Review Hereditary (2018), Film Horor Tanpa Hantu yang Rajin Eksis Depan Kamera

Drama horror penuh teror yang berakhir menjadi thriller supranatural

:

Saya selalu keburu skeptis dengan film-film horor modern yang cuma bermodal jumpscare dan scoring menggelegar. Meskipun secara pribadi saya senang nonton film dengan genre tersebut. Tapi tiba-tiba saja muncul satu film horor berjudul Hereditary yang menuai banyak respons positif. Wow! Jarang banget nih ada film horror masa kini yang dapet pujian sampai sebegininya. Hereditary bahkan dapat rating 7,7 di IMDB, 87 di Metascore, dan 90% di Rottentomatoes.

Melihat antusiasme dari publik, saya pun berangkat ke bioskop dengan harapan yang cukup tinggi.

Hereditary mengisahkan tentang satu keluarga yang terdiri dari sang ayah Steve (Gabriel Byrne), dan istrinya, Annie (Toni Collette), serta kedua anak mereka, yakni Peter (Alex Wolff) dan Charlie (Milly Saphiro). Tapi kehidupan keluarga ini berubah drastis setelah nenek dari Peter dan Charlie meninggal dunia; kehidupan mereka jadi diliputi oleh teror dan kejadian aneh.

Banyaknya teror yang terjadi pada keluarga tersebut ternyata berkaitan dengan misteri terkait sang nenek yang telah tiada. Tapi tak hanya misteri yang terungkap, teror itu pun membuat keselamatan mereka terancam.

via bustle.com

Kamu yang pengin nonton film horor yang penuh penampakan hantu mungkin bakal kecewa selesai nonton Hereditary. Film ini ternyata bukan tipikal film horor yang banyak mengumbar adegan hantu yang rajin muncul di layar atau sekedar mengageti penonton dengan suara yang memekakkan telinga. Elemen jumpscare bahkan nggak menghiasi film secara dominan.

“Jadi di mana letak horornya dong?” mungkin kamu bertanya begitu. Well, bagi saya film ini lebih bisa dikategorikan sebagai thriller psikologis. Yup, alih-alih mengandalkan aktor yang memakai makeup tebal atau tampilan berantakan (baca: setan), Hereditary lebih mengaduk emosi penonton dengan nuansa horor dari sisi psikologis. Hal ini bisa dilihat dari alur cerita yang bergerak cukup lambat sejak film dimulai. Jujur sih, saya sempat agak sedikit bosan karena saat nonton karena ceritanya jadi bertele-tele.

Gong horor pertama baru dimulai saat film sudah berjalan sekitar 40 menit. Saya yang lagi nyantai duduk sambil nyender langsung dibuat terbelalak kaget oleh satu adegan yang juga sukses bikin beberapa penonton di sebelah saya ikut histeris.


via nerdist.com

Tapi ‘kebahagiaan’ yang saya rasakan rupanya nggak bertahan lama. Ketika saya pikir plot sudah mulai masuk ke benang merah cerita, nyatanya intensitas film malah bolak-balik mengendur. Seperti saya bilang sebelumnya, Hereditary cenderung lebih mengaduk sisi psikologis penonton. Tim penulis naskah secara bertahap terhitung berhasil membagi setiap karakter dalam porsi cerita yang cukup. Tim editing juga bisa dibilang cukup baik memadukan adegan dari tiap sudut pandang karakter untuk mendapat eksplorasi.

Jadi, ya memang pembangunan sisi psikologis karakter mungkin menjadi tujuan utama film ini. Setiap karakter seperti mendapat jatah bagian masing-masing untuk membuat penonton bisa ikut memahami perasaan yang dialami mereka.

Karakter pertama yang dijadikan fokus adalah Charlie. Dia bahkan sudah jadi main character sejak awal film dimulai. Di pertengahan, barulah film menyoroti Annie sang ibu. Di perempat akhir film akhirnya Peter yang berganti mendapatkan porsi lebih. Lah karakter si bapak gimana? Dia malah gak begitu dominan meski sempat dikasih bagian di bagian pertengahan bareng sang istri.

Apa ini bisa dibilang menjadi kelemahan Hereditary? Bisa iya, bisa juga nggak. Kalau saya sih merasa justru ini menjadi nilai lebih. Sisi alur mungkin terasa berjalan lambat banget. Tapi dari sini penonton bisa ikut merasakan perkembangan dari karakter sekaligus ikut berpikir untuk menerka ending dari film ini.

Dan satu hal lain yang saya suka dari Hereditary adalah banyaknya penggunaan teknik one take.  Teknik ini ikut berperan dalam menambah intensitas thriller jadi terasa makin kental dibuatnya.

via roanoke.com

Kelemahan Hereditary yang bagi saya cukup mengganggu malah datang dari faktor eksternal. Maksudnya? Saya sih kasih saran buat kamu yang penasaran sama film ini mending langsung nonton tanpa kudu cek trailernya. Soalnya banyak hal-hal penting justru terlanjur dibongkar di trailer. Kamu pengin dapat pengalaman nonton yang maksimal, ‘kan?

Sebagian penonton termasuk saya mungkin akhirnya bisa bernafas lega alias kegirangan setelah diajak berputar-putar menyelami cerita film berdurasi dua jam lebih sekian menit ini. Porsi horor akhirnya digempur dengan maksimal menjelang film berakhir, lengkap dengan adegan yang bikin satu studio histeris dan mengejutkan penonton dengan kemunculan hantu yang gak mainstream. Intinya… gokil!

via ign.com

Jujur, semua asumsi dan dugaan pribadi saya saat awal-awal durasi film akhirnya luntur karena Hereditary memberikan hasil berbeda di penghujung film. Bagian penutup film ini juga mungkin akan mengingatkan kamu dengan satu judul film lokal terkait dengan tema yang diungkap di bagian klimaks.

Sebagai penutup ulasan ini, saya bisa bilang kalau Hereditary sukses menyuguhkan sajian horror/thriller yang ikut membuat penonton untuk memerhatikan banyak detail yang disebar sepanjang film, layaknya properti diorama yang tampil sempurna.

Hereditary juga bisa menjadi pilihan yang pas untuk ditonton bagi kamu yang merindukan film horor yang nggak cuma mengandalkan banyak penampakan hantu dan jumpscare. Hereditary tampil cukup bagus di tengah ‘standar’ film horor kebanyakan yang notabene gitu-gitu aja.

Komentar:

Komentar