Review Tabu Mengusik Gerbang Iblis: Horor Klise yang Nggak Dibuat Asal

Dalam sebuah kelompok masyarakat sosial budaya seringkali ditemui larangan menyebutkan kata, memakai benda, atau melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat fatal jika dilanggar. Masyarakat lokal menyebutnya dengan istilah tabu. Dalam masyarakat Sunda sendiri seringkali dikenal dengan istilah pamali. Misalnya, “ulah cicing hareupeun panto (jangan diam di depan pintu)” karena dikhawatirkan ada makhluk halus yang lewat.

Lalu apa akibatnya jika ada yang melanggar pantangan tersebut? Rumah produksi Starvision mencoba memotret fenomena ini dalam film horor terbarunya, Tabu Mengusik Gerbang Iblis.

Ceritanya sih masih klise

Kadang saya bingung sama anak zaman sekarang. Hobi kok nyari hantu/via Starvision

Cerita bermula dari Diaz (Angga Yunanda) yang memiliki hobi mencari hantu memakai kamera smartphone-nya. Namun apa yang ia dapat dari hasil petualangannya tak dipercaya oleh teman-teman sekolahnya. Maka dari itu Diaz pun mengajak mereka untuk bersama-sama membuktikannya ke Leuweung Hejo, hutan yang dikenal angker. Alhasil berangkatlah Diaz ditemani Keyla (Isel Fricella), Tio (Rayn Wijaya), Mahir (Bastian Steel), Muti (Agatha Chelsea), dan Adis (Elina).

Bisa dipastikan cerita yang berawal dari sekelompok remaja yang mencari hantu adalah formula yang usang di genre horor. Sudah bisa tertebak jalan ceritanya akan dibawa ke mana? Pasti kamu akan berpikir mereka akan diteror di hutan, lalu ada yang mati tapi tokoh utamanya bakal tetap hidup. Dan selama teror mereka akan lari ketakutan nggak tentu arah, mereka akan jerit-jerit histeris, dan bla bla bla bla…

Tebakan kamu nggak sepenuhnya salah, karena memang Tabu Mengusik Gerbang Iblis menyajikan cerita klise seperti yang kamu bayangkan. Tapi tunggu dulu sampai benar-benar kamu tahu bagaimana Angling Sagaran (Total Chaos, From London to Bali) mengarahkan jalan cerita film ini.

Akting aktor muda yang punya potensi

Mereka lihat apa sih sampai bengong gitu/via Starvision

Beberapa kali saya menonton film horor yang diperankan oleh aktor-aktor muda, beberapa kali pula saya kecewa. Kebanyakan dari mereka hanya dimanfaatkan karena memiliki fans dan follower yang banyak.

Sajen (2018) misalnya, film horor yang juga diproduksi Starvision itu menggandeng duet maut aktor muda Angga Yunanda dan Amanda Manopo yang sebelumnya melejit lewat sinetron Mermaid in Love. Hasilnya Sajen mampu melaju ke angka lebih dari 600 ribu penonton, padahal promonya terhitung sunyi senyap.

Sebetulnya penggunaan formula seperti itu nggak salah, karena bagaimana pun juga film adalah produk industri. Tapi yaah, seyogyanya para pembuat juga melakukan tanggungjawabnya dengan menghadirkan para pemain dengan akting yang mumpuni. Saya sendiri nggak masang ekspektasi besar untuk para aktor muda ini. Asalkan akting mereka nggak bikin kacau cerita, itu sudah cukup bagus buat saya.

Segudang kekecewaan terhadap aktor muda ternyata tak saya temui di Tabu Mengusik Gerbang Iblis. Masih mengandalkan pesona Angga Yunanda, Tabu punya aktor muda yang bisa dibilang pas dalam memerankan karakternya. Meski karakterisasi masing-masing tokohnya nggak spesial amat, tapi untungnya nggak ada penampilan mereka yang masuk tahap menjengkelkan.

Awas jangan tatap matanya/via Starvision

Angga Yunanda yang diberi tantangan lebih dari karakter lainnya, cukup meyakinkan dalam berperan sebagai Diaz. Karakternya yang mengharuskan ia kesurupan makhluk halus dilakoni dengan cukup baik. Aktingnya jelas mengalami peningkatan dari film Sajen.

