Review Orang Kaya Baru: Komedi Berbalut Isu Sosial yang Tampil Garing

Tingkah laku OKB itu... bikin gemas-gemas gimana gitu

Hidup manusia itu berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang hidup dengan bergelimangan harta, ada pula yang sekadar buat makan saja susah setengah mati. Tapi nasib orang bisa berubah. Mereka yang tadinya hidup serba kekurangan bisa saja mendadak jadi orang kaya.

Dan inilah pertanyaan menariknya: jika dalam satu malam mereka mendadak jadi orang kaya baru, apa yang akan mereka lakukan?

Kisah keluarga miskin yang mendadak kaya dan punya duit miliaran ini bisa kamu saksikan di film terbaru Screenplay Films & Legacy Pictures, Orang Kaya Baru.

Pembuka film yang membosankan

Kepala ikan memang enak kok/via Screenplay Films

Film ini berjalan dari sudut pandang Tika (Raline Shah), anak kedua dari pasangan Bapak (Lukman Sardi) dan Ibu (Cut Mini). Tika nggak hanya menjalani fungsi sebagai tokoh utama, tapi juga sebagai narator. Dari Tika pula penonton akan diajak berkenalan dengan dua tokoh lain yang nggak kalah penting.

Tokoh yang pertama adalah Duta (Derby Romero), kakak dari Tika yang tengah dilanda dilema karena pertunjukkan teaternya belum juga mendapat sponsor. Sementara tokoh yang kedua, Dodi (Fatih Unru), merupakan adik Tika yang sering mengalami perundungan oleh teman-temannya di sekolah.

Karena berasal dari keluarga yang kurang mampu, tiga bersaudara ini dihadapkan pada masalah pribadi yang, tentu saja, berkaitan dengan uang. Tika dituduh mencuri hape milik temannya; Duta direcoki oleh sponsor teaternya; dan si bungsu Dodi diledek oleh teman-temannya karena alas sepatunya copot.

Jika kita berpaling pada teori yang bilang bahwa pembuka film adalah jalan untuk menancapkan emosi bagi penonton agar terus mengikuti jalan ceritanya, Orang Kaya Baru nggak sepenuhnya berhasil. Pembukanya cukup membosankan dan nggak bikin saya peduli sama kemisikinan para karakternya, terutama sang tokoh utama yang nggak digambarkan dengan meyakinkan sebagai bagian dari keluarga miskin.

Apakah keluarganya Tika begitu bosan menjadi orang miskin, sehingga filmnya ikut-ikutan tampil membosankan di awal?

Materi komedi yang dekat dengan keseharian

Di Mall, si Dodi ini lupa bayar. Jadi belanjanya pindah ke Bukalapak/via Screenplay Films

Orang Kaya Baru berubah haluan setelah tokoh Bapak meninggal dan mewariskan duit yang banyak. Setelah mereka menjadi kaya raya, Orang Kaya Baru memang tampil menyenangkan. Salah satunya berkat materi komedi yang dihadirkannya banyak dekat dengan keseharian. Joko Anwar selaku penulis naskah memang piawai dalam membuat materi yang membumi sebagaimana pernah ia lakukan dulu di awal kariernya lewat Arisan! (2003) dan Janji Joni (2005).

Dari materi komedi yang ada, orang yang bernasib sama dengan Tika bakal merasa terhubung dengan apa yang kita saksikan di layar. Nggak percaya? Saya juga merasa terhubung sama kondisi keluarga Tika di film ini.

Dan coba kamu tanya pada diri sendiri. Pernahkah kamu protes ketika melihat es teh (yang namanya diubah menjadi Ice Tea) di menu dengan harga Rp30 ribu? Atau mungkin kamu pernah nyusup ke pesta pernikahan orang lain demi makanan? Materi seperti itulah yang disajikan dalam Orang Kaya Baru.

Cut Mini dan Fatih Unru yang paling memukau

Kita punya pemeran anak yang bukan sekadar pelengkap dalam film. Fatih Unru memainkan emosi dengan rentang yang cukup luas dan natural/via Screenplay Films

Materi komedi yang menarik hanyalah sebatas kertas. Ia nggak akan jadi apa-apa tanpa kekuatan akting para aktornya. Dari Orang Kaya Baru kita bisa ambil kesimpulan bahwa untuk berlakon komedi itu sulit, nggak semudah bermain drama seperti yang dilakukan Ibu di teras bank ketika pertama kali mendapat uang banyak.

