Review Yowis Ben 2: Bicara Prinsip Hidup di Ruang yang Beda

Baru tahu kalau Endank Soekamti asalnya dari Tasikmalaya?

:

Alkisah terdapat empat remaja SMA di Malang yang tengah mencari pengakuan di sekolah mereka. Empat remaja itu adalah Bayu (Bayu Skak), Doni (Joshua Suherman), Nando (Brandon Salim), dan Yayan (Tutus Thomson). Sebagai remaja yang masih mencari jati diri, akhirnya mereka menemukan solusinya dengan membentuk grup band yang diberi nama Yowis Ben.

Kisah di atas adalah secuil dari cerita film Yowis Ben (2018) yang berhasil meraih Anugerah Lembaga Sensor Film 2018 di kategori Film Bioskop Klasifikasi Usia 13+. Setahun setelahnya, kisah perjuangan Yowis Ben berlanjut di Yowis Ben 2 yang mulai tayang sejak 14 Maret 2019.

Pindah latar ke Bandung

Hayo, kamu ngefans sama siapa?/Starvision

Yowis Ben 2 dimulai dari masa kelulusan SMA empat karakter utamanya. Namun justru setelah lulus sekolah, mereka terbentur oleh berbagai masalah, yang salah satunya berkaitan dengan uang.

Dengan saran dan bantuan manajer mereka, Cak Jon (Arief Didu), grup Yowis Ben bisa mendapat banyak job manggung. Meskipun, bukan uang yang akhirnya mereka dapat, melainkan kegagalan demi kegagalan. Arah nasib mulai berubah saat mereka bertemu manajer artis profesional, orang yang juga membawa mereka pindah ke Bandung.

Starvision

Perpindahan latar tempat dari Malang ke Bandung bukanlah tanpa alasan yang jelas. Ini bukan semata-mata hanya untuk promosi kota yang belakangan ini rajin dipakai oleh film-film Indonesia. Lebih dari itu, perpindahan setting ke Bandung juga punya pengaruh kuat terhadap cerita filmnya.

Dan jika film pertamanya sukses membawakan naskah berbahasa Jawa, Yowis Ben 2 otomatis dituntut melakukan pendekatan serupa pada bahasa Sunda. Untungnya untuk tantangan bahasa daerah ini, Yowis Ben 2 terhitung berhasil dalam melontarkan humor-humor berbahasa Sunda.

Bagus Bramanti yang masih dipercaya menangani departemen naskah, mampu memanfaatkan setting Kota Bandung ke dalam bentuk humor yang segar dan dekat dengan keseharian. Adegan suster di angkot bisa jadi contohnya. Saya dibikin ngakak sekencang-kencangnya sama adegan itu.


Lebih kuat di sisi dramanya

Titik tawa yang dihadirkan di Yowis Ben 2 sesungguhnya bukanlah pembaruan dari film pertamanya. Banyak dialog yang mengingatkan kita pada film pertamanya. Seperti kehadiran Cak Kartolo dan Cak Wito yang tetap melontarkan humor Jawa, atau mengenai ucapan salam yang dipotong. Bagi yang pernah menonton film pertamanya mungkin akan sedikit bosan dengan lontaran humor tersebut.

Tapi pintarnya Fajar Nugros selaku sutradara, ia banyak melakukan pembaruan di bagian dramanya. Jika di film pertama sentuhan emosional hanya hadir lewat karakter Ibu Bayu (Tri Yudiman), Yowis Ben 2 menghadrikan sentuhan itu lewat ikatan masing-masing karakter utamanya.

Dan puncaknya terjadi ketika grup Yowis Ben bertemu Cak Jon sambil menyanyikan lagu Gak Iso Turu. Perlu kamu tahu, lagu itu adalah salah satu masterpiece bernuansa gembira yang dipunya Yowis Ben. Tapi lagu itu akan berubah menjadi menyedihkan di Yowis Ben 2.

Kehadiran Anggika Borsterli menambah rasa komedi bagi Yowis Ben 2/Starvision

Hal lain yang perlu diapresiasi dari Yowis Ben 2 adalah film ini bukan semata-mata tentang cinta atau cita-cita seperti kebanyakan film remaja Indonesia. Yowis Ben 2 punya pesan menarik mengenai banyak hal, seperti prinsip hidup, keluarga, kebersamaan, keberagamaan, tolong menolong, dan pembelajaran diri.

Secara keseluruhan, konflik yang dihadirkan di Yowis Ben 2 terasa lebih dewasa dibanding film pertamanya. Pun keempat karakter utamanya punya pengembangan karakterisasi yang lebih kuat dengan porsi yang seimbang.

Film produksi Starvision ini juga punya misi membawakan cerita tentang mengenal diri sendiri dan dari mana kita berasal. Dan hal inilah yang dijadikan resolusi bagi Yowis Ben 2. Keempat karakter utama harus bisa mawas diri dan mengukur diri siapa mereka sesungguhnya.

Senada dengan resolusinya, film pun memilih bentuk yang serupa. Yowis Ben 2 sadar betul bahwa kekuatan utama dan jati diri film ini adalah Malang. Dan Bandung hanya berfungsi sebagai tempat pembelajaran. Keberanian Yowis Ben untuk keluar dari zona nyaman demi meraih sesuatu (meski belum pasti) adalah hal yang sangat patut diapresiasi. Ibarat kata merpati terbang tinggi punai di tangan dilepaskan, kita nggak akan pernah tahu merpati itu terbang setinggi apa jika nggak kita gapai.

Pertama kali mereka ke Bandung, ternyata kaget. Kenapa?/Starvision

Dan inilah sesungguhnya wajah Yowis Ben 2. Isinya adalah tentang proses, proses, dan proses. Bukan gagal atau berhasil yang menjadi tujuan, tapi bagaimana perjuangan itu dilukiskan tanpa harus menyakiti orang lain.

Berjuang di zona baru adalah tantangan. Bukan hanya menaklukkan ruang dan musuh dari luar, tapi juga menaklukkan musuh yang ada di dalam diri alias ego.

Jika Yowis Ben 2 nggak pindah latar, maka ruang ego itu nggak akan pernah benar-benar muncul dan terasa. Memilih Bandung sebagai lokasi setting adalah sebuah kejeniusan, meskipun sepatutnya sang Gubernur nggak usah ikut mengisi layar film ini.

 

Komentar:

Komentar