Review The Returning: Horor yang Gagal, Drama Keluarga yang Mubazir

Jadi, Collin itu hantu apa manusia ya?

Apa yang akan kamu rasakan ketika kamu kehilangan kabar dari orang yang kamu sayang?

Siapa pun yang mengalami hal semacam itu tentunya akan cemas tak berkesudahan. Begitu pun dengan Natalie (Laura Basuki) yang dirundung kebimbangan karena hilangnya sang suami, Collin (Ario Bayu), saat Collin tengah memanjat tebing bersama teman-temannya. Sampai tiga bulan setelah kejadian nahas tersebut, Natalie masih saja tak bisa menerima kalau suaminya telah tiada.

Lalu apa yang bisa dilakukan Natalie di saat mertua dan kedua anaknya sudah ikhlas menerima kepergian Collin? Jawabannya tentu ada di film debut dari sutradara Witra Asliga, The Returning.

Salah nggak jika saya masih berharap Collin kembali?/ via youtube.com

Drama keluarga lebih dominan

Jika kamu menonton The Returning dan berharap mendapatkan kengerian dan teror, bersiaplah untuk kecewa. Karena sebagai sajian horor, The Returning lebih banyak menyoroti konflik suami-istri dan keluarga dibanding membangkitkan teror.

Sebetulnya tak ada yang salah dengan cerita keluarga yang ditawarkan. Coba saja kita tengok Kafir: Bersekutu dengan Setan yang polanya serupa. Kafir memulai film dengan kehangatan hubungan keluarga yang rusak ketika karakter ayah tiba-tiba meninggal. Selanjutnya teror demi teror dihadirkan hingga akhirnya kita disuguhi twist yang mengungkap penyebab kejadian sebenarnya.

The Returning pun sama. Namun poin pembedanya, kengerian yang dibangkitkan hanya terjadi sesekali saja selama masa pembangunan konflik. Bagi saya, horor tipe seperti ini adalah horor yang mengkhianati tujuan awalnya, sebagaimana yang pernah dilakukan Kakak, film rilisan tahun 2015 yang (mengaku) bergenre horor.

Cari kerja yang rajin ya pah!/ via youtube.com

Penyuntingan yang tak mulus

Sebagai karya yang dibuat oleh seorang kritikus, The Returning terlihat terlalu berhati-hati dalam bercerita. Sejak awal film ini dibuka, adegan demi adegan dirajut hanya sebatas tanggungjawab bahwa adegan itu sayang untuk dibuang, tak lebih dari misi untuk menyampaikan informasi saja.

Ibaratnya, saya merasa disuguhkan gambar tanpa ikatan penceritaan yang benar-benar mengikat. Bahkan untuk adegan klimaks di akhir film, saya tak betul-betul diberikan jeda untuk memahami apa yang terjadi. Semua berlangsung cepat dan begitu saja.

Adegan nyala-mati lampu antara Dom & Meggie ini yang terbaik sih. Meski jatuhnya ngagetin, tapi timingnya pas/ via youtube.com

Pengungkapan misteri yang…

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah itu dipenuhi kelelawar/via Kaninga Pictures

Selayaknya Jaga Pocong, pengungkapan misteri apa yang sebenarnya terjadi dalam The Returning dibuat sangat mudah: melalui adegan pintu yang terbuka dengan sendirinya, lalu sang tokoh utama masuk dan mengetahui semuanya. Cara pengungkapannya bahkan lebih simpel dari apa yang dilakukan Sakti dan Gotix di Arwah Tumbal Nyai.

Bedanya dengan Jaga Pocong, pintu yang menjadi kunci di dalam The Returning tak terinfokan dengan baik sebelumnya. The Returning seperti asyik sendiri dalam mengungkap misteri yang dikandungnya, tanpa memberikan jeda bagi penonton untuk memahami betul apa yang disajikan dalam layar.

Pada akhirnya, sebagai drama keluarga The Returning menyisakan banyak hal yang tak selesai, sebagai horor pun tak mumpuni dalam menakut-nakuti.

Rasanya ingin sekali saya kasih spoiler. Tapi ya sudahlah, silakan nikmati saja adegan klimaks super kilat dari The Returning.

- Advertisement -
Shares 13

Komentar:

Komentar