Toy Story 4, Film Semua Umur yang Maknanya Cuma Bakal Bisa Dimengerti sama Orang Dewasa

Dewasa secara umur atau dewasa secara mental? Entahlah, bung

:

Beberapa tahun lalu saat saya selesai nonton Toy Story 3, bagian ending saat Andy memberikan semua koleksi mainannya ke Bonnie membuat saya nangis termehek-mehek. Adegan itu, yang memadukan happy ending dan sad ending, udah sempurna banget.

Bingung nggak sih? Intinya, ending itu bikin hati saya campur aduk, antara berbahagia dan sedih. Andy yang selama ini saya tahu merupakan pemilik dari mainan-mainan di Toy Story, akhirnya ikhlas buat menghibahkan semua mainannya. Dan dia melakukan itu karena dia udah dewasa, sama seperti saya yang umurnya jauh lebih dewasa jika dibandingkan saat pertama kali nonton Toy Story 1 atau 2. Bagi saya, ending dari Toy Story 3 udah terasa sempurna untuk menutup sebuah trilogi!

Jadi saat Pixar mengeluarkan trailer untuk Toy Story 4, saya sempat  mikir, “Ceritanya mau bergerak ke arah mana nih?” Woody juga udah menerima pemilik barunya dengan lapang dada. Dan itu pula yang akhirnya bikin saya berprasangka: Toy Story 4 itu film yang seharusnya nggak pernah dibuat.

Tapi setelah nonton, saya berubah pikiran. Ternyata ini film lebih bisa bikin saya termehek-mehek. Toy Story 4 malah terkesan lebih cocok untuk orang dewasa dibanding untuk anak-anak.

via rogerebert.com / Walt Disney Pictures

Sebentarrr, nanti saya bahas kenapa Toy Story 4 sebenarnya lebih cocok untuk orang dewasa meskipun rating film ini untuk semua umur. Jadi apakah Pixar dan Disney berdusta? Nggak, mereka nggak berdusta kok.

Tapi sebelum kita masuk ke pembahasan soal itu, sekarang mending kita tengok dulu beberapa kelebihan dari film ini.

Oh iya, buat yang belum nonton, maaf-maaf nih kalau ada sedikit spoiler. Jadi, kalau kamu anti banget sama yang namanya spoiler, boleh mundur teratur atau baca dulu artikel tentang efek negatif masturbasi. Apa hubungannya Toy Story sama masturbasi? Nggak ada sih. Saya iseng aja mau bikin kamu klik artikel itu.


Dengan rating 98% di Rotten Tomatoes, Toy Story 4 memang memanjakan secara visual. Mulai dari warna setiap adegan yang menyesuaikan mood-nya, sampai desain karakter yang ciamik bisa kamu temukan di film ini. Tapi jujur aja, segi desain karakter paling menarik perhatian saya. Kelihatan banget desain-desain karakternya sekarang lebih halus dan berkembang pesat (ya iyalah, komputer aja makin canggih sekarang).

Kamu ingat nggak sama karakter anjing punya Sid di Toy Story yang pertama? Nah, sekarang coba kamu bandingkan sama desain karakter kucing di Toy Story 4.

via twitter.com/thesonicscrew/Walt Disney Pictures

Wow banget nggak sih? Detail abis!

Contoh lainnya ada di desain karakter utama seperti Bo Peeps. Tampilan dia di film-film awal, meskipun terlihat sudah mengkilat sesuai dengan karakter mainan porselen, sebenarnya malah lebih terlihat mirip Barbie. Tapi di film terbarunya, kulitnya udah kinclong, sesuai banget sama karakter mainan yang dibikin dari porselen.

via pride.com/Walt Disney Pictures

Kenapa dari film ini lebih cocok buat orang dewasa?

Secara keseluruhan, sebenarnya alur cerita film ini masih bisa dicerna dengan mudah, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Dan ini film memang ditujukan untuk semua umur.

“Lah, judul artikel ini bilang Toy Story 4 bakal sulit dimengerti sama anak-anak? Tapi kok sekarang malah bilang alurnya mudah dicerna semua umur. Gimana sih? Dasar penulis gemblung!”

Iya sabar zheyeng~ kan belum dijelasin detail. Nggak sabaran banget kayak driver ojol yang nembus jalur busway aja, heheh.

Yup, alur dan pola ceritanya memang mudah dicerna. Tapi bagian akhir dari film-lah yang bikin saya yakin kalau Toy Story 4 sebenarnya lebih ditujukan buat orang dewasa.

Toy Story 4 menutup ceritanya dengan Woody yang akhirnya ikhlas kalau dia udah bukan lagi jadi mainan favorit pemilik barunya, Bonnie. Sedih nggak sih? Udah mah berpisah sama Andy, eeeh… ternyata pemilik barunya nggak menganggap Woody jadi mainan favoritnya lagi. Bro Woody, I feel you, bro.

via rollingstone.com/Walt Disney Pictures

Tapi akhirnya, Woody memilih buat mengikhlaskan dirinya sebagai mainan yang bebas — bebas dalam artian dia melepaskan diri untuk nggak terikat dalam satu hubungan pemilik aja. Kalau bahasa milenial penggila romansa mah, semacam open relationship kali ya. Gila nggak? Cerita anak-anak macam apa ini?!

Mungkin memang betul adanya kalau secara desain karakter, warna-warni di tiap adegan, dan perkembangan plot dari konflik ke klimaks disusun untuk menghibur penonton yang masih cilik. Tapi, kalau dilihat dari makna ending (dan keseluruhan cerita), ini film lebih ditujukan untuk orang dewasa.

Alasannya?

Mungkin orang-orang yang terlibat di balik pembuatan film ini memang menyesuaikan ceritanya dengan demografis umur penonton yang semakin tua juga kali ya. Coba kamu ingat-ingat, Toy Story yang pertama dirilis tahun 1995, dan sekuel keempatnya ini rilis tahun 2019. Buat kamu yang dulunya nonton Toy Story ke bioskop sama emak-bapak, sekarang mungkin kamu udah jadi emak-bapak yang bawa anak ke bioskop buat nonton Toy Story 4. Iya ‘kan? Hayo ngakuuu…!

Ya, intinya, mungkin target utama dari film ini adalah mereka yang sewaktu kecilnya nonton Toy Story; lalu penasaran nonton kelanjutannya di Toy Story 2 & 3 pas mereka remaja; dan saat Toy Story 4 rilis, mereka udah jadi orang dewasa.

Aaah… betapa cepatnya waktu berlalu.

Buat kamu yang berniat membawa anak atau keponakan buat nonton Toy Story 4, kamu bisa meyakinkan mereka karena secara action dan mood, film ini cocok buat anak-anak. Tapi, kalau mereka kurang ngerti soal ending-nya, siapkan aja penjelasan yang bisa mudah dipahami. Atau kamu juga bisa coba menjelaskan tentang arti dari open relationship. Mamam tuh… hehehe.

Komentar:

Komentar