Selain Tangisan, Film Keluarga Cemara Juga Menyisakan 5 Kejanggalan Ini

Harta yang paling berharga adalah... (GoJek)

“Aku sampai nangis. Jarang-jarang lho aku nangis.”

“Setelah sekian lama nonton film Indonesia, akhirnya gue meneteskan air mata.”

“Tersentuh oleh kehangatannya. Harmonis, super baper!”

Kira-kira begitulah mayoritas komentar penonton setelah menyaksikan Keluarga Cemara. Banyak dari mereka yang mengaku menangis tersedu-sedu, hingga menyarankan membawa tisu yang banyak. Jika salah satu ukuran keberhasilan film adalah mampu menyentuh kalbu penontonnya, Keluarga Cemara tentu bisa dibilang sukses melakukan tugasnya.

Tapi di antara tangisan yang hadir, saya merasakan beberapa kejanggalan yang cukup mengganggu saya ketika menonton Keluarga Cemara. Sesekali membahas kejanggalan dari film yang banyak dipuji mungkin terdengar menarik, daripada hanya membahas keanehan film seperti Arwah Tumbal Nyai.

1. Abah berbohong untuk apa ya?

Sebuah rumah yang jauh dari tetangga desa/via youtube.com/visinema

Keluarga Cemara bercerita tentang Abah (Ringgo Agus Rahman) yang ditipu iparnya sendiri hingga jatuh bangkrut. Masalah ini bikin Abah dan keluarganya yang terdiri dari Emak, Euis, dan Ara harus mengungsi sementara ke tempat yang jauh dari Jakarta.

Sebagai “tempat pengungsian”, terpilihlah sebuah desa yang rimbun tempat tinggal orangtua Abah. Di desa tersebut masih ada satu rumah yang diwariskan oleh orangtua Abah untuknya. Di sisi lain, Abah dan keluarga masih berharap masalahnya di Jakarta bisa cepat selesai dengan bantuan pengacara ternama.

Mujur tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih. Abah mendapati kenyataan kasusnya nggak bisa beres. Alhasil mereka nggak bisa mendapatkan kembali rumah dan seluruh isinya. Padahal menurut Abah, harta mereka semuanya ada di dalam rumah itu.

Namun ketika mendengar kabar ini, Abah yang berada di atas pohon (sementara Emak, Euis, dan Ara ada di bawahnya) terpaksa berbohong mengenai kasusnya yang nggak selesai. Dari ekspresinya sih, saya menyimpulkan Abah berbohong karena nggak ingin melukai harapan keluarganya yang masih menginginkan rumah mereka kembali. Abah so sweet banget ya .

Abah berbohong dan anak-anak happy/via youtube.com/visinema

Tapi cukup disayangkan, baru saja Abah berbohong adegan selanjutnya malah memperlihatkan Abah yang bercerita tentang kebenaran kabar tersebut. Jadi untuk apa ya Abah berbohong, kalau dengan secepat kilat semuanya dibuka begitu saja di adegan berikutnya?

2. Seberapa parah luka di kaki Abah?

Abah yang terjerumus jurang kebangkrutan terus mencari cara untuk mendapat penghasilan (baca: fulus). Jadi Abah pun memutuskan melamar kerja. Namun baru saja sekali ditolak, dengan alasan perusahaan tersebut hanya membutuhkan pegawai yang belum menikah dan masih muda, Abah sudah putus asa. Ingat baru dapat sekali penolakan!

Melihat kegagalan Abah, Emak langsung berinisiatif menyerahkan mas kawinnya untuk digunakan. Tapi ya… Abah sebagai kepala keluarga menolaknya.

Merasa putus asa, takdir membawa Abah jadi kuli bangunan dengan penghasilan yang tak seberapa. Naasnya di sela-sela kerja, Abah terjatuh. Kakinya pun sampai terluka. Saya lupa kaki sebelah kiri atau sebelah kanan ya?

Abah terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Abah tenggelam dalam lautan luka dalam. Abah tersesat dan tak tahu kerja apa, akhirnya nge-Gojek aja/via youtube.com/visinema

Semenjak terluka dan diperban, otomatis Abah nggak berdaya dong. Konflik makin bertambah ketika Emak ternyata hamil lagi. Aduh… sudah jatuh tertimpa anak pula.

