Review Mission: Impossible – Fallout (2018), Sekuel Dengan Intensitas yang Naik Level Cukup Signifikan

Kejar-kejaran mobil? Mainstream! Sekarang jamannya kejar-kejaran pakai helikopter

Di antara banyaknya film action yang rutin dirilis, tema spionase alias mata-mata kayaknya kurang begitu dirilik dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang tahun 2018 saja seingat saya baru ada Red Sparrow yang mengisahkan tentang sepak terjang mata-mata wanita. Kalau kamu rindu dengan film bertema sejenis, Mission: Impossible – Fallout bisa menjadi pilihan yang sayang untuk dilewatkan.

Diangkat dari serial televisi tahun 60an, Mission: Impossible jadi salah satu franchise yang masih punya basis penggemarnya tersendiri. Hebatnya lagi, Mission: Impossible mampu melakukannya di kala filmfilm dari era yang sama kurang bisa bertahan meski mendapat polesan peremajaan dalam beberapa faktor.

Nah, sebagai film keenam dalam franchise yang udah berjalan selama 12 tahun, apakah masih seru untuk nonton Tom Cruise dalam melakukan adegan laga tanpa bantuan stuntman seperti yang sudah-sudah? Apalagi Tom Cruise sekarang sudah berumur lho.

via polygon.com

Sinopsis

Setelah berhasil mengungkap kelompok Syndicate dan membekuk Solomon Lane (Sean Harris), usaha Ethan Hunt (Tom Cruise) dalam Rogue Nation ternyata berbuntut panjang. Kini hadir kelompok baru bernama Apostle yang punya sebuah rencana keji untuk bikin kekacauan dunia dengan bom plutonium.

Sekali lagi Ethan harus berusaha menyelamatkan dunia bersama dua rekannya, Benji (Simon Pegg) dan Luther (Ving Rhames). Usaha mereka menjadi sulit karena kepala CIA yang baru, Erica (Angela Bassett) memaksa untuk mengikutsertakan Walker (Henry Cavill) dalam misi. Berhasilkah usaha mereka?

Sekuel yang mudah diikuti penonton awam dengan sosok ‘Superman’ yang mencuri perhatian

Dengan alur yang terhitung cepat, jalan cerita Mission: Impossible – Fallout bisa tersampaikan dengan cukup rapi meski memerlukan usaha ekstra untuk mencerna kompleksitas setiap lapisannya. Tapi tenang saja, film ini seolah diset untuk bisa diikuti penonton awam. Jadi kamu yang belum nonton film-film M: I dengan lengkap dari awal, bakal tetap bisa nonton Fallout dengan nyaman tanpa harus merasa bingung. Semenjak film keempat yang menggunakan sub-judul Ghost Protocol, setiap film M: I mampu berdiri sendiri dan bisa ditonton terpisah.

Hal ini bukan tanpa alasan kalau mengingat plot Fallout yang sebenarnya semacam lanjutan langsung dari film sebelumnya, Rouge Nation. Itu juga ditambah dengan cerita yang sedikit berfokus pada sosok antagonis Solomon Lane yang kembali hadir. Keuntungan yang bisa diambil bagi penonton sebelumnya adalah dengan adanya eksplorasi mendalam terkait cerita yang makin berkembang.

via bbc.com

Namun, beberapa usaha yang dimaksudkan sebagai kejutan atau twist sayangnya nggak terasa begitu mengena. Formula khas spionase terlalu gamblang dijabarkan meski tetap dieksekusi dengan menarik. Kejutan-kejutan ini juga berakhir hambar karena beberapa adegan seru sudah keburu dibongkar lewat trailer.

Rasa penasaran pribadi saya sebenarnya terletak pada nama Henry Cavill yang ikut bergabung dalam Fallout. Nama Henry Cavill terlanjur melekat dengan karakter Superman yang dia mainkan dalam Man of Steel dan Justice League. Siapa sangka Cavill ternyata bisa bermain sangat bagus dan melepaskan citra Superman di film ini . Cavill sanggup memberikan performa terbaiknya dan sukses mencuri perhatian dengan memerankan sosok Walker yang dingin. Should we thank on the mustache that Cavill grew for this movie?

Kumis oh kumis/via digitalspy.com

Tampil lebih maksimal dibanding semua film pendahulunya

Entah harus senang atau bosan saat menyaksikan setiap film dari franchise Mission: Impossible. Secara pribadi saya memang nggak begitu menggemari franchise ini. Agak susah untuk menulis review tentang Fallout sejujurnya. Bukan, bukan karena film ini jelek. Fallout justru hadir dengan cukup maksimal dalam menghadirkan sebuah film bertema mata-mata, khususnya kalau mau dibandingkan dengan barisan film dalam franchise-nya sendiri.

Fallout sebenarnya hanyalah film action dengan formula khas yang itu-itu lagi. Tapi yang kita bicarakan sekarang adalah Mission: Impossible. Semua unsur seperti kejar-kejaran, hand-to-hand combat, dan baku tembaknya menjadi suatu sajian khas tersendiri. Sebagai penonton, hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya hanya ini: adegan spektakuler apa lagi yang bakal hadir sekarang?

via screenrant.com

Yup, setiap film Mission: Impossible kayaknya selalu punya adegan memorable tersendiri. Sebut saja adegan Hunt yang bergelantungan dengan seutas tali dalam film pertama, adegan panjat tebing tanpa tali pengaman dalam film kedua, baku tembak di jembatan dalam film ketiga, memanjat Burj Khalifa yang menjadi gedung tertinggi di dunia dalam film keempat, hingga bergelantungan di pintu pesawat dalam film kelima. Mungkin memang hal-hal seperti ini yang diharapkan penggemarnya tanpa begitu memedulikan isi ceritanya.

Dalam Fallout kamu bisa saksikan gimana Tom Cruise maraton di atas gedung, kejar-kejaran dengan latar kota Paris yang tampil sangat intens, hingga pertarungan di atas langit yang melibatkan helikopter. Perlu diingat kalau Tom Cruise sendiri yang melakukan semua aksi tersebut seorang diri, tanpa menggunakan pemeran pengganti, sehingga visualnya bisa tampil sangat nyata.

Gila sih, saya cuma bisa geleng-geleng kepala kalau ingat umur Tom Cruise yang sekarang nyentuh 56 tahun. Dan dia masih sanggup melakuin itu semua seorang diri.

via bbc.com

Penutup yang baik di bulan Juli 2018

Dengan lanskap yang dicampur sinematografi cantik guna menghadirkan visual yang indah sebagai latar adegan aksinya, plus barisan pemain yang udah gak perlu diraguin lagi kualitasnya, Fallout pun turut dibantu dengan irisan scoring hasil gubahan Lorne Balfe yang benar-benar berpadu dengan maksimal dalam memberikan intensitas. Ya, Mission: Impossible – Fallout menutup bulan Juli 2018 dengan baik.

M:I – Fallout diakhiri tanpa adanya kemungkinan sekuel lagi. Tapi bukan nggak mungkin dalam beberapa tahun ke depan bakal hadir film ketujuhnya. Semua demi memuaskan para penggemarnya. Yaah, mungkin nanti pas Tom Cruise sudah berumur 72 tahun?

- Advertisement -
Shares 16

Komentar:

Komentar