Sudah Bertahun-tahun Belajar Matematika, Tapi Apa Kamu Tahu Asal-Usul Simbol-Simbol Ini?

Seperti apa sih asal mulanya? Cari tahu di sini

Matematika sering dipandang sebagai momok yang sangat menakutkan. Kalau masih seputar tambah, kurang, kali, dan bagi, mah, receh. Tapi kalau sudah masuk aljabar, persamaan, himpunan, atau diskrit, bisa langsung bikin hilang gairah hidup. Hayo, bener nggak? Yang nggak doyan sama matematika coba angkat tangannya.

via time.com

Ada beberapa meme atau guyonan yang bilang apa pentingnya belajar rumus-rumus rumit kalo nantinya nggak akan terpakai. Salah satu contohnya adalah yang seperti ini:

via lucu.me

Tapi, sebetulnya, matematika ini dibuat untuk memudahkan hidup kita, lho. Coba bayangkan kalau nggak ada matematika. Kira-kira apa bakal ada bangunan-bangunan megah yang dibangun dengan perhitungan sistematis di sekeliling kita? Apa bakal ada teknologi-teknologi mumpuni dengan perhitungan komputasi yang canggih? Itu baru sekelumit contoh dari pentingnya matematika dalam kehidupan kita. Yah, mungkin emang nggak semua orang memakainya, tapi tetep aja penting, kan?

Meski simbol-simbol matematika terkesan aneh, nggak jelas, dan abstrak, beberapa simbol ini ternyata punya asal-usul yang cukup sederhana dan punya tujuan untuk mempermudah cara kita menghitung, lho. Seperti apa emangnya? Dilansir dari mentalfloss.com, ini dia penjelasannya.

via freeimages.co.uk

Tambah (+)

Simbol ini pertama kali digunakan pada tahun 1360 oleh Nicole Oresme dalam karyanya yang berjudul  Algorismus proportionum. Simbol ini berasal dari kata “et” yang berarti “dan” dalam bahasa Latin. Fungsi “dan” sendiri adalah untuk menggabungkan dua obyek dan bentuk tambah (+) diambil dari huruf “t” pada kata “et”.

Kurang (-)

Simbol ini pertama kali digunakan oleh Johannes Widmann pada tahun 1489 dalam karyanya yang berjudul Mercantile Arithmetic atau Behende und hüpsche Rechenung auff allen Kauffmanschafft. Pada karyanya tersebut, Widmann menggunakan simbol tambah (+) dan kurang (-) untuk menggambarkan defisit dan surplus.

Perkalian (×)

Simbol ini pertama kali digunakan oleh William Oughtred pada tahun 1618 saat sedang mengajari muridnya yang tertarik mempelajari matematika. Meski penggunaan simbol (×) ini mendapat pertentangan dari Gottfried Wilhelm Leibniz karena dianggap menyerupai “x”, namun simbol ini sering digunakan pada pertengahan abad ke-16.

Bagi (÷)

Ada dua versi mengenai awal mula simbol ini, yang pertama adalah digunakan pertama kali oleh Johann Rahn dalam buku aljabarnya yang berjudul Teutsche Algebra. Versi lain ada yang menyebutkan bahwa bisa jadi John Pell menggunakannya untuk pertama kali karena dia yang bertanggung jawab sebagai editor buku tersebut.

Sama dengan (=)

Simbol ini pertama kali digunakan oleh Robert Recorde pada abad ke-16. Awal mula penggunaan simbol ini cukup kocak, jadi dia menggunakan simbol (=) karena dia lelah menulis “equal to” atau yang berarti “sama dengan”.  Untuk menghemat waktu dan tenaga, akhirnya dia menggunakan simbol (=).

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa melihat video satu ini.

Wah, ternyata awal mula simbol-simbol dasar tersebut cukup simpel ya. Kira-kira ada yang mau nambahin simbol lainnya? Tulis di kolom komentar, ya.

14 Shares

Komentar:

Komentar