Tapi kerena Abah orangnya bijaksana, ia menenangkan Emak dengan romantis seraya bilang bahwa setiap anak punya rezekinya masing-masing.

Singkat cerita, adegan selanjutnya memperlihatkan kehamilan Emak (Nirina Zubir) yang semakin membesar. Mungkin sekitar enam atau tujuh bulan. Tapi anehnya, kaki Abah masih saja diperban. Lho kok bisa begitu? Seberapa parahkah luka di kaki Abah hingga harus diperban selama tujuh bulan? Padahal waktu jatuhnya pun Abah nggak dibawa ke rumah sakit.

3. Emak yang mau mengajari Euis jualan opak, tapi nggak jadi

Sepanjang jalan kenangan kita kan selalu bergandeng tangan/via youtube.com/visinema

Selama Abah mendekam karena luka hatinya kakinya, Emak berinisiatif jualan opak (padahal lebih menarik kalau jualan besi bekas). Emak pun menyuruh Euis membawa opaknya ke sekolah. Tapi Euis yang anak Jekardah bagian Selatan, mungkin merasa malu jualan opak ke sekolah. Apalagi beberapa temannya tahu Euis pindah ke desa karena kondisi ekonomi keluarganya terpuruk.

Emak mungkin menyadari hal itu. Makanya Emak berjanji bakal mengajari Euis cara jualan opak. Tapi sampai film selesai, nggak ada tuh adegan Emak menularkan ilmu bisnis ke Euis. Malahan Euis jadi dibantu oleh teman-temannya. Sedangkan Emak? Ia lebih sibuk berbisnis antah berantah dengan “loan woman“.

Hadeuh, dasar Emak ini ya. Pemberi harapan palsu! Mungkin Emak lupa kalau peran ia sebagai pedagang itu ada di Liam & Laila, bukan di Keluarga Cemara.

4. Berapa opak yang terjual dalam penjualan perdana?

Euis mah dari awal judes dan ngambekan mulu ah, nggak rame/via youtube.com/visinema

Penasaran nggak kamu berapa bungkus opak yang dijual Euis (Adhisty Zara) di sekolahnya? Yuk, mari kita hitung secara matematis.

Harga opak pada awalnya adalah Rp2.000. Tapi, opak Euis kemudian dijual teman-temannya seharga Rp3.000. Kata teman-temannya, sayang kalau cuma dijual dua ribu. Alhasil opak pun laku terjual.

Begitu pulang ke rumah, Euis menyerahkan uang sebesar Rp62 ribu. Kalau dibagi, total opak yang laku berjumlah antara 20 atau 21 bungkus.

Kok bisa? Ya karena kalau 62.000 dibagi 3.000, hasilnya jadi 20,67. Dan itu bukan bilangan bulat. Jadi kalau opak yang terjual 20 bungkus, Euis kelebihan Rp2.000. Sementara kalau terjual 21 bungkus, Euis punya kekurangan  uang Rp1.000.

Jadi berapa opak yang terjual? Mungkin yang terjual 21 bungkus, tapi duit seribunya dipakai Euis buat jajan es lilin yang seenaknya muncul di tengah-tengah film.

5. Cemara yang nggak pernah jalan kaki

“Emak ngompol.” Gemes deh sama Ara ini/via youtube.com/visinema

Masih ingat kan ketika di Asal Kau Bahagia ada narasi akhir yang menceritakan Ali dan Aurora sebagai pasangan yang beruntung di sekolah. Padahal nggak ada satu adegan pun yang kasih tahu mereka pernah sekolah. Beberapa penonton pun protes (termasuk saya), karena narasi tersebut jadi nggak bisa dipercaya.

Serupa hal tersebut, maka protes pun harus dilayangkan pada Keluarga Cemara. Sila ingat-ingat lagi dialog Abah yang kurang lebih bunyinya seperti ini: “Abah tahu Ara ke sekolah jalan kaki.”

Tapi, Keluarga Cemara nggak memperlihatkan sekalipun Ara jalan kaki ke sekolah.

Aah… gagal tersentuh deh jadinya.

19 Shares

Komentar:

Komentar