Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya yang Penuh dengan Kekonyolan Tak Bermakna

"Air Suci, Air Pembuka, Beri Aku Jalan"

“Jelangkung jelangkung, datang untuk dimainkan. Please help me find something

Begitulah mantra memanggil setan jika dilakukan oleh vlogger asal Jaksel, Sisi, yang sangat suka membuat vlog tentang hal-hal mistis. Mantranya pun menggunakan dwi bahasa: Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Keren, bukan? Mungkin ini pertama kalinya dalam semesta Jelangkung, mantra diucapkan dengan gaya bahasa campur ala zaman globalisasi.

Mau tahu lebih jauh tentang Sisi dan mantra gaulnya tersebut? Langsung saja kamu simak ulasan film terbaru Max Pictures, Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya.

Vlogger abal-abal

Di era sekarang ini, nggak aneh kalau kita lihat orang yang cari duit lewat internet. Bahkan di samping nyari duit, nggak jarang juga orang sekalian nyari kontroversi demi like, comment, dan subscribe dengan bantuan internet. Begitu juga dengan Sisi (Nina Kozok), yang bersama adiknya, Arik (Rayn Wijaya), memanfaatkan internet untuk membangun eksistensi mereka.

Demi merayakan subscriber-nya yang sudah mencapai satu juta, Sisi meminta masukan mereka mengenai tempat mana lagi yang akan ia datangi sebagai objek vlog-nya. Beberapa tempat mistis seperti Rumah Ambulans di Bandung, Lawang Sewu di Semarang, hingga Jeruk Purut di Jakarta pun terpilih sebagai kandidatnya.

Namun, dengan mengenyampingkan semua kandidat lokasi, Sisi dan adik akhirnya lebih memilih Taman Lubang Buaya yang dianggap bukan tempat biasa. Mereka yakin Taman Lubang Buaya bakal mendatangkan view yang banyak.

Arik dan Sisi yang kegirangan karena bakal menemukan sesuatu di Lubang Buaya / via youtube.com

Cuma itu alasannya Sisi? Ya, cuma itu. Mungkin ada alasan lainnya, tapi saya nggak tahu karena Sisi sendiri nggak pernah menyebutkannya! Cuma karena controversyi!?

Dan kalau bicara soal Sisi, sebagai seorang vlogger terkenal ia nggak diberi karakterisasi yang mumpuni. Bagaimana ia berinteraksi dengan channel vlog atau penontonnya tak pernah dihadirkan dalam film ini. Watak khas dari Sisi yang memberikan kesan mendalam bagi saya cuma kebiasaannya dalam mencampur logat khas Ibu Kota dan logat Inggris.

Ketika saya melihat bagian awal dari film ini, saya seperti mendapat petunjuk akan kegagalan Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya dalam membangun karakter tokoh.

Cerita yang absurd

Bagi kamu yang takut nonton film horor karena khawatir dikagetkan dengan serangkaian teror setan, Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya bisa dijadikan pengecualian. Hampir nggak ada teror dari setan di film ini. Setan yang ada hanyalah serangkaian penampakan yang dibuat dengan efek visual. Alih-alih menyeramkan, penampakannya justru terlihat lucu, khususnya adegan ‘kain kafan’ yang beterbangan disertai dengan kemunculan burung gagak. Entah maksudnya apa adegan tersebut sampai diulang dua kali.

Hingga film berakhir, saya masih belum bisa menemukan faedah kain tersebut yang terbang bagai permadani.

Ketiadaan teror akhirnya berujung pada 82 menit durasi yang hanya berkutat pada pencarian Sisi, setelah sebelumnya ia hilang karena nekat main boneka jelangkung di Lubang Buaya. Menurut teori yang diberikan oleh film ini, Sisi memasuki alam gaib tempat para hantu bersemayam dan baru bisa selamat jika ada yang menjemputnya sebelum 40 hari.

Salah satu karakter paling absurd dalam film ini. Dan saya senang bukan kepalang saat ia tercebur ke sungai/via youtube.com

Dari sinilah kekonyolan demi kekonyolan terjadi (bahkan lebih konyol dari apa yang pernah saya saksikan di Arwah dan Nyai). Arik yang takut dimarahi orangtuanya jika ditanya tentang Sisi, meminta tolong pacarnya, Mayang (Anya Geraldine) untuk mencari Sisi.

Namun, segala upaya yang dilakukan Rayn dan Mayang dipenuhi dengan ketololan. semisal ketika mereka harus menyiapkan ayam cemani sebagai ganti makanan para hantu. Kebodohan tersebut diperparah dengan hadirnya penduduk Desa Pucung, tempat di mana Sisi pertama kali menemukan boneka Jelangkung.

Harusnya ganti judul, Tusuk Jelangkung di Desa Pucung

Film ini mengusung judul Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya, mungkin agar punya perbedaan dengan Tusuk Jelangkung (2003). Meski begitu, 90% latar film ini terjadi di air terjun Desa Pucung.

Adegan pembuka memperlihatkan beberapa penduduk Desa Pucung yang hilang akibat memainkan boneka jelangkung, seakan menjadi latar belakang dan penanda bagaimana film ini akan berkisah. Ternyata dugaan saya salah. Adegan tersebut bukanlah penanda, bagi kehidupan selanjutnya, karena konsep timeframe yang digunakan adalah konsep satu waktu. Hal ini menyebabkan alasan dan motivasi Sisi ke Desa Pucung dan bertemu para penduduk terasa janggal.

Pemimpin Desa Pucung yang akhirnya mengalah ikut ke alam gaib demi anak dan cucunya / via youtube.com

Begitulah Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya, film yang penuh dengan kekonyolan tak berarti dan tak sejalan dengan alur cerita. Bahkan tak ada adegan tusuk menusuk satu kali pun meski judulnya Tusuk Jelangkung.

Satu informasi penting yang harus kamu tahu, film ini dibuat oleh peraih nominasi Piala Citra lewat Rumah Seribu Ombak (2012).

- Advertisement -
Shares 9

Komentar:

Komentar