Scary Stories to Tell in the Dark, Film yang Membawa Kembali Mimpi Buruk Masa Kecil

Jadi ingat hantu kakek Portugis di film Bayi Ajaib

Monster dan hantu selalu jadi sumber ketakutan saya waktu masih kecil. Saya nggak pernah berani pergi ke toilet sendirian pas tengah malam. Takut aja pas lagi asyik-asyiknya nongkrong, tiba-tiba ada hantu yang mengetuk pintu toilet. Nggak lucu juga ‘kan kalau saya sampai panik waktu cebok!?

Kenapa saya begitu penakut pas masih kecil dulu? Salah satu alasannya, karena saya suka baca buku Scary Stories to Tell in the Dark.

Scary Stories to Tell in the Dark karya Alvin Schwartz adalah buku yang berisikan kumpulan cerita horor. Sedikit informasi aja nih, Scary Stories sempat dilarang beredar di tahun 2000-an di Amerika Serikat karena cerita-ceritanya dianggap nggak cocok buat anak-anak. Wajar sih, Schwartz memasukan tema satanisme dan kekerasan ke beberapa ceritanya. Jadi beralasan banget kalau para orang tua nggak mau anak mereka yang masih kecil sampai bertanya, “Mama, Papa, boleh nggak aku gabung kelompok pemuja setan? Mereka keren kayaknya.”

Tapi kita kesampingkan dulu cerita dari buku itu. Satu hal yang paling bikin Scary Stories to Tell in the Dark menyeramkan adalah ilustrasinya yang dibuat oleh Stephen Gammel. Sesudah saya lihat ilustrasinya, pikiran saya pasti selalu dipenuhi sama hantu dan monster dari ilustrasi tersebut.

Nih, saya kasih contoh ilustrasi di Scary Stories to Tell in the Dark.

Buat anak kecil sih, ini serem banget/Harper & Row

Berkat ilustrasi dari Gammel pula, Scary Stories terasa jauh lebih mengerikan dibanding salah satu buku horor lain favorit saya waktu kecil, Goosebumps. Scary Stories memberikan apa yang Goosebumps nggak bisa berikan: kengerian yang muncul karena melihat penampakan hantu.

Editor’s Pick

The Jangly Man dan Guillermo del Torro

Begitu saya dengar Guillermo del Torro terlibat dalam produksi film Scary Stories to Tell in the Dark, rasa optimis langsung membubung tinggi dalam hati saya. Buat saya, del Torro yang udah dalam film-film seputar monster dan horor memang cocok banget buat Scary Stories. Monster di film-film del Torro selalu punya ciri khas; menyeramkan tapi masih punya sisi estetis. Kamu bisa lihat buktinya di film semacam The Shape of Water atau Pan’s Labyrinth, film yang berisi monster favorit saya…

Ci luk baaaaa/Warner Bros.

Untungnya, tradisi dari del Torro tersebut masih berlanjut di Scary Stories. Malahan hantu dan monster dalam versi film Scary Stories melampaui ekspektasi saya. Well, mungkin saya agak terlalu melebih-lebihkan peran del Torro. Ada banyak orang yang terlibat dalam membuat film Scary Stories ini nampak begitu menyeramkan, terutama sutradara André Øvredal.

Secara keseluruhan, keseraman hantu-hantunya udah sesuai banget dengan ilustrasi di buku sumbernya. Saya ambil contoh dari The Jangly Man.

Ini ilustrasi di bukunya/via b87fm.com

Sementara di filmnya, The Jangly Man terlihat seperti ini…

Lions Gate

Detail seperti tata warna dan tekstur kulitnya menjadikan The Jangly Man di versi film sama seramnya dengan ilustrasi bukunya. Dan itu juga yang bikin adegan saat The Jangly Man muncul untuk membunuh salah satu karakter utama jadi adegan favorit saya.

Menurut Troy James, aktor yang berperan sebagai The Jangly Man, bentuk fisik hantu tersebut terinspirasi dari ilustrasi yang muncul untuk beberapa cerita di buku Scary Stories to Tell in the Dark. Dan dari referensi tersebut, del Torro berhasil menciptakan karakter The Jangly Man yang lebih seram dan menjijikan di film adaptasinya. Asli bentuk hantunya syeerem, bosku!

Kenapa saya menyebut Scary Stories sebagai film yang membawa kembali mimpi buruk masa kecil

Kekuatan dari buku Scary Stories memang nggak terletak di jalan ceritanya yang tergolong simpel, ringan, dan kadang konyol. Ilustrasinyalah yang bikin Scary Stories jadi buku horor favorit anak-anak. Mungkin karena itu juga versi film dari Scary Stories punya rating PG-13; film ini memang ditujukan untuk bisa ditonton anak-anak dan remaja. Jadi kamu nggak usah terlalu berharap film ini bakal menyajikan adegan sekejam film horor dewasa. Sama seperti bukunya, film ini lebih lebih mengandalkan bentuk dan penampakan menjijikan dari hantu dan monsternya.

Dan, oh ya, film ini juga mengandung jump scare yang lumayan bikin saya kaget dan pengin buang air besar di celana cemas dag dig dug. Tapi selain itu, film Scary Stories to Tell in the Dark kurang punya sesuatu yang spesial, faktor yang membuat film ini bisa disejajarkan dengan horor-horor klasik.

Saya menulis di judul artikel ini kalau Scary Stories to Tell in the Dark sebagai film yang mampu membangkitkan kembali mimpi buruk masa kecil. Dan memang itulah yang saya rasakan ketika nonton film ini. Film Scary Stories mengingatkan saya pada masa-masa ketika saya rajin baca novel-novel horor dulu, seperti Goosebumps dan, well, Scary Stories to Tell in the Dark.

4 Shares

Komentar:

Komentar