Ternyata Gundala Nggak Memenuhi Ekspektasi, tapi Hal Itu Bisa Dimaklumi

Ya namanya juga film perdana.

Masih ingat dengan tulisan mengenai besarnya ekspektasi saya terhadap film Gundala? Ternyata setelah membuktikannya sendiri dengan menonton film tersebut minggu lalu, tidak semua ekspektasi saya terpenuhi dengan baik. Setelah menonton, saya berinisiatif untuk membaca ulasan-ulasan mengenai Gundala dari beberapa media. Dan hasilnya, bukan saya sendiri yang mendapatkan perasaan mengganjal sehabis nonton film pembuka dari proyek ambisius Jagat Sinema Bumilangit itu. Beberapa ulasan dari media tersebut ternyata memiliki beberapa alasan yang saya rasa masuk akal mengenai kenapa film Gundala terasa sangat mengganjal.

Tidak hanya membaca ulasan, saya pun iseng memantau reaksi para netizen karena saking penasaran. Dan ternyata, tidak sedikit dari mereka yang memiliki anggapan seragam dengan saya. Bahwa sebenarnya, film Gundala ternyata tidak memenuhi ekspektasi mereka yang selama ini teryakinkan lewat trailer dan media promosinya.

Beberapa opini netizen tentang film Gundala

 

Sejujurnya, saya tidak merasa sepenuhnya terkhianati karena pada kenyataannya, Gundala memang film superhero yang tidak sempurna – setidaknya untuk saya. Di saat yang bersamaan, saya juga bisa memahami kenapa Gundala terasa kurang maksimal. Padahal, untuk aspek tata kostum dan intensitas aksi laganya, Gundala sudah terasa lebih baik dibandingkan dengan beberapa film superhero asal Indonesia yang sudah pernah tayang sebelumnya. Tapi dari sekian banyak beberapa kekurangan, ada satu kekurangan yang saya bisa maklumi dari film Gundala.

Screenplay Films

Plot yang terlalu padat

Sejak dari awal, Gundala memang diproyeksikan untuk menjadi pembuka rangkaian film-film lainnya di Jagat Sinema Bumilangit. Dengan tugas seperti itu, Gundala memang seharusnya menjadi film dengan konten cerita origin yang utuh dan relevan. Sehingga film-film Bumilangit selanjutnya akan tetap memiliki korelasi satu sama lain karena fondasi jalan ceritanya sudah terbangun baik lewat Gundala.

Namun, saya rasa masalahnya ada di perihal durasi.  Dengan filmnya yang (hanya) berdurasi dua jam, memang sulit bagi Gundala untuk membangun suatu landasan cerita yang akan membangun cerita-cerita lain yang skalanya lebih besar. Saya pun bisa merasakan kalau Joko Anwar memang mencoba untuk membangun landasan tersebut lewat Gundala.

Screenplay Films

Tapi sepertinya, langkah yang diambil Joko untuk membuat cerita landasan yang terlalu detail agak kurang tepat. Karena, setelah menonton filmnya, saya merasakan beberapa transisi antar adegan terkesan terlalu cepat dan dipaksakan. Tapi kembali lagi, kalau memang alasan utamanya adalah durasi yang terlalu pendek untuk menjelaskan sebuah origin story yang komprehensif, hal itu masih masuk akal untuk saya.

Dengan berat hati saya harus kembali membandingkan karya anak bangsa dengan karya internasional dengan tema yang senada. Saya jadi teringat ke film Iron Man yang menjadi pembuka rangkaian film-film MCU. Di film tersebut, saya diajak berkenalan dengan sosok Tony Stark sebelum menjadi Iron Man dan akhirnya memutuskan untuk menjadi superhero dengan pakaian berteknologi canggih tersebut. Namun, pembangunan proyek MCU di film itu terasa tidak dipaksakan. Malahan, film tersebut lebih fokus terhadap ke pengenalan karakter Tony Stark. Baru di postcredit scene, film Iron Man memberikan kisi-kisi kalau ternyata film tersebut bakal memiliki dunia sinematik yang lebih luas.

Kembali ke Gundala, sepertinya karena sudah memiliki beban yang besar sejak awal kemunculannya,  film tersebut malah terasa seperti memasukkan terlalu banyak detail. Gundala terasa sangat sesak dan tidak memberikan kesempatan bagi para penonton untuk menikmati jalan ceritanya secara utuh.

Screenplay Films

Padahal, kalau melihat daftar film-film Jagat Sinema Bumilangit yang akan tayang selanjutnya, hal-hal detail tersebut sebetulnya bisa dibahas di film-film selanjutnya. Mungkin bisa sebagai kilas balik atau memang mengaitkan keberadaan satu karakter dengan karakter lain, semacam teori Peter Parker yang ternyata seorang anak kecil yang Iron Man selamatkan di Iron Man 3.

Saya rasa, Gundala memang menjadi area eksperimen dan pembelajaran bagi Joko Anwar dan tim Jagat Sinema Bumilangit lainnya untuk membuat sebuah film superhero. Karena hal cinematic universe ini terbilang baru di industri film Indonesia, kekurangan tersebut seharusnya bisa dimaklumi oleh para penonton. Malahan menurut saya, seharusnya penonton memberikan dukungan yang lebih banyak untuk tim dibalik film Gundala. Mereka sudah berupaya untuk memberikan film superhero asal Indonesia dengan baik lewat sumber acuan ceritanya dengan detail dan lengkap.

 

Komentar:

Komentar