Review Preman Pensiun: Suguhan Kritik Sosial Berbalut Budaya yang Tampil Menghibur

Filmnya orang Jawa Barat

:

“Kita dipertemukan oleh bisnis. Bisnis yang oleh Kang Bahar disebut sebagai bisnis yang bagus, tapi bukan bisnis yang baik. Bisnis yang sudah lama ada, jauh sebelum Kang Bahar ada di dalamnya, dan masih tetap akan ada sampai jauh setelah kita meninggalkannya. Kita buktikan pada Kang Bahar yang sudah tenang di sana, di sini kita punya bisnis yang bagus dan juga bisnis yang baik.”

Kalimat itulah yang diucapkan Kang Mus pada anak buahnya setelah pensiun dari bisnis preman. Pesan terakhir Kang Mus tersebut sekaligus mengakhiri tamatnya serial televisi yang populer di tahun 2015, Preman Pensiun.

Hampir empat tahun berselang, kalimat penuh makna di atas bisa kamu dengar lagi di film layar lebarnya yang memakai judul sama. Ya, kalimat tersebut dijadikan pembuka untuk film yang diproduksi MNC Pictures dan ANP Films.

Lalu bagaimana kelanjutan cerita Preman Pensiun versi film?

Penghormatan untuk almarhum Didi Petet

via MNC Pictures

Selepas meninggalnya kang Bahar (Didi Petet), tongkat pimpinan preman diserahkan pada Kang Mus (Epy Kusnandar). Kang Mus memegang amanah dan kepercayaan dari Kang Bahar untuk tetap menjaga anak buahnya. Ia bersama Ujang memilih bisnis kecimpring, sementara anak buah lainnya kembali ke kehidupan mereka masing-masing sebelum menjadi preman. Ada yang jualan di pasar, jadi satpam,pawang kuda lumping, hingga pulang kampung untuk membuka usaha.

Tapi tiga tahun kemudian bisnis kecimpring Kang Mus mengalami penurunan. Tak hanya itu, Kang Mus pun harus dihadapkan pada anak perempuannya, Safira (Safira Maharani), yang mulai beranjak dewasa. Tapi ada masalah lebih besar dari itu, yakni masalah yang menimpa anak buahnya.

Latar waktu yang diambil oleh Preman Pensiun menandakan kepergian aktor senior Didi Petet tiga tahun lalu, tepatnya 15 Mei 2015. Tak hanya untuk mengingat kepergiannya, cerita film pun dibuat untuk mengenang sosok Kang Bahar yang akan memasuki 1000 hari kepergiannya.


Dengan menggabungkan fakta dan cerita filmnya, film yang ditulis dan disutradarai Aris Nugraha ini betul-betul melakukan penghormatan untuk almarhum Didi Petet. Penghormatannya pun tak sekadar gimmick. Akan ada saatnya Preman Pensiun betul-betul memberikan haru dan tangis lewat adegan yang ditunjukkan Kang Mus dan Kinanti, putri Kang Bahar.

Konsep editing yang segar

Tak seperti opak di film sebelah, proses pembuatan kecimpring digambarkan cukup baik/via youtube.com/MNC Pictures

Bergenre drama komedi, Preman Pensiun hadir dengan konsep penyuntingan gambar yang unik. Preman Pensiun melakukan cut to cut dari satu adegan ke adegan lain secara berkesinambungan. Adegan yang satu seakan menjawab adegan sebelumnya, meskipun kejadiannya berbeda satu sama lain. Jika tak cermat, konsep ini mungkin bakal menganggu penonton yang tak pernah menonton serial televisinya.

Untungnya Ichsan JW dan Syarif Hidayat yang menggawangi departemen editing mampu melakukannya dengan baik. Editing-nya tak menghilangkan konteks adegan yang sedang dibangun. Konsep seperti ini juga menguntungkan bagi Preman Pensiun yang harus memperkenalkan karakter-karakternya yang terhitung banyak kepada penonton baru.

Sunda yang utuh dan nggak pura-pura

Duo Pipit & Murad yang gemesin/via youtube.com/MNC Pictures

Yang paling menarik dari Preman Pensiun adalah penggunaan latar Sunda yang bisa dibilang utuh. Mulai dari latar tempat, para pemain, musik, dan unsur lainnya menggunakan budaya Sunda.

Para pemain mulai dari pemeran utama, pemeran pembantu, hingga figuran adalah aktor asli asal Jawa Barat. Hal inilah yang membuat dialog para pemain terasa natural ketika harus menggunakan logat dan kata berbahasa Sunda. Mereka nggak terkesan berpura-pura.

Syutingnya pun dilakukan di Bandung dan banyak menghadirkan lokasi tertentu yang terkenal sebagai ikon kota. Bagusnya Preman Pensiun, lokasi-lokasi tersebut tak hanya dijadikan sebagai kemewahan visual semata. Aris Nugraha mampu mengaitkan lokasi yang ada dengan cerita yang segar.

Gedung Merdeka misalnya, Aris mengaitkan sejarah gedung yang berada di kawasan Asia Afrika tersebut dengan suasananya di masa kini. Hasilnya perlu saya akui, “Gedung Merdeka” adalah adegan yang paling bikin saya ngakak terbahak-bahak. Tentunya tak hanya di adegan tersebut, kepiawaian Aris juga terlihat dalam merangkai adegan lainnya untuk menunjukkan bahwa film ini Sunda Banget!

Buat saya, Preman Pensiun menjadikan Sunda sebagai latar budaya yang mengikat dengan cara yang gemilang. Ia nggak hanya membuatnya sebagai pajangan untuk dikagumi. Sedikit berbeda dengan yang dilakukan oleh dua film pembuka 2019 yang hanya menggunakan latar Sunda secara ala kadarnya dan tak konsisten.

Sindiran halus terhadap segala bentuk premanisme

Para preman reuni kecil-kecilan dan merencanakan sesuatu/via MNC Pictures

Preman Pensiun tetap hadir dengan kritik sosial, sebagaimana yang ia tunjukkan di serialnya. Kehadiran preman di jalanan hanyalah simbol bagaimana Preman Pensiun menggambarkan segala bentuk premanisme. Lebih dari itu premanisme tak hanya hadir di jalanan, tapi hampir banyak di lingkungan sehari-hari. Semisal pungutan liar yang dilakukan oleh oknum birokrat, atau oknum polisi yang “menduitkan” segala kasus yang diterimanya.

Preman Pensiun seakan mengimbau para oknum tersebut untuk pensiun dari bisnis preman yang mereka lakoni. Karena menurut Preman Pensiun, masih ada bisnis bagus, baik, dan juga bertanggungjawab. Kalaupun para oknum tersebut tetap pada pendiriannya untuk melakukan bisnis preman, suatu waktu mereka akan mendapat balasannya. Sebagaimana yang Preman Pensiun tunjukkan lewat plot kunci salah satu tokohnya.

via MNC Pictures

Dari segala uraian di atas, jelas sekali Preman Pensiun tak terlalu ngotot untuk menjadi berbeda. Ia hadir apa adanya seperti serialnya. Bagi para penggemarnya, Preman Pensiun akan mengobati rindu hingga titik tertinggi. Tapi bagi yang kurang mengikuti, Preman Pensiun tetap tampil menghibur sebagai film komedi.

Satu hal yang pasti, Preman Pensiun tahu persis ke mana arah tujuannya. Ia tak terjebak pada pilihan antara memuaskan para penggemar atau penonton umum sebagaimana yang sering dilakukan film-film hasil adaptasi. Preman Pensiun berdiri sendiri dengan segala keunikannya.

Komentar:

Komentar