The House with a Clock in Its Walls, Olahan Fantasi dari Sutradara Spesialis Horor yang Jauh dari Kata Seram

Fantasi berbalut sihir yang kurang menyihir penonton dewasa

Kisah fantasi yang diangkat dari buku sering banget diangkat ke layar lebar. Kamu pasti masih ingat fenomena The Chronicles of Narnia, Percy Jackson, sampai Harry Potter. Belum lama lagi kita juga bakal bisa nikmati sajian fantasi terbaru dari Fantastic Beast. Tapi sambil nunggu Fantastic Beast terbaru dirilis, kamu penggila kisah fantasi berbalut sihir bisa nonton film berjudul The House with a Clock in Its Walls.

Jadi, mari kita ulas satu lagi film yang diangkat dari buku.

Bagian pertama dari novel yang terdiri dari 12 seri

The House with a Clock in Its Walls mengisahkan tentang seorang anak yatim piatu bernama Lewis (Owen Vaccaro) yang tinggal di rumah pamannya, Jonathan (Jack Black). Jonathan sendiri merupakan penyihir berjanggut dan berambut klimis.

Namun masa damai yang mengiringi hidup Lewis nggak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, Lewis menyadari jika ada hal aneh di dalam rumah tersebut yang disembunyikan pamannya. Ternyata rumah yang mereka tempati dulunya dihuni oleh pasangan penyihir bernama Isaac (Kyle MacLachlan) dan Selena (Renée Elise Goldsberry) yang menciptakan sebuah jam untuk menghancurkan dunia.

Bersama dengan tetangganya, Florence (Cate Blanchett), yang juga seorang penyihir, Lewis dan Jonathan pun berusaha mencari tahu lokasi jam tersebut disembunyikan di dalam rumah.

via cinemaexpress.com

Saya pribadi kebetulan belum baca versi novel The House with a Clock in Its Walls. Kalau kamu penasaran pengin tahu kisahnya lebih dalam, mungkin bisa baca rangkaian bukunya yang terdiri dari 12 seri. Yeah, 12 seri!

Tapi film bertema fantasi selalu punya sisi unik dan menarik yang belum tentu dimiliki genre lain. Jika bukunya bisa memberikan gambaran imajinasi pengarang dengan seru, versi visualnya dalam film tentu bisa menghadirkan tontonan yang bisa membuat penontonnya takjub.

Film perdana dari Eli Roth yang nggak melibatkan unsur darah

Nonton The House with a Clock in Its Walls, mau ngggak mau perhatian saya tersedot sama nama sutradaranya, Eli Roth. Kurang familiar dengan namanya? Eli Roth adalah aktor sekaligus sutradara yang lebih dikenal lewat film horor dan sadis seperti Cabin Fever (2002), Hostel (2005) dan Hostel: Part II (2007). Melihat catatan kariernya tersebut, saya jadi penasaran gimana hasil eksekusi film ramah penonton pertamanya ini.

Roth boleh dibilang keluar dari zona nyamannya saat dia memutuskan buat jadi sutradara film ini. Tapi berkat segudang pengalamannya dalam meramu film horor, The House with a Clock in Its Walls cukup berhasil menghadirkan atmosfer seram. Penggunaan setting rumah kuno yang dipenuhi banyak perabot antik di dalamnya juga turut memperkuat nuansa kelam. Belum lagi saat adegan Lewis pergi ke kuburan di malam hari, bisa saja terasa menakutkan ‘kan bagi penonton anak-anak.

via slashfilm.com

Sebagian penonton di sekitar saya yang notabene berusia dewasa malah sampai kaget dengan beberapa adegan yang ditampilkan. Seperti saat Lewis mengendap-endap di dalam gelap, lalu dikejutkan oleh suara jam kikuk. Atau saat tiga karakter protagonis menghadapi gerombolan boneka yang terkena pengaruh sihir.

Jack Black gagal lucu; Cate Blanchett mencuri perhatian

Dua nama besar sekelas Jack Black dan Cate Blanchett merupakan alasan lain yang bikin saya tertarik menonton film ini. Keahlian Jack Black dalam urusan mengocok perut nggak perlu diragukan lagi. Namun entah kenapa karakter Jonathan yang diperankannya di film ini malah kurang begitu terasa kocak. Beberapa tingkah laku atau dialog yang diucapkannya kelihatan terlalu dipaksakan untuk lucu alias kurang natural.

via imdb.com

Justru Cate Blanchett yang akhirnya sukses mencuri perhatian, terlepas dari karakter yang dimainkannya bukanlah peran utama. Saya bisa lebih bersimpati terhadap karakter Florence dibanding Jonathan. Jadi kalaupun film ini akan dilanjutkan dalam bentuk sekuel, saya berharap karakter Florence bisa jadi fokus utama. Toh, latar belakang Florence juga masih menyisakan pertanyaan terkait nasib keluarganya yang diceritakan telah meninggal.

Sosok Lewis juga sebenarnya masih kurang dibahas begitu dalam. Saya heran kenapa Lewis dianggap lebih kuat dibanding pamannya, padahal dia diceritakan baru belajar sihir dalam waktu singkat. Alih-alih menonjolkan bakatnya tersebut, penonton malah digiring tentang bagaimana sepinya kehidupan Lewis yang ditinggal mati kedua orangtuanya, lengkap dengan permasalahannya dalam bersosialisasi di sekolah. Tipikal film anak-anak banget, ‘kan?

via vue.com

Jujur, saya sedikit kurang nyaman duduk di dalam bioskop saat menonton film ini. Mau dibilang seram, masih ada lucunya. Mau dibilang sadis, yang dilawan cuma sebatas labu. Sayang sih, dalam durasi kurang dari dua jam, The House with a Clock in Its Walls sebenarnya punya usaha mengangkat satu kisah fantasi untuk mendapat penggemar dengan mudah.

via bloody-disgusting.com

Tapi karena diangkat dari buku anak-anak dan kategorinya juga film keluarga, itu akhirnya membuat The House with a Clock in Its Walls jadi menggantung. Apakah filmnya ingin dibawa ke arah yang ringan, atau membuat sedikit perubahan lebih kelam agar bisa disukai penonton dewasa.

Menurut kamu?

Komentar:

Komentar