Review Suzzanna Bernapas Dalam Kubur: Nostalgia Horor Romantis yang Menyenangkan

Penghormatan besar untuk sang legenda

:

Bicara film horor Indonesia tak akan lepas dari film-film yang dibintangi Suzzanna. Puluhan film seperti Ratu Ilmu Hitam (1981), Telaga Angker (1984), Ratu Sakti Calon Arang (1985), hingga Malam Satu Suro (1988) telah ia bintangi. Sosoknya yang khas dengan tawa yang nyaring, dipadu dengan tata rias yang pas, membuat Suzzanna menjadi legenda bagi perfilman horor nasional.

Sayangnya, Indonesia kehilangan sang legenda tatkala Suzzanna menghembuskan napas terakhirnya pada 2008 silam. Memori-memori tentangnya hanya hadir lewat film-filmnya yang biasa diputar ulang di stasiun televisi.

Beruntunglah kita karena rumah produksi Soraya Intercine Films kembali menghidupkan sosok Suzzanna lewat Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur, film yang mulai bergentayangan di bioskop sejak 15 November 2018.

via Soraya Intercine Films

Nostalgia yang menyenangkan

Di awal-awal proses produksi, Soraya menegaskan kalau Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur bukanlah remake atau reboot dari salah satu film Suzzanna. Bernapas Dalam Kubur menghadirkan cerita baru tanpa menghilangkan suasana yang hadir dalam momen-momen ikonik di film Suzzanna.

Sunil Soraya, Ferry Lesmana, dan Bene Dion Rajagukguk yang menggawangi departemen cerita dan skenario, memang memasukkan unsur-unsur klasik yang membuat penonton bernostalgia. Beberapa di antaranya adalah adegan nonton layar tancap, set pabrik tua, daster putih yang berdarah di bagian belakang, hingga kehadiran para asisten rumah tangga yang konyol dan lucu.

Sayang, adegan sate 200 tusuk tidak ada di film ini/via youtube.com

Mempertahankan suasana komedi

Masih ingat dengan Bokir dan Dorman Borisman yang ada film-film Suzzanna zaman dulu? Ya, kehadiran Bokir dan Dorman membuat film Suzzanna menjadi segar dan menghibur tanpa saling tumpang tindih dengan elemen horornya. Sama dengan film lawasnya, Rocky Soraya dan Anggy Umbara yang duduk di kursi sutradara pun masih mempertahankan suasana komedi lewat karakter yang unik.

Di film ini, bagian tersebut dipercayakan pada Mia (Asri Welas), Tohir (Ence Bagus), dan Pak Rojali (Opie Kumis). Hasilnya, mereka berhasil mempersembahkan adegan lucu yang membuat tawa seisi ruang bioskop yang saya masuki. Bahkan di adegan ikonik menerawang hantu menggunakan kain  kafan, mereka berhasil mengolah bagian tersebut sebagai adegan yang lucu sekaligus menyeramkan di saat yang bersamaan.


Desain produksi yang serius

Ayunan menjadi kunci penting di akhir film/via youtube.com

Soraya Intercine Films memang nggak pernah main-main dalam mengeluarkan dana untuk produksi filmnya. Lihat saja film-film seperti 5 CM (2012), Supernova (2014), dan Single (2015); tiga film yang menyajikan visual megah dan sedap dipandang mata karena dikerjakan dengan serius.

Melihat hal tersebut, saya memiliki harapan yang tinggi pada Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur, terlebih disebut-sebut biaya yang dikeluarkan setara dengan film termahal Soraya, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck (2013).

Jadi bagaimana hasilnya?

Yang paling menonjol adalah penataan artistik film yang mendukung sekali suasana tahun 80-an. Adanya mobil dan lukisan antik, serta pernak-pernik rumah menghadirkan kesan nuansa klasik yang kental. Selain artistik, Bernapas Dalam Kubur pun unggul dari segi penataan kamera. Banyak teknik yang dimainkan oleh Ipung Rachmat Saipul mampu menciptakan pengalaman sinematik yang berbeda sekaligus memuaskan.

Nggak kalah mengejutkan adalah penataan musik yang dikerjakan dengan tepat. Bernapas Dalam Kubur tahu betul kapan suatu musik harus muncul mengiringi adegan dan kapan ia harus diam. Semua ditata apik oleh Andhika Triyadi yang sebelumnya menonjol di film-film remaja seperti Perahu Kertas, Ada Cinta di SMA, dan Marmut Merah Jambu.

Kapan lagi melihat setan ketakutan sambil pake mukena/via youtube.com

Luna Maya = Suzzanna Wanna Be

Jika kamu berharap Luna Maya tampil sama persis dengan Suzzanna, kamu mengharapkan sesuatu yang nggak mungkin terjadi. Karena bagaimanapun, mereka adalah dua orang yang berbeda, meskipun produser tetap harus melakukan usaha agar Luna Maya menyerupai sosok aslinya sedekat mungkin.

Tentang hal tersebut, Soraya sampai membuat topeng prostetik yang menyerupai Suzzanna lho.

Usaha itu pun tak sia-sia. Luna Maya terbukti mampu menjadikan Suzzanna seperti hidup kembali. Saya kira Luna Maya mempersembahkan akting horor terbaiknya di film ini.

Berduet dengan Herjunot Ali yang berperan sebagai Satria (suaminya), Luna Maya pun berhasil menciptakan ikatan yang pas sebagai seorang istri. Bisa dikatakan penampilan duet Junot dan Luna adalah salah satu penampilan romantis terbaik di sinema horor Indonesia.

Mau kemana kalian?/ via youtube.com

Cerita klise tapi penceritaannya mengikat

Bernapas Dalam Kubur patuh pada alur film-film Suzzanna sebelumnya: Suzzanna mati terbunuh, menjadi hantu, lalu diakhiri dengan balas dendam pada orang yang menjahatinya. Sesederhana itu. Tapi di balik kesederhanaan alurnya, banyak elemen kejutan yang dihadirkan dalam film ini, termasuk bagaimana proses tewasnya para penjahat yang membunuh Suzzanna.

Sebagai pecinta film horor/thriller, Bernapas Dalam Kubur tampil memuaskan dalam hal memenuhi dahaga saya yang “haus akan darah”. Momen tewasnya Dudun (Alex Abbad), salah seorang pembunuh Suzzanna, bisa dikata sebagai adegan pembunuhan yang paling keren yang ditawarkan dalam film ini.

Selain memang adegan-adegannya menakjubkan, motivasi setiap adegan yang dihadirkan sangat kuat. Dalam penceritannya, Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur nggak pernah keluar dari batasan yang ia buat sendiri; konsisten dan mengikat.

Semua hal positif di atas masih dibantu pula oleh penampilan para aktor yang gemilang. Apresiasi tinggi perlu disematkan pada Teuku Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Kiki Narendra, dan Norman Akyuwen.

“Berarti kita pembantunya setan”/via youtube.com

Pada akhirnya, selain memberikan rasa nostalgia akan film lawasnya, Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur juga sangat bergairah dalam membangun cerita. Yang seperti ini lah, yang layak disebut penghormatan bagi sang legenda.

Komentar:

Komentar