Yakin Begadang Bisa Ngerusak Tubuhmu? Coba Lihat Ini Dulu


Mungkin kamu sudah tahu kalo banyak banget bacaan-bacaan dari yang sekedar artikel ataupun buku yang memberikan informasi kalau begadang itu nggak baik. Tapi, apakah memang benar demikian?

via vox.com

Coba kamu simak salah satu kisah nyata dari Peter Tripp ini.

Pada tahun 1959, DJ terkenal bernama Peter Tripp memutuskan untuk menyelenggarakan acara amal dengan cara yang tidak biasa. Pria 32 tahun tersebut memasuki ruangan kaca yang berada di tengah-tengah Times Square. Disana dia akan menjadi penyiar radio selama 8 hari tanpa tidur, dimana acara tersebut diberi nama wakeathon.

Selama 2 hari pertama, Tripp mampu menghibur pendengarnya dengan baik. Dia begitu antusias, semangat, dan penuh gairah. Namun pada hari ketiga, moodnya berubah total. Dia berubah menjadi kasar kepada siapapun.

Waktu terus berjalan dan Tripp pun mulai berhalusinasi. Mulai dari sepatunya yang dipenuhi jaring laba-laba yang kusut hingga orang-orang di sekitar dia yang berubah menjadi cacing berbulu. Puncaknya setelah 120 jam tanpa tidur, dia lari dari bangunan tersebut karena berhalusinasi ada kebakaran.

Bahkan dia tidak percaya kata-kata dokter yang menyatakan dia sedang berhalusinasi. Setelah itu semuanya menjadi semakin parah. Dia menuduh orang lain sebagai pembunuh yang mengincarnya, dia tidak bisa lagi mengingat alfabet, dan pada hari kedelapan dia salah mengira salah satu dokter adalah gali kubur yang ingin mengambil tubuhnya.

Hal ini ditulis oleh Geoff Rolls di bukunya yang berjudul Classical Case Studies in Psychology.

Dia terbangun “hanya selama” 8 hari, tapi menurut dokter hal itu sudah cukup untuk menyebabkan “nocturnal psychosis.” Setelah tidur selama 13 jam, kesadaran Tripp pun kembali lagi.

Coba lihat video ilustrasi Peter Tripp dibawah ini.

Berdasarkan cerita diatas, apa yang terjadi pada tubuh kita setelah beberapa periode?

Setelah 24 jam

Meski Tripp kelihatannya baik-baik saja setelah malam pertama, berdasarkan penelitian di tahun 2010, tidak tidur selama 24 jam setara dengan mempunyai 0.10 persen konsentrasi alkohol pada darah. Hal ini dapat dianggap mabuk secara legal di beberapa negara bagian di Amerika Serikat.

via smudailycampus.com

Setelah 36 jam

Setelah 36 jam, ingatan Tripp mulai terganggu. Berdasarkan penelitian dari Neuropsychiatric Disease and Treatment, peneliti menemukan bahwa mereka yang terjaga selama itu akan kesulitan mengingat wajah seseorang. Bahkan mereka yakin kalau mereka itu benar (padahal salah).

via businessinsider.com

Setelah 48 jam

48 jam berarti 2 hari. Meski demikian, ahli bernama Terry Cralle mengungkapkan bahwa terjaga selama 2 hari menyebabkan seseorang rentan terkena microsleep (kondisi dimana kamu tertidur namun hanya selama sepersekian detik).

Keinginan untuk tidur sangat menggebu-gebu sehingga kamu dapat tertidur tanpa kamu sadari, rasanya seperti keadaan tiba-tiba menjadi gelap. Hal inilah yang menyebabkan pengemudi yang mengantuk sering terlibat kecelakaan.

via psychiatrictimes.com

Bahkan bisa meninggal?

Kekurangan tidur yang berkepanjangan dapat menyebabkan tubuhmu rentan terhadap beberapa penyakit (diabetes, obesitas, kanker, dan depresi), tapi bisakah itu menyebabkan kematian?

Sulit untuk dijelaskan. Pada 2014, International Business Times mengabarkan bahwa seorang pria berusia 25 tahun meninggal setelah tidak tidur selama 2 hari karena menonton Piala Dunia. Dia meninggal karena stroke yang kemungkinan terkait dengan kekurangan tidur.

Tapi hal ini tidak dapat dijadikan acuan karena ada beberapa faktor eksternal yang menyebabkan dia meninggal. Pada suatu penelitian, tikus baru mati setelah tidak tidur selama 11-32 hari. Tapi apakah tikus sama dengan manusia? Belum dapat dipastikan.

Intinya : Terjaga selama 24 jam sangat tidak disarankan. Meski tidak ada kasus yang menyatakan seseorang meninggal karena kekurangan tidur, tapi hal ini menyebabkan tubuh kita rentan terkena penyakit lain.

 

Sumber : Upvoted

Komentar:

Komentar