Review Suporter Masuk Pesantren: Bukti kalau Bikin Film Nggak Cukup Dibuat dengan Niat Baik, tapi Juga Pengetahuan

Yang penting ayam goreng, isi lambung kiri isi juga lambung kanan

Semenjak film Uang Panai (2016) menembus box office dengan mengumpulkan 500 ribu penonton, geliat sineas lokal Makassar makin terlihat di kancah industri film nasional. Terbukti dengan beberapa film yang diproduksi setelah Uang Panai mampu tayang secara nasional di bioskop-bioskop. Beberapa di antaranya bahkan dibintangi oleh artis papan atas seperti film Namamu Kata Pertamaku yang dibintangi Adipati Dolken.

Terbaru di layar lebar ada film lokal Makassar berjudul Suporter Masuk Pesantren. Film ini menggunakan metode serupa Uang Panai, yakni dikerjakan dan dimainkan oleh sineas setempat.

Kenapa harus Makassar?

Rumah Tujuh Langit

Film dibuka dengan tiga keluarga di masing-masing daerah yang memaksa anaknya untuk masuk pesantren. Mereka adalah Yos pemuda asal Papua, Sultan asal Makassar, dan Dul asal Jakarta. Mereka harus hijrah sementara waktu ke sebuah pesantren di Makassar.

Kenapa harus Makassar yang diambil sebagai latar? Itu nggak pernah dijelaskan dengan baik.

Ya, saya tahu film ini dikerjakan oleh sineas Makassar. Tapi dalam cerita film, penulis skenario tetap harus memberi alasan kenapa para tokoh harus mondok (baca: menimba ilmu) di Makassar. Barangkali hanya Sultan yang diberikan cukup motivasi. Sementara karakter lainnya hanya mendapat paksaan orangtua mereka, sama halnya seperti film ini yang memaksa saya untuk menerima kepergian mereka ke Makassar tanpa alasan jelas.

Setiba di sana, mereka menjalin persahabatan dengan Aso, pemuda lokal yang gemar menonton sepak bola. Kegemaran Aso terhenti tatkala ia masuk pesantren. Dengan aturan yang ketat, tentu Aso nggak bisa lagi sesuka hati menonton klub kesayangannya bermain di stadion.

Lalu apa hubungan Aso dengan ketiga sahabatnya itu? Apakah mereka juga sama-sama suporter sepakbola yang senasib dengan Aso? Jawabannya: tidak! Sedari awal karaterisasi para tokoh utama nggak dijelaskan. Hanya Dul yang diperlihatkan sebagai suporter sepakbola.

Entah mau menceritakan apa film ini

Rumah Tujuh Langit

Narasi awal film ini cukup menjanjikan sesuatu yang bernas, yakni bentrokan antara hobi dengan aturan pesantren. Meski narasi seperti ini bisa dibilang usang di film-film yang menggunakan latar pesantren, selalu ada hal-hal menarik yang bisa disimak dari kehidupan para santri di pesantren.

Suporter Masuk Pesantren bisa saja mengembangkan narasi tersebut, lalu memadukannya dengan kearifan lokal sebagaimana yang sering dilakukan film-film asal Makassar. Tapi Quraisy Mathar yang bertindak selaku sutradara sekaligus penulis naskah enggan melakukannya. Alih-alih fokus pada visi awal narasi, Quraisy banyak membelokkan kisah dengan segudang cerita yang nggak pernah mencapai tujuan awalnya.

Quraisy membuat cerita masing-masing karakter dengan cerita yang sama sekali nggak berhubungan dengan suporter. Karakter Yos misalnya, hanya digambarkan sebagai pemuda yang jatuh hati pada santri perempuan. Tapi Yos lebih beruntung dibanding Sultan. Karakter Sultan nyaris nggak berguna karena berperan sebagai pengikut saja dalam kisah persahabatan mereka.

Dan yang lebih parah, nggak ada konflik yang terjadi dalam film ini selain Aso dan Dul yang berusaha diam-diam keluar pesantren untuk menonton sepakbola. Itu pun nggak berpengaruh apa-apa terhadap perkembangan ceritanya.

Alhasil durasi film — yang untungnya hanya 84 menit — hanya diisi oleh kesia-siaan belaka. Menonton film ini hanya bikin lelah, apalagi dengan hadirnya tokoh santri lainnya begitu lemah gemulai. Entah apa maksud utama film ini menghadirkan tokoh seperti itu, apakah sebagai pemancing tawa? Ayolah, dude!

Rumah Tujuh Langit

Kalau kita kilas balik ke film Uang Panai yang mendapat nominasi Penulis Skenario Terpuji di Festival Film Bandung, Suporter Masuk Pesantren bisa belajar dari film tersebut. Secara teknis, Uang Panai memang nggak dikerjakan dengan standar industri sebagaimana film kebanyakan. Tapi ia punya visi dan penceritaan yang kuat sehingga mampu memikat hati penontonnya.

Atau Suporter Masuk Pesantren bisa belajar bagaimana meramu konflik pribadi dengan aturan pesantren dari film 3 Doa 3 Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban.

Pada akhirnya Suporter Masuk Pesantren terasa seperti ajang coba-coba sineas lokal. Ia cukup beruntung bisa ditayangkan di bioskop nasional. Niat baiknya saya apresiasi, tapi tanpa pengetahuan semuanya hanya omong kosong.

- Advertisement -
7 Shares

Komentar:

Komentar