Review Dilan 1991: Kisah Percintaan Geng Motor yang Diromantisasi dengan Bujuk Rayu

"Hati-Hati di Jalan"

:

Baru saja tayang sehari, film Dilan 1991 sudah mendapat tanggapan yang kurang bersahabat. Di  hari Kamis (28/2/2019), sekelompok mahasiswa di Makassar berdemo menolak penayangan Dilan 1991 di bioskop. Mereka beralasan film tersebut memberi pengaruh buruk ke dunia pendidikan, menyebarkan budaya kekerasan, dan nggak memuliakan profesi guru.

Yaah, mereka berhak menyuarakan opini. Toh ini negeri yang menjunjung demokrasi dan kebebasan berpendapat ‘kan. Saya sendiri sempat menuangkan secuil opini tentang bagaimana Dilan 1991 menguasai hampir 100% layar bioskop Bandung pada hari Dilan 24 Februari lalu. Dan menurut penelusuran saya, Dilan 1991 bahkan menguasai sekitar 80% layar film nasional.

Film-film yang sehari sebelumnya masih tayang harus rela masuk arsip untuk selama-lamanya. Barangkali hanya Foxtrot Six yang bisa bernapas lega karena masih diberi sedikit ruang.

Meskipun skalanya kecil, Dilan 1991 sanggup memicu kontroversi juga nih. Penasaran nggak apa yang hendak ditawarkan oleh film yang mengundang banyak perhatian ini?

Masih jualan kata-kata

Pengin banget diusap rambutnya dan disuapi roti cokelat/Max Pictures

Dalam Dilan edisi sebelumnya, Dilan 1990, diceritakan kalau Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) akhirnya resmi berpacaran. Pokoknya, status hubungan mereka itu sudah sah sebagai pacar, walaupun belum resmi di mata KUA. Nah, kisah hubungan mereka setelah berpacaran inilah yang menjadi ruh utama Dilan 1991.

Film yang diadaptasi dari novel laris karya Pidi Baiq ini masih menjual gombalan khas Dilan sebagai hidangan utamanya. Nyaris sepanjang film, kita akan dijejali gelontoran kata-kata gombal yang mungkin sudah terdengar seperti pepesan kosong bagi sebagian orang. Tapi gombalan dan rayuan yang dikeluarkan Dilan untuk Milea nggak pernah tersusun menjadi satu alur dan cerita yang solid.

Dan sama seperti pendahulunya, Dilan 1991 hampir nggak punya sesuatu yang hendak disampaikan. Hanya pasang surut kehidupan asmara dua tokoh utamanya saja yang ditonjolkan. Seperti kala Milea yang senyum-senyum sendiri setelah mendengar cita-cita Dilan, atau Dilan yang cemburu ketika Milea bersama laki-laki lain.

Sudah, itu saja!

Romantisasi geng motor

Perumpamaan tangan sebagai pengganti ciuman, satu kelebihan Dilan 1991 dibanding film pertamanya/Max Pictures

Salah satu yang menyebabkan karakter Dilan jadi kontroversi sejak dari film pertamanya adalah karakterisasinya. Dilan digambarkan sebagai panglima tempur geng motor di Bandung. Banyak warganet, terutama kaum ibu, mengkhawatirkan Dilan bisa jadi contoh buruk bagi remaja sekolahan.

Kekhawatiran itu memang cukup berdasar. Tapi kayaknya terlalu berlebihan juga kalau kita menyalahkan satu karakter fiksi untuk permasalahan di dunia nyata. Rasanya kecil kemungkinan seorang anak tiba-tiba menjadi berandalan setelah nonton Dilan. Pasti ada alasan lain, alasan yang lebih nyata, kenapa seseorang bisa terjerumus ke dunia geng motor.

Mungkin karena broken home, kurang kasih sayang, atau nggak punya tempat pelarian/penyalur hobi? Sumber-sumber permasalahan seperti itu yang justru harus diselesaikan, bukan dengan memboikot karya fiksi.

Tapi seakan menyadari kritik atas film pendahulunya, Dilan 1991 memang banyak berbenah. Nggak ada lagi adegan Dilan yang nggak menghormati gurunya, atau aksi perkelahian geng motor. Di Dilan 1991 adegan semacam itu lebih banyak digambarkan melalui narasi karakter-karakternya. Tapi itu jadi pisau bermata dua juga. Dilan 1991 terasa tampil hambar dan membosankan saat menginjak pertengahan durasi.

Adanya konsekuensi hukum membuat film ini juga punya nilai tambah/Max Pictures

Sebagai suguhan audio-visual, Dilan 1991 yang sudah penuh sesak dengan rayuan maut harus ditambah pula dengan narasi kejadian-kejadian penting. Dan dialog yang tersusun dalam naskah hasil gubahan Titien Wattimena dan Pidi Baiq juga terlampau berceramah. Salah satunya tercermin dari beberapa kali penyebutan nama lokasi di Bandung, dan itu nggak dibarengi usaha keras untuk mewujudkannya lewat media visual.

Beruntung Dilan 1991 masih bisa mengembangkan sedikit intensitas konfliknya. Ada sedikit penggalian batin Dilan yang nggak banyak diungkap di film pertamanya. Pertentangan diri Dilan dengan apa yang orang lain lihat (terutama Milea), membuat Dilan 1991 lebih berbobot, dan nggak mengandung banyak klise. Iqbal maupun Vanessa juga tampil lebih baik melakonkan karakter mereka masing-masing dengan jangkauan emosi yang lebih luas.

Tapi sayangnya, pembangunan konflik tersebut hanya berjalan sementara. Fajar Bustomi selaku sutradara nggak pernah benar-benar meniatkan hal tersebut menjadi salah satu penyokong alur cerita film.

Sampai jumpa di film Milea, guys!/Max Pictures

Potensi lain yang bisa juga menjadi pendukung kesatuan cerita adalah hadirnya tokoh Yugo (Jerome Kurnia) si teman SD dari Milea. Karakter Yugo yang punya potensi untuk jadi latar penyebab konflik budaya, akhirnya hanya berujung jadi sumber pemancing kecemburuan Dilan. Karakternya disudahi begitu saja, tanpa pernah berada dalam satu kesatuan lingkaran cerita.

Sebagai film remaja yang mengusung tokoh anak SMA, Dilan 1991 bukan yang terbaik. Ia masih memilih berada di jalur yang aman dan nggak berliku. Tapi bagi kamu yang senang dengan romantisme kata-kata, atau yang semasa SMA-nya dulu nggak pernah mesra-mesraan, Dilan 1991 boleh saja dijadikan bahan pelarian.

10 Shares

Komentar:

Komentar