Solo: A Star Wars Story (2018), Menikmati Ekspansi Dunia Star Wars dalam Kisah Han Solo

Harga jaketnya Han Solo berapa ya? Mungkin itu terjawab di film ini

Star Wars rasa-rasanya sudah menjelma menjadi salah satu pop culture dalam dunia perfilman yang juga memilki basis penggemar yang cukup banyak. Sampai saat ini, total sudah ada 10 rangkaian film Star Wars yang dirilis:

  • Tiga buah trilogi utama dalam A New Hope (1977), The Empire Strikes Back (1980), dan Return of the Jedi (1983) – atau biasa disebut Episode IV-VI.
  • Tiga buah trilogi prekuel Episode I-III dalam The Phantom Menace (1999), Attack of the Clones (2002), dan Revenge of the Sith (2005).
  • Dwilogi sekuel Episode VII dan VIII dalam The Force Awakens (2015) dan The Last Jedi (2017).
  • Dan ada juga film standalone yang masih memiliki keterkaitan cerita dengan film-film utamanya, yaitu animasi The Clone Wars (2008) yang mengambil setting di antara Episode II dan III dan Rogue One (2016) dengan latar sebelum Episode IV terjadi.

Sambil menunggu Episode IX yang akan dirilis tahun depan, kamu bisa menikmati petualangan terbaru dari dunia Star Wars dalam Solo: A Star Wars Story di tahun ini. Sedari awal proyek Solo didengungkan sebenarnya sudah terlanjur banyak pro dan kontra yang terjadi. Saya sendiri keburu pesimis dan tidak berharap banyak dengan hasil akhirnya nanti. Dengan membawa embel-embel Star Wars, Solo sejatinya menghadirkan sebuah spin-off dari karakter yang sangat ikonik. Siapa lagi kalau bukan Han Solo si pilot Millenium Falcon.

via starwars.com

Solo seperti menjadi taruhan cukup besar bagi pihak studio. Gimana nggak, karakter Han Solo sudah terlanjur melekat dengan nama Harrison Ford. Nah, karena sekarang menceritakan petualangan Han di masa muda, nggak mungkin dong kalau karakter ini kembali dibawakan oleh Harrison Ford yang sudah berumur. Dari sekian banyak nama yang berkembang di awal produksi, akhirnya diketahui jika Alden Ehrenreich yang mengemban tugas membawakan karakter tersebut. Tunggu dulu. Siapa Alden Ehrenreich? Nama yang cukup asing bukan?

Buat yang penasaran, mungkin kamu bisa tonton ulang Beautiful Creatures (2013), Stoker (2013), dan Hail, Caesar! (2016) karena Alden pernah main di film-film tersebut. Wow! Dari sini saja udah bawa pertaruhan besar banget sih dengan nggak memakai aktor yang lebih dikenal luas. Nama lain yang sudah cukup familiar bagi penonton film mungkin dengan dihadirkannya Emilia Clarke dan Woody Harrelson.

Dalam Solo, Han Solo muda digambarkan sebagai pria yang mencari kebebasan untuk dirinya sendiri, lengkap dengan berbagai impian dan rencana yang sudah diatur. Ya, premis dasar inilah yang coba diangkat melalui Solo.

via starwars.com

Dalam film ini pula kamu akan melihat gimana awal mula Han Solo bisa menjadi petualang lihai di luar angkasa. Kamu pun bisa mengetahui awal mula Han bisa bertemu dan bersahabat dengan Chewbacca, awal perkenalan dengan Lando Calrissian, gimana caranya Han bisa memiliki Millenium Falcon, hingga hal sederhana seperti mengetahui arti di balik nama Han Solo sendiri.

Tapi sebagai sebuah film, kayaknya nggak berlebihan kalau Solo masih terlihat tampil kurang percaya diri. Entah memang sudah menjadi formula dasar dalam tiap film Star Wars, setiap elemen yang dihadirkan tetap menjadi terasa déjà vu dengan yang sudah-sudah.

via collider.com

Pertama dari sisi karakter. Dengan (tentu saja) menampilkan sosok Han Solo, penonton pun diberi karakter pria lain di bawah nama Chewbacca dan Lando. Untuk sosok pemanis wanita, meski bukan dalam wujud Leia Organa, penonton dikenalkan dengan karakter baru yaitu Qi’ra yang menjadi love interest Han. Well, meski diperlihatkan tak begitu eksplisit, kamu masih bisa melihat Stormtrooper juga kok.

