Review Peppermint: Isu Balas Dendam Klise yang Terselamatkan oleh Jennifer Garner

Mungkin bukan jadi film action kalau judulnya Strawberry

:

Judulnya sederhana: Peppermint. Judul film ini bisa jadi merujuk pada tanaman yang menghasilkan sensasi dingin saat dikonsumsi. Lalu apa maksud dari penggunaan nama tersebut sebagai judul dalam film terbaru Jennifer Garner ini?

Premis balas dendam yang mudah ditemui dalam film sejenis

Riley North (Jennifer Garner) menjalani hidup normal seperti orang lain pada umumnya. Dia adalah seorang istri dan juga ibu dari satu orang putri yang memiliki kewajiban mengurus keluarga, sambil juga menyempatkan waktu untuk bekerja. Satu hari ketika sedang merayakan ulang tahun sang anak di taman bermain, Riley harus menghadapi kenyataan pahit saat suami dan anaknya jadi korban pembunuhan kaki tangan kartel narkoba.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Kira-kira begitulah kondisi yang dihadapi Riley. Setelah kehilangan kedua orang yang dicintainya, dia masih harus menerima kenyataan pahit saat para pelaku malah dibebaskan karena dianggap kurang memiliki bukti valid.

Apa yang terjadi selanjutnya sangat, sangat klise. Sosok Riley yang awalnya lugu kemudian berubah jadi ibu-ibu sangar yang mencari keadilan dengan menuntut balas pada orang-orang yang sudah menghancurkan hidupnya.

via ew.com

Lalu apa hubungannya dengan pemilihan judul Peppermint? Jawabannya karena peppermint merupakan simbol dari rasa es krim yang dipesan oleh sang anak sebelum nyawanya melayang dibunuh para pelaku. Sama seperti rasa peppermint yang dingin, seperti itulah kondisi psikis Riley hingga dia berani menuntut balas tanpa ampun.

Tema balas dendam personal dengan cara main hakim sendiri bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia film sebenarnya. Judul lain seperti Oldboy (2013), Kick Ass (2010), hingga John Wick (2014) juga mengangkat tema balas dendam.

Seru kali ya kalau ada produser yang kepikiran membuat film crossover antara Riley North dan John Wick untuk saling membantu dalam mengalahkan penjahat.


Terselamatkan performa Jennifer Garner

Berbekal pengalamannya bergabung dalam serial Alias (2001-2006) dan Elektra (2005), genre action dengan melibatkan adu fisik hingga penggunaan senjata api bukan hal yang baru bagi Jennifer Garner. Peppermint yang berujung jadi film kelas B yang hanya mengandalkan performa  Jennifer Garner semata, untungnya berakhir cukup baik. Garner bisa memberikan performa yang mumpuni untuk menyelamatkan film ini dari keterpurukan.

via theyoungfolks.com

Untuk cerita dan alurnya, Peppermint kurang bisa dieksplorasi lebih dalam. Penonton memang bisa mendapat penjelasan tentang landasan cerita dalam flashback yang diceritakan di awal film. Tapi setelah Riley diceritakan kabur dari usaha penyekapan, banyak pertanyaan yang nggak terjawab dalam rentang waktu pelariannya selama lima tahun.

Agak aneh juga kalau kita melihat fakta tentang Riley yang awalnya digambarkan lugu, tiba-tiba bisa punya keberanian untuk melakukan tindakan gegabah yang diawali dengan mencuri uang di kantornya, lalu kabur berkeliling Hong Kong hingga Eropa untuk belajar bela diri. Lalu setelah merasa cukup mumpuni dalam urusan bertarung, Riley kemudian kembali ke Los Angeles untuk memburu para pelaku yang menghancurkan hidupnya.

Oh iya, dalam film diceritakan bahwa Riley kembali ke Los Angeles dan menyusun rencana selama tiga bulan lamanya. Dan fakta ini pun nggak terlepas dari keganjilan…

Saya heran kenapa Riley bisa segampang itu mencari tahu keberadaan para orang-orang incarannya dalam waktu tiga bulan pengintaian. Saya dibikin makin heran saat menyadari usaha balas dendam Riley bisa berlangsung hanya dalam waktu satu malam saja. Mengingat kita diperlihatkan adegan Riley sedang mengobati kakinya yang terluka di awal film,  sepak terjang Riley yang bisa mengalahkan para penjahat seorang diri dalam rentang waktu semalam malah jadi terasa aneh dan terlalu berlebihan.

via mtstandard.com

Satu perbedaan unik dari Peppermint

Di balik semua keanehan dan pertanyaan yang menggantung, ada satu hal dari Peppermint yang menurut saya bikin film ini terlihat berbeda dengan film sejenis, yakni penggunaan media sosial.

Menjelang penghujung film, sosok Riley yang diburu pihak kepolisian dan FBI mendadak jadi  sensasi viral di media sosial. Para netizen yang mengetahui masa lalunya malah beramai-ramai membela dan mendukung semua tindakan yang dilakukan Riley. Hal ini jadi semacam isu sosial tersendiri dimana masyarakat sering menjadikan seseorang simbol atas bobroknya pemerintahan yang lemah dalam menegakkan hukum.

via latimes,com

Well, di luar itu semua, saya masih bisa menikmati film ini tanpa harus berkomentar terlalu banyak. Peppermint membawakan kita plot yang terlalu umum, mudah ditebak tanpa harus dibuat pusing memikirkan twist berarti di dalamnya. Lumayan juga saya dihibur dengan penampilan Jennifer Garner yang terakhir saya lihat dalam Love, Simon (2018).

Komentar:

Komentar