Stranger Things, Serial Keren yang Sebaiknya Tamat di Musim Ketiganya

Cukup suudaaaah~

Hampir semua generasi penikmat Netflix and chill pasti udah nggak asing lagi dengan Stranger Things. Sejak kehadiran musim pertamanya di tahun 2016, banyak orang yang langsung dibuat jatuh cinta dengan perjalanan empat sekawan dan fenomena-fenomena aneh di kota tempat tinggal mereka. Kesan tahun 80-an yang amat kental di dalamnya juga nggak luput dari pujian. Mulai dari latar belakang, soundtrack, sampai tren berpakaian para karakternya, semuanya serba 80-an. Keren dan totalitas banget!

“Eh prokem! Trimkokat ye! Doi kemoken?”/Netflix

Dan serial andalan Netflix ini pun berhasil ditutup dengan apik di episode terakhir dan ending musim perdananya, yang bagi saya merupakan penutup sempurna dari sebuah serial yang nyaris sempurna.

Oke, ending musim pertama Stranger Things memang masih terasa menggantung. Tapi di genre horor, cliffhanger semacam itu udah jadi hal yang umum buat diterapkan. Dan Stranger Things termasuk serial horor yang cocok buat memakai jenis ending yang menggantung. Jadi dari opini saya, Stranger Things nggak perlu dilanjutkan ke musim kedua.

Tapi ternyata kenyataan berkata sebaliknya. Stranger Things musim kedua — yang menurut sutradara The Duffer Brothers punya jalan cerita yang lebih menegangkan — akhirnya dirilis di Netflix.

Saya sendiri nggak bermaksud bilang Stranger Things musim kedua jelek; secara keseluruhan masih oke. Cuma impresi yang saya dapat setelah selesai menonton semua episodenya terkesan biasa aja. Mungkin karena minimnya kejutan atau plotnya cenderung hambar. Contohnya, saya nggak menemukan kejutan soal lingkup Upside Down atau Demogorgon. Hanya bentuk Demogorgon-nya doang yang sekarang kelihatan lebih besar dan sangar.

Tapi perlu diakui, setting dan kontinuitasnya untuk tetap sejalan dengan tema 80-an masih harus diacungi jempol. Bahkan kalau boleh jujur, episode saat Mike, Will, Lucas, dan Dustin memakai baju Ghostbusters ke sekolah saat Halloween jadi salah satu momen favorit saya di musim kedua ini.

via Netflix

Naaah, beres season kedua, terbitlah season ketiga. Tapi perasaan yang sama kembali bergejolak dalam pikiran saya. “Ini serial harusnya nggak perlu dilanjutkan lagi,” batin saya dalam hati setelah selesai nonton Stranger Things musim ketiga.

Oke, sebelum kamu marah karena mengira saya menghakimi salah satu serial terbaik di abad ini, saya punya beberapa alasan kenapa saya merasa Stranger Things nggak perlu dibuat musim keempatnya.

1. Karakter utama yang mencapai umur puber

Memang nggak ada yang salah dengan pubertas. Tapi di Stranger Things, pubertas bisa jadi hal yang mengganggu karena merenggut kemisteriusan salah satu karakternya. Siapa lagi kalau bukan Eleven, si gadis telekinetik.

Mungkin penulis serial ini menginginkan karakterisasi Eleven untuk berkembang jadi lebih manusia. Tapi di sisi lain, gimmick romansa pubertas antara El dan Mike malah terkesan melemahkan unsur misterius El.

Netflix

Contoh lainnya, hubungan antara Lucas dan Max yang terlalu diekspos berlebihan. Untuk unsur humor? Bolehlah. Tapi, kalau hubungan mereka terlalu sering diekspos, mungkin udah saatnya Stranger Things diubah jadi serial teen flick, bukan serial misteri lagi.

2. Bentuk Demogorgon yang lebih dahsyat

Netflix

Sekuel itu biasanya suka memberikan sesuatu yang lebih “Wah” dibanding karya pendahulunya. Tujuannya? Salah satunya biar penonton nggak merasa bosan melihat sesuatu yang udah pernah mereka lihat di prekuelnya.

Tapi sejak musim keduanya, Stranger Things malah terasa terlalu mengada-ngada. Mungkin udah cukup skala Demogorgon disesuaikan seperti di musim pertama, tersembunyi tapi berbahaya. Saat Demogorgon dan Upside Down diekspos habis-habisan seperti dua musim terakhir, saat itulah semuanya seperti terlalu berlebihan. Sekalipun bentuk Demogorgon di musim ketiga memang terlihat lebih seram, tapi lama-lama itu bisa bikin Stranger Things jadi mudah diprediksi.

“Oke, musim baru, monster baru. So what?”

3. Pola cerita yang sama

Netflix

Pengenalan karakter – monster baru – karakter baru – monster mati – selesai. Itulah yang saya dapat dari pengalaman nonton semua musim Stranger Things sejauh ini. Yup, pola ceritanya selalu kayak gitu. Jika Stranger Things terus mengandalkan formula seperti itu, kayaknya serial ini lebih baik selesai sebagai trilogi. Sepertinya kita nggak akan bisa berharap lagi buat melihat kejutan yang berarti di musim berikutnya, terutama di aspek horornya.

Mungkin penonton setia Stranger Things masih mau menikmati perjalanan kehidupan karakternya yang akan tumbuh dewasa. Mereka bisa saja bertahan untuk terus nonton serial ini sampai musim berapa pun. Tapi sebagai penonton yang menyukai kejutan di aspek misterinya (yang notabene merupakan genre sebenarnya dari serial ini), saya bakal bosan juga kalau terus-terusan disuguhi plot yang sama di setiap musim.

Menurut kamu gimana? Apa kamu mau Stranger Things dilanjut ke musim empat? Kalau saya sih, sudah cukup sampai season 3 aja deh. Karena biasanya, serial yang dipaksa untuk dipanjang-panjangkan, lama-lama bisa jadi kerasa membosankan. Contoh yang paling bagus bisa kamu lihat di sinetron Indonesia.

5 Shares

Komentar:

Komentar