Review Dear Nathan Hello Salma: Ceritanya Mengikat, Penuturannya Tak Konsisten

Tapi masih bikin baper kok

Di saat kebanyakan film remaja Indonesia penuh dengan kata-kata gombal tapi abai konteks, Dear Nathan yang menyapa kita di tahun 2017 lalu hadir berbeda. Film yang diproduksi Rapi Film itu ternyata mampu tersaji hangat dan manis dengan konflik yang lebih menarik. Meski tak sampai menyentuh angka 1 juta penonton, Dear Nathan cukup percaya diri untuk melanjutkan kisahnya dalam Dear Nathan Hello Salma.

via Rapi Film

Sekilas tentang Dear Nathan

Untuk kamu yang belum nonton film pertamanya, tak usah khawatir. Dear Nathan Hello Salma masih bisa dinikmati tanpa bikin kamu banyak bertanya ke orang yang duduk di sebelah kamu saat di bioskop.

Biarpun begitu, seenggaknya penting juga sih untuk tahu apa yang diceritakan dalam Dear Nathan.

Di film pendahulunya, diceritakan kalau Nathan (Jefri Nichol) adalah sosok yang nakal dan sering berantem di sekolahnya. Mengenai kenapa Nathan bertingkah seperti anak begajulan, itu semua karena latar belakangnya yang berasal dari keluarga kurang harmonis. Keadaan baru sedikit berubah Salma (Amanda Rawles) muncu di kehidupan Nathan.

Kedatangan tokoh Salma akan menjadi tak ubahnya klise jika dijadikan alat untuk mengubah sikap Nathan. Tapi uniknya, justru Salma-lah yang belajar mencintai Nathan apa adanya. Di akhir film, bukanlah Nathan yang berubah, melainkan Salma yang banyak belajar dari kehidupan Nathan. Hal ini dibuktikan dengan adegan penutup berupa surat yang ditulis oleh Salma.

Yang saya suka adalah bagaimana film ini mengaitkan ke film pertamanya dengan pas, elegan dan sesuai./ via Youtube.com

Giliran Nathan yang mengerti Salma

Dear Nathan Hello Salma tampak dibuat berkebalikan dari Dear Nathan, dengan kehidupan Salma  yang kali ini jadi sorotan utama. Setidaknya hal ini dibuktikan oleh beberapa hal di film ini. Mulai dari dialog pembuka yang meminta Nathan untuk mengerti Salma, hadirnya ayah Salma yang diceritakan baru pulang dari luar negeri, serta tokoh Ridho (Devano Danendra) yang difungsikan untuk menggangu hubungan Nathan & Salma.

Cerita diawali dengan adegan Nathan yang, lagi-lagi, adu jotos dengan teman sekolahnya yang mengejek dan merendahkan Salma. Namun sikap Nathan ini berujung pada putusnya hubungan Nathan dan Salma. Di saat Nathan ingin memperbaiki hubungannya dengan Salma, di sinilah ayah Salma berperan. Ia tidak merestui hubungan anaknya dengan Nathan.

Di sisi lain, Salma diceritakan lebih dalam. Ia mengalami tekanan dari keluarganya karena dipaksa oleh ayahnya untuk masuk ke jurusan kedokteran, Universitas Indonesia.

Lalu bagaimana Nathan bisa memahami Salma jika mereka tak bisa lagi bersama?

Mereka putus? Sabar ya Nathan, cewek mah emang gitu. Dia yang minta putus, dia juga yang nangis. Eh serasa jadi korban/via youtube.com

Hadirnya Rebecca sebagai cerminan Salma

Keinginan Nathan & Salma untuk bersatu kembali tentu memerlukan tokoh baru. Dear Nathan Hello Salma melakukan itu dengan menghadirkan karakter Rebecca (Susan Sameh), siswa perempuan yang juga berasal dari keluarga berantakan. Ayahnya yang bunuh diri selepas perceraian dengan ibunya memicu Rebecca untuk mengikuti jejak ayahnya: ia akan bunuh diri di sekolah.

Tak dinyana, rencana putus asa Rebecca itu membuka takdir pertemuannya dengan Nathan, yang datang menggagalkan rencana bunuh diri Rebecca.

Selanjutnya film pun menyoroti kisah Nathan & Rebecca. Saya melihat Indra Gunawan (yang kembali duduk di bangku sutradara) ingin menjadikan Rebecca sebagai cerminan/jalan untuk memahami Salma. Itu tercermin dari adegan ketika Nathan berhasil memperbaik tape lama milik ayah Rebecca: mereka keasyikan berjoged. Dan itu merupakan sesuatu yang biasa dilakukan oleh Nathan & Salma.

Setelah itu, penyuntingan gambar langsung beralih pada adegan Nathan yang sedang diam pada posisi semula. Apakah sebetulnya Nathan itu sedang berjoged atau diam?

