Review The Darkest Minds (2018), Usaha Sia-Sia untuk Menghidupkan Sebuah Franchise

Distopia? Pengelompokan golongan? Konsep 'the chosen one'? Here comes the cliche!

:

The Darkest Minds menambah panjang daftar film distopia yang diangkat dari novel. Jujur saja, saya nggak begitu antusias menunggu film ini. Keadaannya mungkin berbeda kalau film ini dirilis 10 tahun yang lalu, saat film distopia lagi ramai-ramainya.

Dan sekarang, The Darkest Minds hadir dengan menghadirkan premis manusia berkekuatan super. Bisakah film ini menunjukkan kekuatannya untuk bisa tampil beda di antara film sejenis yang punya pola cerita serupa? Saya masih punya harapan. Ketika saya menonton film ini pun saya mengenyahkan segala asumsi yang sebelumnya hinggap dalam pikiran. Hasilnya?

Sinopsis

The Darkest Minds mengisahkan tentang sekelompok remaja berkekuatan super yang diburu pemerintah. Ya, alih-alih bernasib seperti P-Man yang selalu dapat dukungan penuh untuk memberantas kejahatan, para remaja yang terdiri dari Ruby, Chubs, Zu, dan Liam ini malah dianggap sebagai ancaman.

Ruby (Amandla Stenberg) yang berhasil kabur dari kamp tahanan kemudian bertemu dengan Liam (Harris Dickinson), Charles “Chubs” (Skylan Brooks), dan Suzume “Zu” (Miya Cech) di tengah pelariannya. Keempatnya kemudian berencana untuk pergi ke suatu tempat di mana orang-orang yang bernasib sama seperti mereka bisa bertahan hidup.

Empat orang berkekuatan super lagi sesi pemotretan cover album?/via hdqwalls.com

Konsep the chosen one, lagi

Entah apa yang ada di dalam pikiran produser saat akan mengadaptasi novel The Darkest Minds (TDM) ke dalam film. Konsep cerita yang ditawarkan sebenarnya memiliki premis yang setipe dengan beberapa film sejenis yang juga diangkat dari novel. Konsep tersebut sudah pernah hadir dalam beberapa seri film berlatar dunia distopia seperti The Hunger Games dan The Maze Runner. Bahkan jika melihat hasil akhir dari TDM, film ini mengingatkan saya pada Divergent.

Gimana nggak. Layaknya Divergent, The Darkest Minds juga punya konsep pengkotakan manusia berdasarkan status. Jika Divergent membagi penduduknya berdasarkan faksi, TDM membagi anak-anak berkekuatan super lewat tingkatan penggolongan warna. Dimulai dari warna Hijau di urutan paling bawah yang dianggap tidak begitu berbahaya, naik ke warna Biru yang dianggap sedikit berbahaya, naik lagi ke warna Emas yang dianggap cukup berbahaya, lalu ke tingkat warna Merah yang dianggap sangat berbahaya, dan puncaknya berakhir di warna Oranye yang dianggap paling berbahaya.

Bisa tebak Ruby si karakter ada di warna apa? Yup, Oranye! Dengan menempatkan sang tokoh utama sebagai ‘the chosen one’ saja kelihatan pola klisenya. Saya bahkan nyengir sendiri ketika ada dialog diantara Ruby dan Liam yang menganalogikan kalau Ruby sama seperti Harry Potter, karena mereka sama-sama sosok ‘yang terpilih’.


via conversationsabouther.net

Kalau mau diperbandingkan lebih jauh lagi, konsep di film ini mirip kayak Katniss dalam The Hunger Games, Tris dalam Divergent, dan Thomas dalam The Maze Runner yang juga memegang peranan ‘penting’ sebagai tokoh utama di dalam ceritanya masing-masing.

Bosan dengan konsep macam ini? Saya juga.

via imdb.com

Alur lambat yang membosankan

Setelah dibuka dengan prolog yang cukup menjanjikan, saya coba diam sebentar untuk mencoba mengikuti jalan cerita yang disajikan dalam film ini. Tapi rasa puas saya ternyata hanya sebatas di awal saja. Selanjutnya film berjalan dengan lambat dan bertele-tele. Premis cerita yang sederhana dan ringan malah dieksekusi dengan berbelit.

Misalnya saat Ruby kembali lagi ke rumah untuk bertemu dengan orangtuanya, padahal dia sadar kehadirannya nggak berguna; sosok Lady Jane (Gwendoline Christie) yang awalnya tangguh mengejar tanpa ampun tapi berhasil dikalahkan dengan singkat tanpa perlawanan sengit seperti di awal; romansa Ruby dengan Liam sebagai bumbu kisah cinta yang nggak penting dan terlalu maksa dimunculkan; hingga proses penyergapan di akhir cerita yang terlalu mudah.

Lah kan para abege ini punya kekuatan super? Kenapa mereka nggak bersatu memberi perlawanan dibanding langsung lari tunggang langgang menyelamatkan diri?

via blackgirlnerds.com

Analogi yang stereotip

Isu kesetaraan jadi satu sorotan yang sering diulas belakangan ini dalam dunia perfilman Hollywood. TDM pun ikut memasukkan unsur kesetaraan ini tanpa terkecuali. Namun sayangnya TDM juga mengangkat beberapa hal yang dianalogikan dalam penggambaran karakterisasi tokohnya.

Sosok Ruby sebagai tokoh utama seolah menjadi simbol kesetaraan gender dan ras. Selain itu, Ruby digambarkan menjadi sosok yang punya kekuatan paling besar dibanding pria. Karakter Liam sendiri digambarkan cukup kuat sebagai seorang pria, tapi dia berkulit putih dan punya tampilan fisik lumayan ganteng layaknya standar sosok pria tampan yang sering digambarkan dalam film. Chubs digambarkan sebagai sosok pintar yang membantu cukup banyak di antara teman-temannya, layaknya karakter pria kulit hitam yang sering digambarkan demikian. Sementara Zu adalah sosok gadis Asia yang bahkan nggak punya dialog sama sekali, tapi kekuatannya bisa membantu menolong mereka saat keadaan genting.

via myvue.com

Konsep multiras tersebut masih ditambah lagi dengan tema ‘it’s okay to be different’, yang seolah jadi simbol kesetaraan bagi kelompok LGBTQ karena sering dianggap berbeda di dalam masyarakat. Dengan kata lain, The Darkest Minds secara nggak langsung ingin mencoba mengangkat hal-hal minor tersebut di balik tema ceritanya. Satu hal positif yang malah berakhir jadi bumerang karena akhirnya terasa bagaikan stereotip.

Sebagai informasi, The Darkest Minds terdiri dari lima seri novel: The Darkest Minds, Never Fade, In The Afterlight, Through The Dark, dan The Darkest Legacy. Dengan segala pertanyaan menggantung di dalam film pertamanya, entah apa ini dimaksudkan sebagai umpan agar penonton tertarik pada film selanjutnya. Tapi dengan hasil akhir yang diberikan oleh The Darkest Minds, saya sih keburu malas nunggu kelanjutannya.

Mungkin The Darkest Minds lebih baik dibiarkan menggantung dan membiarkan penikmat film yang belum pernah baca novelnya menerka sendiri akhir kisah dari Ruby dan kawan-kawannya. Sama seperti nasib The 5th Wave.

Komentar:

Komentar