Teka-teki Menegangkan yang Membuang Waktu dalam Film Escape Room

“Bertahan hidup itu merupakan pilihan,” katanya

Escape room sejatinya adalah sebuah permainan teka-teki dalam ruangan. Permainan yang dimainkan secara berkelompok itu mengharuskan para pemainnya untuk berpikir, lalu memecahkan puzzle yang telah dirancang di tiap ruangan. Mereka pun terkadang dituntut untuk beraktivitas lebih seperti menahan benda atau memindahkan barang tertentu demi mencari petunjuk.

Tapi yang terjadi dalam film Escape Room ternyata lebih dari itu.

Premis ala Saw yang lebih ramah penonton

via imdb.com/Sony Pictures Releasing

Escape Room bakal memperkenalkan kamu pada enam karakter sentral. Ada Zoey (Taylor Russell), Ben (Logan Miller), Amanda (Deborah Ann Woll), Mike (Tyer Labine), Jason (Jay Ells), dan Danny (Nik Dodani). Keenam karakter itu “beruntung” telah diundang untuk bermain dalam escape room dengan iming-iming hadiah sebesar $10.000.

Mereka pasti nggak akan repot-repot datang kalau tahu nyawa mereka yang jadi taruhannya.

Kisah yang ditawarkan Escape Room sebenarnya bukanlah hal baru. Ide dasar tentang sekelompok orang yang bertahan hidup dalam permainan maut bikin kita langsung teringat pada film Saw. Layaknya Saw juga, setiap karakter menyimpan kisah pribadi masa lalu yang berkaitan dengan petunjuk-petunjuk di dalam permainan.

Tapi ada hal kecil yang jadi pembeda antara kedua film ini: rating. Saat Saw berani memasang rating R, Escape Room hanya mematok rating PG-13. Masalah rating ini yang akhirnya bikin Escape Room masih terhitung aman untuk ditonton bagi kamu yang nggak kuat melihat adegan sadis.

Editor’s Pick

Set ruangan menakjubkan sekaligus mematikan sebagai bahan eksplorasi karakter

Alih-alih memenuhi durasi film dengan sisi gore, Escape Room bakal membuai kamu dengan ruangan-ruangan yang jadi rintangan bagi karakter utama. Ruangan, atau lebih tepatnya jebakan tersebut diset dengan sangat rapi dan mendetail, sekaligus seru untuk disimak. Kamu pun seolah diajak ikut berpikir untuk mencari petunjuk sambil harap-harap cemas dengan nasib keenam karakter di dalamnya.

Beberapa di antaranya yang menarik adalah ruangan berupa oven raksasa, ruangan bersalju, serta ruangan billiar. Kamu bakal dibuat takjub melihat ruangan yang bisa bergerak bahkan berputar-putar. Belum lagi ruangan billiar terbalik yang dipenuhi benda di bagian lantai dan atapnya.

Ruangan billiard terbalik/via imdb.com/Sony Pictures Releasing

Ruangan-ruangan yang menjadi daya jual utama dalam film secara nggak langsung juga menjadi jembatan penghubung bagi eksplorasi tiap karakter. Berbagai petunjuk serta simbol yang digunakan dalam permainan akhirnya membuka jati diri mereka satu per satu.

Sayangnya, hal itu juga yang jadi kelemahan dari film ini. Eksplorasi karakter tersebut kurang digali lebih dalam. Dari enam karakter, hanya setengahnya saja yang dikupas latar belakangnya. Masa lalu dari sebagian karakter hanya dimunculkan dalam bentuk flashback dan arsip yang telah disiapkan dalam satu ruangan.

Benar-benar patut disayangkan, mengingat latar belakang tiap karakter yang nggak saling mengenal tersebut bisa dipakai sebagai bahan untuk memperdalam konflik. Profesi mereka pun seperti sudah disiapkan dengan matang agar bisa saling membantu satu sama lain.

Zoey, diceritakan sebagai mahasiswi berotak cerdas; Ben, si penjaga toko; Amanda, yang ternyata mantan tentara; Mike, mantan pekerja tambang; Jason, si manajer yang punya karier cemerlang dengan tubuh atletis; dan Danny, si penggila permainan escape room.

Ruangan oven raksasa/via imdb.com/Sony Pictures Releasing

Namun itu semua ternyata nggak lebih dari sekedar jawaban demi menghindari plot hole. Penonton hanya diarahkan untuk memahami pada apa yang telah terjadi di masa lalu para karakter, sampai akhirnya mereka terjebak dalam permainan maut escape room.

Toh mereka semua terlanjur digambarkan nggak akur satu sama lain sejak permainan dimulai. Alih-alih hasil dari kerja sama, keberhasilan mereka dalam memecahkan teka-teki jadi terkesan sebagai buah keberuntungan belaka. Di setiap teka-teki, karakter yang diandalkan pasti hanya satu orang tertentu saja.

Twist hambar

Layaknya film-film thriller pada umumnya, Escape Room turut menghadirkan beberapa kejutan dalam bentuk twist. Namun ketika dalang dari permainan tersebut dibongkar, hasilnya malah jadi terlalu dipaksakan jika diulik terlalu dalam. Escape Room seolah hanya ingin memberi petunjuk akan adanya sekuel jika film pertamanya ini sukses di pasaran.

via imdb.com/Sony Pictures Releasing

Singkatnya sih, keseruan yang sudah dibangun dari awal malah jadi keteteran menjelang akhir film. Durasinya seperti sengaja diulur-ulur, tanpa terasa efektif.

Kalau boleh saya berkomentar pedas, ketegangan yang dihadirkan sepanjang film pun sebenarnya hanya membuang waktu. Gimana nggak, salah satu poin kejutan justru sudah dibongkar saat film baru menyentuh awal durasi. Kamu bisa langsung mengetahui siapa yang nantinya bakal bertahan tanpa harus capek-capek menonton sampai akhir.

Tapi ibarat sudah dapat kunci jawaban sebelum mengikuti ujian, kamu masih tetap dipaksa untuk mengikuti setiap tahapan yang ada dalam film.

Escape Room akhirnya terlihat nggak lebih dari sekadar film hriller teki teki. Sajian visual dari tiap ruangannya memang bisa menghibur, tapi ia gagal saat menghadirkan efek kejut lewat twist-nya.

Komentar:

Komentar