The Lion King Versi 2019, Ketika Film Live Action Memaksakan Nostalgia tanpa Membawa Jiwa Film Aslinya

Ketika babi jadi karakter yang paling menghibur di film

:

Beberapa tahun belakangan ini Disney kelihatannya lagi gencar banget buat bikin ulang film-film animasi klasiknya ke dalam bentuk live action. Kalau kita mau perhatikan lebih jauh, sebenarnya mereka udah pernah melakukan praktik ini di film 101 Dalmatians di tahun 1996, yang merupakan remake dari film animasi rilisan tahun 1961. Yah, sebenarnya 101 Dalmatians versi 1996 nggak bagus-bagus amat juga sih. Malah di Rotten Tomatoes 101 Dalmatians cuma dapat skor 39%.

Tapi kualitas 101 Dalmatians yang cenderung memprihatinkan nggak lantas bikin saya jadi malas buat nonton karya live action dari film-film animasi Disney. Malahan saya penasaran gimana hasilnya kalau deretan film animasi klasik Disney yang legendaris dibikin versi live action.

Oke, hasilnya memang ada satu-dua film live-action Disney yang memang memuaskan, sebut aja kayak Christopher Robin (2018), Beauty and The Beast (2017), dan Aladdin. Tapi entah kenapa, saya merasa lebih banyak film live-action Disney yang berujung hambar. Saya ambil contoh Alice in Wonderland (2010), Cinderella (2015), The Jungle Book (2016), atau Dumbo.

Mungkin alasan utama kenapa penilaian negatif itu muncul karena saya udah nonton film aslinya. Sedangkan dalam versi live action, saya nggak menemukan hal-hal baru yang menarik. Ibaratnya, film-film live action tersebut nggak harus-harus amat untuk dibuat. Nggak ada faktor yang bikin saya harus nonton film versi live action alih-alih film animasi aslinya. Satu-satunya alasan kenapa saya nonton film-film tersebut adalah karena faktor nostalgia.

Aladdin, contoh film live action yang nggak cuma mengandalkan pengaruh nostalgia

Berbekal kekecewaan gagal CPNS yang saya dapat dari film-film live action Disney, saya pun awalnya skeptis duluan saat nonton Aladdin versi 2019. Tapi untungya, Aladdin berhasil menjungkirbalikkan rasa pesimis saya menjadi kepuasan total. Dan coba tebak alasannya. Yup, itu karena Aladdin menawarkan kita sesuatu yang baru dan fresh jika dibandingkan Aladdin versi animasi aslinya.

Salah satu pembaruan dalam Aladdin bisa kita lihat dari karakter Jin (Genie) yang diperankan Will Smith. Asal kamu tahu, Aladdin sebenarnya udah pernah dibuatkan versi animasinya yang dirilis tahun 1992. Dan hebatnya, hampir seluruh kritikus yang bisa kamu temukan di internet memuji habis-habisan Aladdin versi animasi tersebut. Dari jajaran aktor, pujian terutama dilayangkan ke komedian kawakan Robin Williams yang dinilai sukses berat menampilkan Genie yang kocak habis.

Walhasil, saya pun nonton Aladdin versi 2019 dengan membawa bayangan Genie ala Robin Williams di otak saya. Tapi lucunya, saat film menginjak pertengahan durasi, saya udah lupa sama Robin Williams dan Genie yang diperankannya itu. Yeah, dan Will Smith-lah yang bikin saya melupakannya. Di mata saya, Will Smith berhasil memerankan Genie tanpa merusak citra Jin tersebut yang sebelumnya udah dibangun oleh Robin Williams. Will Smith sukses membangun karakterisasi, sifat, dan persona baru Genie yang cenderung gampang untuk kita cintai.


