Review Kuntilanak (2018), Film Horor Rasa Komedi

Berani nyari kuntilanak demi sepuluh juta?

:

Di tahun 2006 silam sempat hadir film horor Indonesia yang sukses menyita perhatian pencinta film, Kuntilanak. Saya sendiri termasuk salah satu orang yang menyukai film yang dibuat jadi trilogi tersebut, meski ending di film pamungkasnya sedikit mengecewakan.

10 tahun berlalu semenjak Kuntilanak 3 dirilis, tiba-tiba di momen lebaran 2018 Rizal Mantovani kembali menghadirkan film berjudul sama tanpa embel-embel sub judul tambahan. Saya langsung dibuat bingung apa film ini masuk ke dalam kategori prekuel, sekuel, atau malah reboot ulang dari awal. Satu-satunya benang merah yang bisa ditarik cuma perihal cermin Mangkoedjiwo.

Sedari awal saya nggak mau berekspektasi kelewat tinggi. Sorry to say, track record seorang Rizal Mantovani makin menurun dalam menggarap film horror. Apalagi ketika materi promosi dalam bentuk trailer yang dilepas malah sekilas mirip film It. Dugaan saya pun benar. Secara pribadi saya kecewa dengan Kuntilanak versi 2018 ini.

via youtube.com

Oke, pertama-tama saya mau kasih penjelasan dulu kalau Kuntilanak 2018 ternyata merupakan sekuel. Itu terlihat dari satu adegan yang menyoroti artikel koran tentang pembunuhan di tempat kos-kosan, yang berarti merujuk pada kejadian dalam Kuntilanak 2006. Nah, dengan pertanda mutlak kalau ini adalah sebuah sekuel, amat disayangkan jika tak ada penjelasan lebih lanjut tentang korelasi cermin Mangkoedjiwo.

Adegan pembuka tak berkesan sama sekali. Saya langsung mengernyitkan dahi dibuat heran. Dan akhirnya timbul berbagai pertanyaan yang terus merembet hingga film berakhir tanpa saya bisa tahu penjelasan logisnya. Pertanyaan sesederhana seperti bagaimana cermin Mangkoedjiwo bisa sampai dimiliki pria misterius yang muncul di adegan pembuka tak pernah terjawab. Masalah ini mungkin terlihat sepele. Tapi dengan mengetahui fakta jika pria misterius tersebut menyadari perihal sisi mistis cermin, justru harusnya kisah si pria misterius bisa diulik lebih dalam.

Setelah dibuka dengan opening act yang alakadarnya, fokus kemudian berpindah pada lima orang anak kecil yang jadi karakter utama. Berbeda dengan Kuntilanak versi 2006 yang penuh adegan intens, Kuntilanak versi 2018 ini malah disesaki adegan komedi yang bikin sensasi horor luntur begitu saja.

Apa sisi komedinya lucu? Well, saya hanya bisa tersenyum garing tanpa pernah tertawa lepas.


Tuh, anak-anak ini saja kelihatan bete dan nggak ketawa nontonin adegan komedinya/via youtube.com

Dan saya nggak habis pikir, bagaimana mungkin anak-anak di bawah umur ini malah digambarkan begitu pemberani. Bahkan salah satu karakter digambarkan sangat menyukai hal klenik. Apa mereka berlima nggak akan dapat efek traumatis berkepanjangan karena harus berhadapan dengan makhluk gaib yang mengancam nyawa? Mereka juga dengan sukarela memburu si kuntilanak. Gila, saya sih ogah disuruh nyari kuntilanak kalau nggak dibayar tinggi.

Plot dan benang merah cerita yang bergulir terlalu kelewat sederhana dan tertebak. Semua tindakan  karakter benar-benar dibuat begitu ceroboh. Singkatnya, semua dihadirkan kelewat kebetulan dan maksa. Pola jumpscare pun hanya sekedar bumbu dalam mengulur durasi. Entah apa motif sang kuntilanak yang hanya bolak balik muncul untuk sekedar menakut-nakuti.

Penggambaran kuntilanak yang cukup seram di trilogi awalnya juga berbeda jauh di sini. Saya selalu ingat kuntilanak di versi dulu punya kaki kuda dan muka yang jauh lebih seram. Di versi terbaru ini ternyata kuntilanaknya punya kaki manusia dan berjalan terseok-seok layaknya Sadako dalam film Ringu.

Boleh saya tambahkan kalau efek visualnya tak memberikan dampak seram? Muka si kuntilanak mengingatkan saya dengan hantu dalam film Mati Suri yang juga disutradarai Rizal Mantovani. Ngomong-ngomong, kalau ada yang jeli, setting rumah yang dipakai sama lho dengan rumah yang dipakai dalam film Mati Suri. Apa ini semacam crossover terselubung?

via youtube.com

Setelah diajak berputar-putar ke dalam cerita komedi mistis, twist kejutan di penghujung film pun tak ada apa-apanya karena sudah kadung tertebak dari awal. Saya gak habis pikir kalau film ini bakal berakhir sedemikian berantakan.

Saya benar-benar nggak betah sepanjang durasi dan bolak balik cek jam tangan, berharap durasi satu setengah jam cepat selesai. Jujur, sepanjang nonton saya sebenarnya sangat berharap akan ada sebuah kejutan lain yang diselipkan di post-credit scene. Entah itu jawaban atas banyaknya missing link dan plot hole, atau malah kemunculan Samantha sebagai pelepas kekecawaan.

Meskipun ada potensi lanjutan dari segi open ending, well, Kuntilanak yang ini kayaknya lebih baik tak perlu diperpanjang lebih jauh lagi. Gimana menurut kamu?

Komentar:

Komentar