Mungkin ini sebabnya mengapa banyak film komedi Indonesia yang akhirnya mengandalkan komika untuk menampilkan kelucuan, dibanding memoles aktor murni untuk bisa berakting komedik.

Dari sederetan aktor yang ada di Orang Kaya Baru, hanya Cut Mini dan Fatih Unru yang mampu menaklukkan perannya dengan sangat baik. Transisi mereka berdua dari orang miskin menjadi kaya terlihat jelas. Dan saya sangat bersyukur karena kedua karakter ini punya banyak porsi tampil secara berbarengan. Alhasil kebosanan saya di awal pun terobati.

Beberapa contohnya adalah saat Ibu dan Dodi membagi-bagikan uang kepada pengamen, lalu melihat aksi mereka itu masuk televisi, hingga ketika mereka diwawancara.

Penutup yang terkesan dipaksakan

Tokoh ini hanya difungsikan agar Tika nggak naik metromini lagi/via Screenplay Films

Saya nggak akan membahas terlalu banyak mengenai apa yang mereka lakukan ketika jadi orang kaya. Karena, saya lihat para aktor di Orang Kaya Baru seperti asyik sendiri dalam memerankan karakter mereka, ketimbang memberikan impresi mendalam bagi penonton.

Kehebohan mereka dimulai ketika membeli mobil baru, padahal nggak ada dari mereka yang bisa nyetir. Aksi mereka berlanjut dengan membeli rumah baru, hingga membeli dua smartphone hanya untuk buka Youtube doang.

Namun semua kehebohan tersebut harus terhenti begitu saja ketika film menyentuh akhir durasi.

Ketika karakter Bapak meninggal, ia menitipkan uang warisannya pada pengaracaranya. Dan pengacara tersebut menunjukkan pesan terakhir dari Bapak pada keluarganya lewat beberapa video. Pada mulanya, video wasiat tersebut mengandung pesan yang sama. Tapi di video terakhir, entah kenapa pesan wasiat dari Bapak justru sangat berkontradiksi dengan pesan-pesannya yang sebelumnya.

Apa yang ditunjukkan dalam video terakhir itu seperti menghilangkan perkembangan cerita yang sudah dibangun dengan baik sebelumnya. Semuanya runtuh karena satu video itu!

Ending seperti ini sering ditemui pada film horor/thriller yang disutradarai Joko Anwar, seperti Pintu Terlarang, Kala, dan Modus Anomali. Dan di genre thriller, mungkin hasilnya pun jadi twist yang ciamik. Tapi, jika ending macam itu diterapkan pada genre drama seperti ini — di mana pembangunan karakter-karakternya telah disusun rapi — akhir dari Orang Kaya Baru terasa mengkhinati pembangunan karakter tersebut.

Dengan kehadian video Bapak, membuat sudut pandang dalam ini jadi nggak konsisten/via Screenplay Films

Tapi satu hal yang harus diketahui, Orang Kaya Baru nggak disutradarai oleh Joko melainkan oleh Ody C. Harahap. Ody yang saya favoritkan berkat arahannya yang kuat di film- film seperti seperti Kapan Kawin?, Me vs Mami, dan Sweet 20 seakan melemah di film ini. Adegan demi adegan, terutama yang ada di paruh akhir, bikin saya bingung harus bereaksi seperti apa. Entah saya harus tertawa sedih kondisi keluarga Tika yang sengsara, atau saya harus prihatin pada komedi yang sedang mereka perankan.

Sejatinya Orang Kaya Baru memiliki amunisi sebagai komedi satir yang menggigit. Tapi satir tidaklah cukup hanya dengan bermodalkan materi, ia juga harus punya rasa bagi penontonnya. Menonton komedi satir bukan berarti kening kita harus berkerut karena berpikir keras, tapi akibatnya kita kesulitan menikmati komedinya.

Contohnya Hijab. Berkebalikan dari Orang Kaya Baru, film komedi satir karya Hanung Bramantyo tersebut tetap mampu memberikan rasa tanpa melupakan tujuan utamanya.

Komentar:

Komentar