Apa cuma Angga Yunanda yang berakting bagus? Nggak, aktor lainnya pun mampu memberikan impresi yang baik dalam hal ekspresi mimik muka dan gestur badan. Tabu nggak banyak memaksa para karakternya untuk teriak berlebihan.

Kehadiran aktor-aktor muda di Tabu Mengusik Gerbang Iblis bagaikan harapan baru untuk melengkapi regenerasi aktor. Jadinya kita pun nggak akan dibaut bosan, masa peran pelajar SMA isinya Jefri Nichol, Amanda Rawles, dan Caitlin Halderman terus.

Visualisasi yang cantik

Hal yang saya puji dari Tabu Mengusik Gerbang Iblis adalah visualnya yang cantik. Bukan sekadar gerak kamera yang dinamis, tapi penataan kamera ala Enggar Budiono mampu menangkap hal-hal detail guna menambah keseraman film. Seperti ketika kamera menyoroti ular, burung hantu, dan beberapa binatang yang ada di hutan. Mereka memang nggak banyak disorot, tapi penting banget untuk menggambarkan suasana yang terjadi.

Nggak hanya itu, Tabu Mengusik Gerbang Iblis juga punya hantu yang banyak dan menyeramkan. Dan bagusnya kemunculan hantu di Tabu nggak diiringi dengan skoring berlebih yang biasa ada di film horor kebanyakan.

Suka banget dengan artistik rumahnya/Via Starvision

Selain karena visualisasinya, keseraman hadir juga karena dukungan naskah mumpuni ala Haqi Achmad yang juga menulis Sajen. Saya ceritakan sedikit, tapi saya pastikan ini nggak akan mengganggu kamu yang belum menontonnya.

Di Tabu Mengusik Gerbang Iblis ada satu tokoh yang punya memori khusus dengan Leuweung Hejo. Dan identitas tokoh ini bisa saja dikuak di akhir dan dijadikan twist sebagaimana pernah Starvision lakukan dalam Kafir: Bersekutu dengan Setan.

Tapi Tabu tidak demikian. Misteri yang ada di Leuweung Hejo justru dibuka dengan perlahan. Dan ini yang membuat Tabu menjadi asyik untuk diikuti. Penonton nggak perlu harus dibuat bengong karena adanya twist yang nggak ketebak di bagian penutup.

Pembangunan alur seperti di film Tabu ini lebih saya sukai dibanding film yang mengandalkan twist yang nggak relevan dengan cerita.

Memberikan makna spiritual

Kamu juga bakal dapat bonus dari Bastian. Ia bakal shirtless di air terjun/via Starvision

Dalam hal pengusiran hantunya, Tabu Mengusik Gerbang Iblis menggunakan formula khas horor klasik zaman dulu. Apalagi kalau bukan dengan menghadirkan tokoh yang biasa disebut ustaz, lengkap dengan nilai spiritualnya. Ustaz ini akan bertarung melawan iblis yang mencoba keluar dari Leuweung Hejo. Tentu kamu sudah bisa nebak siapa yang akan memenangkan pertarungan ini bukan?

Tapi masalahnya bukan pada siapa yang menang atau kalah. Yang patut dipuji dari karakter Ustaz di Tabu Mengusik Gerbang Iblis adalah karakterisasinya yang kuat. Ia diberikan latar belakang yang cukup dan berhubungan dengan segala yang terjadi dalam cerita film ini. Apa yang ia lakukan selalu mengandung motivasi yang jelas. Terlebih kepiawaian departemen casting yang memilih Alfie Alfandy (Hijrah Cinta, Ruqyah: The Exorcism) sebagai Ustaz yang memang fasih membaca Al-Quran.

Secara keseluruhan Tabu memang bukanlah film horor yang istimewa, dalam artian film yang bikin kita terngiang-ngiang selepas menontonnya. Tapi sebagai sebuah sajian horor yang menyenangkan dan nggak mengganggu akal sehat, Tabu Mengusik Gerbang Iblis jelas melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Raja Lubis: Observer Head of Television & Serial Film in Forum Film Bandung (FFB), Indonesian film observer, and blogger.
Related Post
Leave a Comment