Review Slender Man (2018), Terror Membingungkan yang Mengesampingkan Sosok Slender Man Itu Sendiri

Sekelompok cewek kurang kerjaan yang pilih nonton tutorial cara memanggil makhluk misterius dibanding tutorial dandan

Slender Man pernah menjadi satu sosok yang ramai diperbincangkan di internet. Sejak kemunculannya pertama kali di tahun 2009 dalam cerita creepypasta, pihak Sony dan Screen Gems akhirnya merealisasikan kisahnya ke dalam bentuk film dengan judul yang sama: Slender Man. Apakah filmnya bisa menebarkan kisah seram yang sama?

Sosok Slender Man/via bioskoptoday.com

 

Sinopsis

Seorang gadis, Katie (Annalise Basso) dikabarkan menghilang tanpa jejak. Ketiga temannya; Wren (Joey King), Hallie (Julia Goldani Telles), dan Chloe (Jaz Sinclair) akhirnya ikut menyelidiki keberadaan Katie tersebut. Mereka akhirnya menyadari jika hilangnya Katie ada hubungannya dengan satu sosok misterius bernama Slender Man seiring berjalannya waktu. Satu persatu dari mereka akhirnya ikut mengalami teror yang sama dan berusaha lepas dari dekapan makhluk tinggi bertangan panjang yang tidak memiliki muka tersebut.

via slashfilm.com

 

Premis dangkal

Film Slender Man sudah membuat saya skeptis sejak sedari awal. Materi promosi yang dilepas dalam bentuk trailernya saja enggak menggugah rasa penasaran saya untuk menunggu film ini. Prediksi saya akhirnya memang terbukti jika Slender Man berakhir dengan buruk. Oh iya, kalau kamu sudah nonton trailer pertamanya, kamu mungkin bakal kecewa karena ada beberapa adegan yang tidak muncul di dalam filmnya.

Entah dari mana saya harus mengulasnya. Esensi horror maupun thriller yang ingin coba disampaikan dalam filmnya enggak menghasilkan dampak seram yang sangat berarti. Saya bolak balik duduk anteng dan terus menguap sambil berharap film segera berakhir, atau seenggaknya ada titik balik yang membuat saya jadi menyanjung film ini.

Nyatanya, hingga film berakhir memang enggak ada hal menarik yang bisa saya ingat tentang film ini. Seandainya saya bisa memutar kembali 1,5 jam waktu yang udah terbuang dengan percuma.

Premis ceritanya sudah terlanjur dangkal dari awal yakni menceritakan satu kelompok remaja wanita yang iseng mencoba memanggil Slender Man. Gimana cara mereka bisa manggil? Via internet! Ya, mereka bisa dengan mudah mendapatkan video tutorial cara memanggil Slender Man melalui sebuah laman portal. Kenapa enggak sekalian aja videonya diunggah ke YouTube biar semua orang yang punya rasa iseng sama bisa ikutan diteror?

Video ‘ritualnya’ sendiri enggak memberikan efek seram sama sekali bagi penonton. Konsep videonya bahkan bikin saya keingetan sama video dalam film The Ring karena sama-sama hanya menampilkan potongan video abstrak yang disatukan ke dalam satu video utuh tanpa makna jelas, lengkap dengan tone warna monokromatik.

via altpress.com

 

Fokus teror yang mengesampingkan sosok Slender Man

Sepanjang film, cerita akhirnya malah berfokus kepada empat orang remaja tersebut dan dengan mudahnya mengesampingkan sosok Slender Man yang notabene adalah ‘bintang utamanya’ disini. Saya heran enggak ada sedikitpun ulasan yang mengarah tentang asal mula Slender Man, atau indikasi yang menyebutkan kenapa Slender Man digambarkan sering menculik orang.

Ngomong-ngomong, Slender Man di dalam film diceritakan senang menculik anak-anak loh. Melihat para karakter yang digambarkan berusia remaja, kok bisa mereka ikutan diculik? Jadi, plot hole, ‘kan?

Sisi thriller dari sosok Slender Man emang hanya jadi semacam entitas enggak jelas yang kerjanya hanya meneror dan menculik mangsa incarannya. Entah apa maksud dari suara lonceng dan gemerisik dahan kayu yang seolah hanya sekedar menjadi penanda kedatangan sang Slender Man saat mendatangi korbannya.

via bioskoptoday.com

Ya, dari semua hal, yang bisa saya ingat hanyalah efek suara lonceng dan dahan kayu tersebut yang akhirnya menjadi sebuah ‘anthem’ tersendiri dalam film Slender Man.

Tapi kalau melihat dari segi kualitas, film horror setara The Conjuring dan Annabelle malah keliatan tampil lebih bagus kalau mau dibandingkan dengan film Slender Man ini.

- Advertisement -
Shares 121

Komentar:

Komentar