke suatu tempat. Tapi, coba bandingkan, lebih baik mana: foto yang mencakup seluruh tubuh beserta pemandangan alam yang indah, atau foto muka kamu (dan teman-teman) dengan (sedikit) penampakan air terjun di sebelahnya?

Jawabannya diserahkan pada kamu.

Jadi, berapa kali kamu selfie dalam sehari?

5 Shares

Komentar:

Komentar