Review Jaga Pocong: Berhasil Membangun Teror dengan Baik meski Sedikit Abai dalam Keutuhan Konteks Cerita

Jaga Pocong apa Jaga Novi?

:

Bagi seorang suster rumah sakit terutama yang bekerja di bagian pemulasaran jenazah, mendapati pasien yang meninggal mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Tapi jangan disangka mereka seperti kehilangan empati; mereka hanya berusaha bersikap profesional. Bagaimanapun sadarnya kita akan prinsip bahwa hidup itu tak abadi, kematian tetaplah menyisakan duka yang mendalam.

Begitu juga suster Mila yang mendapati pasiennya meninggal sesaat setelah shift tugasnya selesai. Ia tak berani mendekati pasien tersebut dan memilih melihatnya dari jauh. Kenapa? Karena sebelum suster Mila pamit pulang, ia menjanjikan kepada pasien tersebut bahwa mereka akan bertemu kembali esok hari.

Adegan itulah yang menjadi pengantar kisah perjalanan Suster Mila yang diperankan Acha Septriasa dalam film terbarunya, Jaga Pocong.

Via Spectrum Film

Acha memerankan dua karakter berbeda dengan menawan

Ketika Jaga Pocong mengumumkan jajaran pemainnya, banyak yang bertanya, “Kok Acha main film horor?”. Ingin tahu kenapa? Ya karena menurut Acha nggak ada karakter yang nggak bagus, yang terpenting adalah bagaimana kita memainkannya. Jadi bagaimana hasilnya karakter yang Acha mainkan?

Via Twitter Acha Septriasa

Cerita bermula dari kepala suster (Dewi Irawan) yang meminta Mila pergi ke rumah seorang pasien yang sedang membutuhkan pertolongan. Ada dialog yang mengundang penasaran sekaligus menjadi petunjuk untuk ditemukan jawabannya hingga akhir filmnya. Dialognya kurang lebih seperti ini:

“Kenapa harus saya?” tanya suster Mila ketika diminta pergi ke rumah pasien tersebut.

“Karena harus kamu!” jawab sang kepala suster.


Yang jadi pocong, aktor senior Jajang C. Noer lho./ via Spektrum Film

Singkat cerita Mila sampai di rumah tersebut. Namun, ia mendapati bahwa pasiennya sudah meninggal. Dan baru saja ia memutuskan untuk pergi dari rumah, Mila tertahan karena dimintai tolong oleh Radit (Zack Lee), anak pasien yang meninggal tersebut.

Karakterisasi Mila sebagai seorang suster digambarkan dengan cukup baik. Salah satunya didukung dengan adegan pemandian jenazah. Seusai itu, Mila lebih banyak ketakutan, menangis dan menjerit sepanjang film. Memang banyak yang berkata bahwa modal bermain di film horor adalah takut, lari, nangis, dan teriak. Tapi di tangan aktor yang tidak tepat, tangisan pun nggak akan memiliki makna.

Beruntungnya, Jaga Pocong memiliki Acha Septriasa. Ia memainkan segala emosi dengan menawan. Sepanjang film, kita akan melihat bagaimana Acha membawa penonton peduli pada apa yang ia lakukan.

Lebih dari itu, Acha pun ditantang memerankan karakter lain dalam film ini. Meski porsinya singkat, tapi akting Acha (yang lain) menjadi kunci agar penonton bisa menafsirkan karakternya dengan baik. Penasaran ‘kan karakter seperti apa yang ia mainkan?

via Spektrum Film

Debut perdana sutradara untuk horor yang cukup menyeramkan

Jaga Pocong menyerahkan penyutradaraan pada sutradara Hadrah Daeng Ratu. Dan bagi Hadrah sendiri, film ini merupakan debut perdananya menyutradarai film horor. Sebelumnya Hadrah pernah sukses membesut drama keluarga Superdidi (2016) dan dwilogi komedi romantis Mars met Venus (2017).

Dalam film ini, Hadrah cukup lihai dalam mengatur tempo cerita dan ketepatan memunculkan pocong. Paruh pertamanya memang berjalan cukup lambat sebagaimana alur Asih atau Kafir: Bersekutu Dengan Setan. Namun, paruh pertama yang lambat ini digunakan untuk eksplorasi karakter agar mudah diikuti oleh penonton.

Lha, katanya Jajang C. Noer jadi pocong. Kok dia bawa kelambu?/ via Spektrum Film

Olah ruang yang jelas

Saya selalu memberikan perhatian lebih terhadap olah ruang ketika menonton film horor. Ya, tidak lain tidak bukan karena sebagian besar horor kita masih fokus pada latar di sebuah rumah. Maka memperhatikan olah ruang menjadi penting agar kita bisa memahami logika pergerakan setiap karakternya.

Dalam film ini, struktur ruangan seperti ruang depan, dapur, tangga, dan kamar dijelaskan dengan baik. Hadrah memiliki visi ruang yang menarik dan mampu diterjemahkan oleh penata kamera dengan pas dan baik pula.

Percayalah dia Mila bukan Hanum Rais. / via youtube.com

Twist yang menarik, tapi …

Setidaknya dua pertiga dari 83 menit durasi Jaga Pocong berjalan cukup mulus sebagai film horor yang nggak banyak mengumbar jumspcare dan iringan musik yang memekakkan telinga. Tapi… semua itu berubah ketika ada satu twist yang dihadirkan dalam film.

Saya mengakui bahwa ide twist ini menarik, tapi pola pengungkapannya cenderung tiba-tiba. Kalau kita perhatikan kembali ada satu adegan saat Novi (anak Radit) mencegah Mila ketika ia akan membuka satu pintu. Nah, pintu itu seakan menjadi gerbang untuk membuka segala teror yang dialami Mila. Sayangnya, untuk membuka gerbang terebut, Hadrah memilih pendekatan yang nggak dilakukan tokoh utama; pintu itu terbuka dengan sendirinya.

Di sini saya jadi bertanya, mengapa karakter Mila nggak berkembang? Serangkaian teror yang ia terima seharusnya membuat Mila berpikir dan mencari tahu mengapa ini bisa terjadi padanya. Dari segala tanda-tanda yang sudah dibenamkan sejak awal film dimulai, mengapa tanda-tanda tersebut nggak dijadikan kunci untuk membuka rahasia teror?

Tolong mandikan jenazah ibu saya. / via Spektrum Film

Usaha-usaha dari twist yang dihadirkan jadi nggak benar-benar berkesinambungan dengan niatan awal film ini dihadirkan. Saya merasa adegan penutup Jaga Pocong seperti adegan film lain yang berbeda. Dengan kata lain, klimaks dan solusi Jaga Pocong seperti mengkhianati nuansa horor yang sudah dibangun sejak awal.

Terlebih ketiadaannya penjelasan hubungan antara ‘rumah pasien’ dan ‘rumah sakit’ menjadikan film ini hanya sebatas menakut-nakuti tanpa memerhatikan latar belakang yang utuh. Jaga Pocong seakan melupakan kepingan rumah sakit yang belum tuntas, padahal semuanya berawal dari sana.

Akhir kata, selayaknya film horor kebanyakan, Jaga Pocong masih berupaya mencari bentuk lain dalam penyelesaiannya tanpa memerhatikan konteks yang dibangun. Tapi dalam hal membangun teror, film ini bisa dikatakan berhasil dengan baik.

Komentar:

Komentar