Saya berasumsi Nathan tidak sedang berjoged, tapi ia seakan melihat Salma dalam diri Rebecca. Asumsi ini pun diperkuat oleh adegan Nathan mengajak Rebecca pergi ke salon. Lihat bagaimana penampilan Rebecca selepas keluar dari salon? Persis seperti Salma!

Asyik nih jogednya. / via youtube.com

Sampai detik itu, saya betul-betul terkagum karena Dear Nathan Hello Salma akan menjadi film remaja dengan penceritaan yang lebih dewasa dari film pertamanya.

Sayang beribu sayang, kekaguman saya hanya sebentar. Adegan langsung berpindah pada Salma kembali. Indra Gunawan memang cukup paham dalam meramunya. Ia sadar betul untuk tidak membuat Salma lama-lama menghilang dari layar, karena bagaimanapun juga jualan utama dari film ini adalah karakter Nathan & Salma.

Konsekuensi dari hal tersebut adalah konflik Rebecca yang akhirnya diselesaikan begitu cepat. Ini yang membuat Dear Nathan Hello Salma tak konsisten dalam penuturannya. Saya yakin sekali, Indra Gunawan adalah sutradara yang memiliki visi bertutur dengan baik. Setidaknya itu pernah dibuktikan dalam Hijrah Cinta. Sayangnya, kali ini ia harus sedikit mengalah.

Tapi kasihan juga Rebecca kalau dia nggak cepat sadar. Berharap sesuatu yang tak berbalas itu sakit memang/via youtube.com

Karakter yang sia-sia

Dengan fokus yang berpindah – pindah antara Nathan & Salma, membuat Dear Nathan Hello Salma harus mencari resolusi bagi karakter yang lain. Beberapa karakter berhasil menemui jalannya. Di antaranya adalah karakter Rebecca yang akhirnya sadar bahwa dirinya berharga, atau ayah Salma yang juga menyadari sesuatu hal.

Tapi lain dengan karakter ayah Nathan, ibu Salma, dan Ridho. Penampilan Ayah Nathan (Surya Saputra) memang perlu diacungi jempol. Tapi kehadirannya hanya sebatas memberikan petuah bagi Nathan dalam membuat keputusan atas masalah yang dihadapinya. Ia tak pernah benar-benar menjadi karakter pendukung karena konfliknya sudah selesai di film pertamanya. Sebagaimana film ini memberitahukan keadaan hubungan mereka (Nathan & ayahnya) dalam dialog kurang lebih sebanyak tiga kali.

Bersiaplah bagi kamu yang belum nonton film pertama, beberapa petuah ayah Nathan hanya sebongkah narasi yang mungkin kurang memiliki makna dan relevansi terhadap perkembangan karakter utama. Tapi kalau untuk diambil jadi kata-kata motivasi dan dibuat status, boleh lah!

Narasi ayah Nathan seyogyanya bisa disiasati dengan flashback ke film pertama, sebagaimana Dear Nathan Hello Salma melakukan adegan kilas balik pada hubungan Nathan & Salma.

Film ini hanya berisi adegan putus nyambung, putus nyambung saja. Gitu aja terus sampai kampus UI pindah ke pinggir pantai./ via youtube.com

Namun, yang paling tersia-siakan adalah karakter ibu Salma dan Ridho. Kehadirannya sama sekali tak mendukung karakter Salma. Ibu Salma hanyalah orang tua yang percaya pada dukun, tapi tidak sekalipun diperlihatkan bagaimana ia berkomunikasi dengan suaminya untuk membicarakan masa depan Salma. Bahkan ketika sang suami meminta ia untuk bicara baik-baik dengan Salma, ia malah mengantuk. Ibu macam apa itu?

Lalu bagaimana dengan Ridho? Rasanya tak perlu saya bahas. Jika karakternya dibuang pun, rasanya Dear Nathan Hello Salma tak akan mengalami hal yang buruk.

Tapi… di balik itu semua ceritanya sangat mengikat

Masih sama seperti pendahulunya, Dear Nathan Hello Salma tetap menjadikan keluarga sebagai topik utama. Adegan ayah Salma (Gito Gilas) di teras bersama Salma adalah bagian terbaik yang dimiliki Dear Nathan Hello Salma. Seorang ayah yang tak malu mengungkapkan sisi terlemahnya hanya untuk bisa memahami putrinya. Perlu saya akui, pilihan-pilihan kreatif untuk menggambarkan suasana keluarga di film ini adalah bentuk kepiawaian Bagus Bramanti dalam menulis cerita.

Banyak yang bilang adegan ini nanggung. Justru menurut saya, mereka mendalami peran terbaiknya di adegan ini/via youtube.com

Dengan megabaikan penuturannya yang terlalu melebar dan inkonsisten, Dear Nathan Hello Salma masih menjelma sebagai sajian yang menggemaskan, lucu, dan bikin baper. Untuk ukuran film remaja, bagi saya itu sudah cukup!

19 Shares

Komentar:

Komentar