Kedua adalah karakter robot/droid. Setelah C-3PO dan R2-D2 yang ada di seluruh episode serta K-2SO dalam Rogue One, dalam Solo wujud droid tersebut kini hadir dalam bentuk L3-37.

Ketiga adalah perihal kendaraan. Entah karena pengaruh timeline atau sengaja memberi rasa nostalgia, banyak kendaraan ikonik bermunculan dalam Solo. Selain menghadirkan Millenium Falcon, kendaraan lain seperti Speeder, AT-AT Walker, TIE Fighter, hingga Imperial Star muncul satu persatu. Sebuah sensasi nostalgia tersendiri bagi para fanboy.

Keempat, dan mungkin ini sudah menjadi semacam ‘pakem wajib’, yaitu perihal pertempuran antara Empire dan Rebellion yang kembali disinggung dan malah bisa dibilang menjadi benang merah terselubung di dalam film.

Dan untuk kamu yang jeli, Solo secara nggak langsung menyisipkan beberapa esensi lain, seperti belati yang bisa dianalogikan sebagai lightsaber meski dalam bentuk dan ukuran yang berbeda, munculnya karakter alien dalam wujud Rio Durant dan Lady Proxima, dan termasuk juga adegan kejar-kejaran di luar angkasa yang tetap dihadirkan menjadi bumbu intensitas tersendiri.

Meski tak muncul secara langsung, nama Hutt dan Planet Tatooine mungkin sedikit bisa membuat beberapa penonton tersenyum saat mendengarnya di dalam sisipan dialog. Oh iya, entah memang iya atau bukan, ketika adegan di dalam ruangan Dryden Vos entah kenapa kok saya sekilas seperti melihat ada baju Bobba Fett ya. Apakah ini sekadar easter egg belaka? 

Setiap elemen yang disebutkan di atas secara tak langsung akhirnya memberikan rasa nostalgia yang mungkin hanya bisa dipahami oleh sebagian orang. Bagi penonton awam yang bukan fanboy, elemen tersebut tetap bisa menjadi sebuah euforia tersendiri untuk bisa merasakan dan mencoba memahami tentang dunia Star Wars. Meskipun akhirnya berakhir seolah kurang percaya diri dan tidak menghadirkan hal yang terhitung baru untuk ditunjukkan, setidaknya poin-poin tersebut dapat menjadi bumerang dalam arti positif.

via filmink.com

Dibombardir dengan visualisasi yang menakjubkan, ditambah iringan scoring yang cukup berhasil memberikan intensitas adegan, serta twist yang mungkin akan menjadi kejutan tersendiri terkait satu karakter yang dimunculkan di penghujung film berakhir, Solo bukan berarti tak memiliki kekurangan.

Kelemahan yang cukup signifikan mungkin terletak pada karakterisasi setiap tokohnya. Meski dibawakan dengan cukup baik, karakter mereka malah menjadi terlalu abu-abu dan mengambang tanpa penjelasan atau eksplorasi yang bisa digali lebih dalam. Yang paling utama malah dari karakter Han Solo sendiri yang terlihat kurang bisa luwes diperankan oleh Ehrenreich. Sisi kharismatik seorang Han Solo yang kadung identik dengan Harrison Ford menjadi luntur begitu saja. Di beberapa scene bahkan Han digambarkan kelewat banyak omong dan terlalu komikal. Entah apa memang dimaksudkan menyamakan kondisi Han yang notabene masih muda atau gimana.

Pun demikian, Solo tetap masih terhitung menjadi satu buah sajian yang cukup memuaskan dan menghibur bagi fans Star Wars. Tanpa melihat dari sudut pandang sebuah franchise, standalone atau spin-off, Solo tetaplah sebuah bagian dari satu universe dunia sinematik yang teramat sayang untuk dilewatkan. Meskipun berada di level yang cukup berbeda dibanding film-film pendahulunya.

Oh iya, bagi kamu yang mungkin bukan penggemar Star Wars atau terlanjur kebingungan dalam mengikuti tiap episodenya, Solo nggak begitu membingungkan bagi penonton awam kok. Kamu tinggal duduk manis sambil menikmati sajian yang dihadirkan di dalam film dengan banyak adegan dan latar yang amazing!

Komentar:

Komentar