The Boys Itu Serial Satir yang Menjungkirbalikkan Konsep Superhero dengan Brilian

Lebih bagus mana ini dibanding Saras 080989 empat kali yah?

:

Ketemu musuh besar, mendengarkan plot jahat dari musuh itu, berantem, dan akhirnya menang. Dari Iron Man hingga Batman, dari Wonder Woman hingga Spider-Man, film atau serial TV bertema superhero kebanyakan berkutat di pola yang hampir sama seperti di atas. Memang, biasanya ada beberapa adegan selingan di antara struktur plot tersebut, kayak kisah romansa yang melibatkan percumbuan panas dan konflik pribadi misalnya.

Tapi pada umumnya, cerita dan plot dari film superhero nyaris seragam.

Setali tiga uang, sifat dan karakterisasi dari para pahlawan super pun punya kemiripan satu sama lain. Yup, mereka selalu punya hati emas bak malaikat. Mereka selalu siap sedia untuk membantu orang yang lemah dan melawan kejahatan, tanpa meminta bayaran. Itu makanya Clark Kent harus bekerja sebagai reporter, karena saat beraksi sebagai Superman, dia nggak pernah dibayar satu dolar Zimbabwe pun.

Sedikit pengecualian mungkin ada di sosok anti-hero semacam Deadpool. Dia memang masih punya karakteristik superhero. Tapi gaya bahasanya dan kelakuannya itu lho, nggak pernah dijaga. Dia kalau ngomong suka seenak jidat. Dan justru karena keunikannya itu banyak pencinta film yang menyukainya. Saya salah satunya.

Jangan salah dulu, saya nggak bermaksud menjelek-jelekan mayoritas film dan serial TV bertema superhero. Karena bukankah inti dari tontonan semacam itu adalah pesan moral tentang kebaikan versus kejahatan? Masalahnya, saya cuma sedikit bosan. Ya, bosan dengan film superhero yang gitu-gitu aja. Saya butuh lebih banyak tontonan unik kayak Deadpool. Saya pengin sesuatu yang berbeda!

Akhirnya harapan saya terwujud lewat The Boys, serial garapan Amazon Studios yang diadaptasi dari komik berjudul sama. Komik tersebut lebih ditujukan untuk orang dewasa. Itu terwakili banget sama konten kekerasan dan gambar aduhai yang ada dalamnya. Intinya, ini komik “gue banget”. Mungkin kamu yang punya selera yang sama kayak saya bakal antusias saat baca komik The Boys.

Para superhero The Boys lagi berpose ala band-band pop 90-an/Wildstorm & Dynamite Entertainment)

Untungnya, serial TV adaptasinya pun nggak lupa buat membawa aspek-aspek tersebut. Jadi buat kamu yang nggak kuat lihat darah atau adegan sadis ala film gore, siapkan mental sebaik mungkin sebelum nonton The Boys.

The Boys itu serial apa? Jawabannya: Satir yang jenius!

Setelah selesai nonton musim perdananya, antusiasme saya akan film dan serial superhero kembali pulih. Saya pernah dapat kesan yang sama dari Kick-Ass dan Deadpool. Hanya saja, The Boys mengandung nuansa yang lebih kelam dari dua film itu. Tapi pesan yang dikandungnya terasa lebih relevan dengan keseharian kita di dunia nyata.

Nggak tanggung-tanggung, ceritanya mengangkat soal kebobrokan moral superhero yang melakukan kebajikan demi kepentingan pribadi dan pencitraan doang. Beda banget sama karakter superhero kebanyakan yang seringkali menjunjung tinggi moralitas dan keadilan untuk seluruh umat manusia. Mereka nggak pernah melakukan tindakan heroik untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok tertentu.

Di sinilah The Boys menjungkirbalikkan semua yang kita tahu tentang superhero.

“Bang super, selpi dong! Biar ane bisa apdet di IG!”/Amazon Studios

Beberapa pahlawan super di serial ini cuma mengutamakan kepentingan pribadi seperti kekuasaan, ketenaran, dan kekayaan. Contohnya, mereka punya kontrak bisnis untuk membintangi film atau muncul di acara-acara TV. Urusan yang sangat korporat, tapi mereka nggak segan memakai nama superhero untuk kepentingan seperti itu. Bahkan mereka bisa cekcok gara-gara kue jatah keuntungan box office.

Para superhero itu nggak bergerak sendiri-sendiri. Mereka tergabung dalam organisasi yang dibiayai oleh perusahaan raksasa, Vought. Hubungan semacam simbiosis mutualisme terjalin di sini. Vought sendiri kayak perusahaan yang memasarkan superhero lewat produk-produk budaya populer.

“Neng, kayaknya cocok deh jadi model”/Amazon Studios

Bahasa kerennya mah, Vought itu sama dengan talent agency campur vendor produk gitu deh. Lewat agensi tersebut, para superhero “dipasarkan” untuk menjadi sosok pahlawan yang selalu bercitra baik. Apa pun itu caranya, termasuk taktik “kotor” agar citra superhero tetap harum. Walaupun di balik kostum yang mereka gunakan, para superhero juga suka melakukan hal yang nggak terpuji. Seperti menghajar penjahat sampai babak belur misalnya, seolah-olah para superhero ini nggak lebih dari maniak penggila kekerasan.

Dari semua itulah The Boys membedakan dirinya dari film superhero kebanyakan. Mereka juga bahkan seperti menyindir film-film superhero lain, budaya masyarakat, dan politik dunia saat ini.

Superhero yang berlagak seperti selebritis yang banyak tingkah? Agak susah membayangkan Superman atau Captain America berlagak kayak gitu. Tapi ini tahun 2019, era di mana banyak orang menganggap popularitas adalah segalanya.

Hmmm kok mirip pose paguyuban superhero dari DCEU/Amazon Studios

Dan superhero di The Boys berperilaku lebih manusiawi dibandingkan superhero tradisional yang hidupnya cenderung lurus dan alim. Mereka bahkan memanfaatkan media massa untuk urusan pencitraan. Sebaliknya juga, media massa memanfaatkan superhero agar konten-konten medsos mereka viral. Vought sebagai korporasi raksasa juga nggak lepas dari perhatian. Mereka menganggap para superhero sebagai komoditas atau barang jualan belaka. Dan pandangan seperti itu masuk akal banget di tengah sistem kapitalisme yang mendominasi dunia saat ini bukan? Superhero itu sama aja dengan karyawan kantoran di dunia The Boys. Cuma bedanya, mereka itu karyawan yang punya kekuatan super, sampai-sampai disamakan dengan dewa, meskipun sebagian dari mereka kelakuannya bejat.

Masih banyak intrik, kegilaan, kritik, sindiran, dan hal-hal menarik lainnya dari The Boys. Kamu nggak akan tahu gimana kerennya serial ini kalau cuma baca artikel.

Sekali lagi, ini bukan serial superhero biasa. Tapi The Boys juga bakal mengajak kamu menjelajahi cerita tentang superhero dari sudut pandang alternatif yang mudah dicerna oleh kalangan pecinta superhero masa kini.

2 Shares

Komentar:

Komentar