Review Munafik 2 dan Karakter Abu Jar yang Jadi Sumber Banyaknya Pertanyaan Menggantung

Hidup ustaz aja banyak cobaan, gimana manusia lainnya?

Pernah ada ungkapan yang terkenal sejak zaman silam. Katanya, film horor itu nggak akan pernah habis untuk dibahas. Dari mana ungkapan itu berasal, kamu bertanya? Nggak usah dipikirkan, nggak penting juga.

Namun berbicara tentang film horor, di tahun 2016 lalu pernah hadir satu film horor dari negeri tetangga, Malaysia. Film tersebut sukses banget jadi bahan perbincangan bahkan jadi film terlaris di negaranya saat dirilis. Ingat nggak dengan judul film yang saya maksud? Yup, Munafik!

Siap kembali diteror di sekuelnya yang berjudul Munafik 2?

Teror yang kembali mengusik Ustaz Adam

via star2.com

Setelah kejadian di film pertamanya, Ustaz Adam (Syamsul Yusof) kini melanjutkan hidup dengan tenang sambil mencoba berdamai dengan masa lalunya. Tapi karena dia masih merasa bersalah dengan kematian Maria (Nabila Huda), Adam sering bermimpi buruk bahkan diteror langsung oleh hantu Maria. Di saat yang bersamaan, dia diminta membantu menyembuhkan seorang pria di satu desa yang mengidap penyakit misterius.

Usaha Adam untuk menolong pria malang itu pun sampai ke telinga Abu Jar (Nasir Bilal Khan), seorang pemuka agama di desa tersebut. Tapi Abu Jar ini bukan pemuka agama biasa; ajarannya  menyimpang dari jalan yang lurus.

Adam yang berniat tulus membantu malah dianggap ikut campur oleh Abu Jar, yang juga punya agenda lain terhadap Sakinah (Maya Karin), anak dari pria yang ditolong Adam. Keselamatan Adam termasuk keluarganya malah jadi ikut dipertaruhkan meski punya niatan baik.

Jumpscare tanpa minim cahaya

Kamu mungkin bakal sedikit kebingungan saat menonton Munafik 2 kalau belum menonton film pertamanya, terutama terkait sosok hantu Maria yang berulang kali muncul. Tapi bukan berarti kamu nggak akan bisa menikmati jalan cerita Munafik 2 meski belum nonton film yang pertama.

Seperti yang saya bilang, salah satu bahan jualan Munafik itu ya horor. Jadi apakah sekuelnya ini makin menyeramkan dibanding film pendahulunya?

Untuk sisi horornya, Munafik 2 langsung membombardir penonton dengan berbagai sajian horor sejak film dimulai. Bagian horornya bisa dibilang cukup menyeramkan, meski jumpscare serta sound effect menggelegar nan menggetarkan gendang telinga tetap jadi andalan. Satu per satu adegan horor mulai dari proses eksorsisme yang dilakukan Adam, gangguan gaib yang dialami Sakinah di dalam rumah, maupun teror yang dikirimkan pada orangtua Adam bisa membangkitkan sensasi seram saat menonton.

Sayangnya, pola kemunculan hantunya sudah keburu terbaca lewat sudut pandang sinematografi yang digunakan.

via star2.com

Namun ada satu hal menarik yang saya sadari. Meski Munafik 2 banyak menampilkan adegan malam hari, nyatanya adegan yang harusnya tampil dengan cahaya yang minim itu masih bisa dihadirkan dengan cukup terang tanpa harus merusak esensi seramnya. Sineas horor Indonesia, atau bahkan Hollywood sekalipun, masih sering menggunakan pencahayaan minim untuk sekadar membangun atmosfer film.

Sosok antagonis yang cuma jadi tempelan

Tapi dengan perpaduan unsur horor dan religi, ketumpangtindihan dua hal itu seringkali muncul di sepanjang film. Ini masih diperburuk juga dengan tampilan editing yang kurang halus, seolah penonton nggak dikasih jeda sejenak untuk bernapas. Dan kalau film nggak lagi menampilkan adegan horor, yang disorot malah kisah si Abu Jar yang bolak balik digambarkan berkeliling dengan kaki tangannya untuk mengejar-ngejar Sakinah tanpa punya motif yang jelas.

Coba pikir-pikir deh, untuk apa Abu Jar dan konco-konconya mengejar Sakinah? Apa mereka memang punya hobi mengejar orang di kala senggang?

Ini juga masih ditambah dengan karakterisasi Abu Jar yang kelihatan dipaksakan menyempil di dalam cerita. Penonton sejatinya bisa langsung tahu dari awal kalau dialah si antagonis yang patut dibenci. Tapi dengan karakterisasinya yang digambarkan sebagai ustaz palsu yang bersekutu dengan iblis, penonton nggak diberi kejelasan tentang titik balik kehidupannya di masa lalu yang membuat Abu Jar menyekutukan Tuhan.

via sukafilem.net

Maksud saya, nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api ‘kan? Kenapa Abu Jar nggak dikasih porsi sedikit lebih banyak tentang masa lalunya. Mengherankan melihat Abu Jar yang juga paham dengan ilmu keagamaan, tapi malah menggunakan ilmu tersebut sebagai kedok untuk menghasut warga sekitar menjadi pengikutnya.

Film horor dengan unsur religi sebenarnya bukan suatu hal yang baru. Perfilman Indonesia di tahun 80an sering memadukan dua unsur itu. Kamu tentunya ingat dengan barisan film horor yang dibintangi mendiang Suzanna?

Meramu sebuah film horor saja bisa disebut susah-susah gampang, apalagi ditambah dengan bumbu religi yang sensitif. Itu bukan tugas mudah. Sisi baiknya, sebagai penonton seenggaknya saya bisa ikut mengambil nilai-nilai kebaikan yang ingin disampaikan Munafik 2 tanpa merasa digurui.

Tapi dengan melihat keseluruhan jalan cerita, sesungguhnya pilihan untuk melaporkan Abu Jar ke polisi adalah satu hal yang cukup bijak. Kenapa Adam malah berupaya ingin menyadarkan Abu Jar dengan cara kembali ke desa dan berdakwah untuk menyadarkan para pengikutnya? Mungkin usaha ini dianggap perlu karena landasan cerita film adalah religi, bukan drama apalagi aksi.

Tapi bukannya lebih baik untuk mengumpulkan bukti dan menyerahkannya pada pihak berwajib tanpa harus berupaya tampil jadi yang paling benar? Nah, jadi saling merasa yang paling benar satu sama lain kan jadinya.

- Advertisement -
Shares 11

Komentar:

Komentar