Waw, janggutnya itu lho, mirip …/Walt Disney Picture

Dan itulah, kawan, kenapa saya memuji Aladdin versi 2019. Film itu bisa menawarkan pembaruan yang memuaskan hati, dan saya pun nggak pernah mencoba membanding-bandingkannya dengan film animasi Aladdin versi 1992. Karena saya pikir, Aladdin versi 2019 punya kualitas dan ciri khas unik yang bikin saya enggan buat membandingkan dia dengan film animasinya.

Editor’s Pick

Lalu gimana dengan si Raja Singa alias The Lion King?

Kalau boleh jujur nih, film ini secara keseluruhan nggak bagus-bagus amat. Kesannya, saya malah kayak lagi nonton dokumenter tentang kehidupan fauna di Discovery Channel atau National Geography. Cuma bedanya, di film ini saya jadi tahu apa yang lagi diobrolin sama hewan-hewan.

“Pa, mama kapan pulang dari syuting di Discovery Channel? Aku pengen jajan ciki!”/Walt Disney Picture

Dari sisi plotnya pun nggak ada kejutan berarti, seakan film ini dibuat sebatas untuk obat kangen dan bahan nostalgia, tanpa menawarkan sesuatu yang baru. Paling yang patut diacungi jempol ada di aspek visualnya yang lebih realistis dan scoring lagu yang lebih megah. Meskipun, di beberapa momen, saya merasa aspek visual dalam film ini terlalu realistis. Sebagai remake dari film animasi, penampakan hewan-hewan The Lion King versi 2019 memang terlalu realistis. Kamu nggak akan melihat hewan-hewan yang lucu lagi di sini, melainkan hewan-hewan yang semuanya punya tampang lempeng alias lurus.

Kalaupun kita mau membandingkan film versi 2019 ini dengan film animasinya, nyaris nggak ada sesuatu pun yang bisa jadi pengingat kenapa The Lion King yang rilis tahun 1994 bisa dicintai begitu banyak orang dari berbagai kalangan dan usia. Dan hal ini akhirnya membuat saya bertanya-tanya dalam hati: Buat apa sih Disney membuat ulang sebuah film yang udah nyaris sempurna!?

Kamu sendiri mungkin udah tahu jawaban dari pertanyaan itu.

Sebenarnya ada satu hal lain yang sedikit menolong film ini untuk nggak jatuh terlalu dalam ke kategori film membosankan. Dan dewa penyelamat itu muncul lewat dua karakter, Pumbaa dan Timon.

Disney

Tapi buat saya, mereka punya peran yang lebih vital di versi live action. Yup, mereka berfungsi untuk membuat The Lion King versi 2019 menjadi agak menyenangkan untuk ditonton. Kemunculan duo Pumbaa dan Timon di beberapa adegan bagaikan pelipur lara bagi saya yang mulai bosan dengan jalan cerita filmnya yang mulai terlalu serius dan mudah ditebak. Asli cuy, hampir setengah durasi dari film ini kelam banget. Saya sendiri rela buat nonton film ini sampai tamat cuma karena pengaruh Pumbaa dan Timon.

Walt Disney Picture

Salah satu momen terbaik di film ini juga muncul saat adegan Timon, Pumbaa, dan Simba bernyanyi lagu Hakuna Matata. Kalau disimak dengan lebih cermat, ada bagian dialog lucu sesaat setelah lagunya selesai. Dialog tersebut nggak ada di film aslinya. Tapi penyampaian dialog-dialog singkat dan lucu semacam itulah yang bikin saya tetap bertahan untuk nonton filmnya sampai beres. Buat sebagian orang, efeknya mungkin nggak seberapa. Tapi bagi saya, momen-momen kecil yang menghibur penting banget buat ada di film yang membosankan.

Secara keseluruhan, film The Lion King versi remake ini tetep layak kamu tonton kalau masih penasaran. Tapi ya, kamu nggak usah berekspektasi lebih kali ya. Oh ya, film ini juga cocok buat ditonton anak, adik, atau ponakan kamu yang masih kecil. Lumayan buat pengenalan beberapa jenis satwa yang nggak ada di kebon binatang di kota kamu.

Komentar:

Komentar