Review Sesuai Aplikasi: Cerita Menarik dari Ojek Online yang Diramu Kurang Rapi

Kutahan kutahan semalam, kirain apa, ternyata rindu.

“Sore. Jemput sesuai aplikasi, Pak?”

Sering mendapat pertanyaan seperti itu ketika kamu memesan ojek online? Ya, meski terkadang lokasi penjemputan yang kita tentukan di aplikasi sudah sesuai dan jelas, driver kerap bertanya lagi. Sekadar untuk memastikan kalau lokasi memang benar-benar sesuai aplikasi konsumen.

Keseharian ojek online yang sering bertanya hal tersebut, kemudian diangkat ke layar lebar lewat film Sesuai Aplikasi, sebuah karya komedi karya Adink Liwutang.

via TBS Films

Punya motivasi yang jelas

Ide cerita yang sederhana tersebut lantas dipercayakan pada Agasyah Karim & Khalid Kasogi yang memang sering berduet dalam menulis skenario. Gara-Gara Bola (2008), Badoet (2015), dan Kesempatan Kedu(d)a (2018) contohnya.

Sama seperti filmfilm sebelumnya, Sesuai Aplikasi pun hadir cukup rapi jika ditinjau dari struktur penulisannya. Dua karakter utama, Pras (Valentino Peter) dan Duras (Lolox) diberikan karakterisasi yang cukup sebagai driver ojek online lengkap dengan latar belakang karakternya masing-masing. Segala hal yang dilakukan oleh para karakter utama selalu mengandung alasan serta motivasi yang jelas, dan ini patut diacungi jempol.

Para pemeran pendukung pun diciptakan untuk kemudian dikaitkan dengan tokoh utama dan konfliknya. Hingga akhir film, ceritanya nggak keluar dari jalur yang sudah diciptakan. Ia mampu berjalan pada semestanya sendiri dan… sesuai aplikasi.

Serupa Richard Kyle di Insya Allah Sah, Valentino Peter lebih bagus tanpa dialog/via TBS Films

Akting yang pas-pasan

Cerita yang cukup rapi, karakterisasi yang pas, serta konflik yang sudah terjalin dengan baik dalam lembaran kertas yang disebut skenario tetap nggak akan membuahkan hasil maksimal jika aktor yang dipilih kurang tepat. Bagaimanapun juga, skenario adalah benda mati yang harus dihidupkan oleh aktor yang pas.

Sayangnya Sesuai Aplikasi ternyata nggak memiliki itu. Sebagian besar pemeran, termasuk dua pemeran utama, kurang mampu memberikan suguhan meyakinkan dalam berperan.

Pras misalnya, ketika mengucapkan dialog selalu mengucapkannya dalam intonasi dan ekspresi yang sama, meskipun situasi menuntutnya berbeda. Inilah yang menjadi penyebab utama Sesuai Aplikasi berjalan dengan hambar dan minim rasa.

Kelemahan Pras nggak didukung pula oleh para pemeran pembantu yang sebagian besarnya komika. Sama seperti di mayoritas film komedi lain, komika hanya dijadikan sebagai pemancing tawa. Kadang, saking seringnya komika itu tampil, membuat kehadiran mereka di film justru tak lucu lagi.

Meski terasa aneh, kehadiran Sofaya sebagai impersonate Syahrini cukup bikin aspek komedi film ini jadi lebih menghibur/via TBS Films

Namun, Sesuai Aplikasi masih beruntung memiliki Dayu Wijanto yang berperan sebagai Cik Asiu. Ia berperan sebagai rentenir yang galak namun ditantang harus bisa memberi kelucuan. Ternyata, menjelang akhir film, akan ada saatnya Cik Asiu mempersembahkan kelucuan dan keharuan secara bersamaan. Dan ia berhasil dengan sempurna memainkannya. Adegan Cik Asiu tersebut bisa dibilang salah satu momen terbaik yang dimiliki Sesuai Aplikasi.

Selain Cik Asiu, kehadiran putra presiden yang juga pemilik Markobar pun cukup menghibur. Penasaran dengan aksinya? Silakan tonton ya, saya nggak mau spoiler.

“Biasa Saja”/via TBS Films

Melenceng di awal-awal

Sesuai Aplikasi yang hendak menceritakan kehidupan dua sahabat pengendara ojek online rupanya cukup melenceng di awal-awal durasi. Film dibuka dengan perkenalan mereka secara naratif oleh Duras yang menjelaskan perbedaan mereka seperti bumi dan langit. Kasarnya, Pras terlahir tampan dan Duras mungkin kurang tampan.

Perkenalan tersebut rupanya berujung pada kehidupan keluarga masing-masing. Hal ini malah membuat pekerjaan ojek online yang mereka geluti dan segala yang terjadi saat mereka bekerja hampir nggak dijelaskan. Barulah setelah dua pertiga film berjalan, Sesuai Aplikasi memberikan gambaran bagaimana kehidupan para ojek online ketika di jalanan. Mulai dari dimarahi pelanggan, pesanan makanan yang dibatal padahal terlanjur dibeli, hinggga obrolan dan banyolan konyol sesama ojek online.

Namun, gambaran yang dihadirkan nggak lagi menjadi fondasi bagi perkembangan konflik film itu sendiri. Gambaran yang ada menjadi usang karena nggak dibangun untuk mendukung karakter tokoh. Bahkan karakter utama sempat menjadi bias ketika fokus film beralih pada kejahatan yang dilakukan oleh Sakti (Ernest Prakasa) dan istrinya.

Mereka hampir jadi pemeran utama di film ini/via TBS Films

Andai saja Sesuai Aplikasi bisa fokus pada dua karakter utama, kehidupan keluarga, dan pekerjaan mereka, dibanding hanya menyuguhkan kelucuan yang terlalu keras untuk dihadirkan, mungkin ia akan lebih terasa dekat dengan penonton.

Sejatinya, Sesuai Aplikasi dibangun dengan materi-materi yang menarik, semisal fenomena meet & greet berbayar yang dilakukan oleh Bowo Tiktok. Sayang itu kurang dijahit dengan rapi. Padahal sang sutradara pernah melakukannya dengan baik di The Underdogs (2017).

- Advertisement -
Shares 8

Komentar:

Komentar